Jakarta, CNBC Indonesia - Awal bulan ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan kebijakan tarif resiprokal yang membuat geger satu dunia. Sejumlah negara dikenakan tarif tersebut, termasuk Indonesia yang dibebankan 32%.
Lalu apa sebenarnya tarif resiprokal?
"Resiprokal, artinya mereka melakukannya kepada kita dan kita melakukannya pada mereka," kata Trump dikutip dari CBS News, Sabtu (5/4/2025).
Pungutan baru itu, dia menyebutnya untuk meningkatkan manufaktur. Selain itu juga menyamakan kedudukan dengan negara lain yang membebankan tarif lebih tinggi ke AS daripada yang dilakukan sebaliknya.
CBS News menjelaskan tarif ini mengenakan pajak yang sama untuk impor AS seperti yang dibebankan negara lain pada ekspor AS berdasarkan produknya. Berbeda dengan yang dilakukan sekarang, saat AS dan mitra dagang menetapkan tarif berbeda untuk produk yang sama.
Misalnya Jerman membebankan tarif lebih tinggi untuk kendaraan buatan AS. Sebaliknya Washington memberikan tarif lebih rendah untuk mobil keluaran Jerman.
"Resiprokal artinya jika suatu negara membebankan tarif lebih tinggi dari yang kami kenakan pada produk tertentu, kami akan menaikkan pada tingkat tersebut," kata kepala kebijakan dan advokasi Groundwork Collaborative, Alex Jacquez.
Kebijakan ini bukan tanpa cela. Sebab akan sangat rumit menentukan tarif pada berbagai produk.
Dia menjelaskan penerapannya pada tiap kategori produk dengan setiap mitra dagang tidak layak.
Sementara pakar lain mengatakan tujuan penerapan tarif resiprokal ini bukan untuk mengalihkan produksi ke AS atau pemasukan negara. Sebaliknya sebagai cara untuk membuat kesepakatan dagang yang disetujui pemerintahan Trump.
Perhitungan tarif Trump juga bisa berdampak besar pada AS di masa depan. Pemerintah AS mengenakan tarif sekitar setengah dari tarif bea yang dikenakan negara lain.
Jacquez mengatakan pendekatan itu berdampak pada banyak produk. Sebab disamakan berdasarkan negara, bukan lagi perhitungan impor atau ekspornya.
"Di sana komplikasi akan muncul, Anda bisa melihat skenario saat negara-negara melakukan pembalasan," tuturnya.
(ayh/ayh)
Saksikan video di bawah ini: