Baru! Logam Tanah Jarang di Wilayah RI Ini Bukan Cuma Mineral Ikutan

7 hours ago 11

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi XII DPR RI mengungkapkan temuan potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) di Sulawesi yang berbeda dengan cadangan yang selama ini dikenal di Bangka Belitung.

Adapun, apabila di Bangka Belitung logam tanah jarang ditemukan sebagai mineral ikutan dari penambangan timah, di Sulawesi komoditas strategis tersebut disebut ditemukan sebagai mineral utama. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya.

Menurut Bambang, selama ini salah satu sumber logam tanah jarang di Indonesia berasal dari Bangka Belitung. Namun, keberadaannya diperoleh sebagai hasil sampingan dari aktivitas penambangan timah.

"Di Bangka Belitung ini kan mineral utamanya adalah timah. Tetapi ketika proses menambang timah, didapat beberapa mineral-mineral ikutan. Dan di dalam salah satunya ada xenotim, kemudian juga ada juga seperti apa namanya, monasit. Yang ternyata di dalam monasit mengandung logam tanah jarang," ujar Bambang kepada CNBC Indonesia dalam Economic Update, dikutip Rabu (24/6/2026).

Namun demikian, ia mengungkapkan pihaknya menerima laporan mengenai keberadaan logam tanah jarang di Sulawesi yang memiliki karakteristik berbeda. Di wilayah tersebut, mineral strategis itu disebut ditemukan langsung sebagai mineral utama.

"Di sana Badan Industri Mineral juga sudah mendapat, atau Perminas ya, sudah mendapat IUP dari Kementerian ESDM terkait dengan Logam Tanah Jarang. Jadi di sana katanya ada satu daerah ketika dilakukan pertambangan logam tanah jarang itu didapat langsung sebagai mineral utama. Ya apapun itu, intinya kita punya," kata Bambang.

Sebelumnya, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) bersiap untuk membangun pabrik pengolahan mineral tanah jarang yang akan dimulai melalui groundbreaking pada 20 Mei 2026. Pabrik mineral yang diburu dunia ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto.

Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro menjelaskan pembangunan pabrik ini menjadi tonggak baru bagi perusahaan, mengingat selama ini pengolahan mineral tanah jarang belum pernah dilakukan.

"Dan ini yang tantangan paling utama karena pemerintah sekarang Bapak Presiden sudah bahkan yang paling dekat tanggal 20 Mei memerintahkan kami untuk groundbreaking untuk proyek pabrik mineral tanah jarang," kata Restu dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, dikutip Senin (6/4/2026).

Restu membeberkan, Prabowo telah memberikan arahan langsung agar proyek ini segera direalisasikan, dengan target percepatan monetisasi. Setidaknya, dalam waktu paling lambat dua tahun setelah pembangunan dimulai, pabrik tersebut sudah mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi.

"Groundbreakingnya akan dilakukan nanti tanggal 20 Mei dan Pak Presiden sudah memerintahkan harus monetisasi selama paling cepat atau paling lambat dua tahun harus ada produk monetisasinya. Artinya sudah bisa menghasilkan uang untuk negara," ujarnya.

Menurut dia, pengelolaan mineral tanah jarang merupakan hal yang relatif baru bagi perusahaan. Namun demikian, pihaknya optimistis dapat mengembangkan sektor tersebut dengan berbekal pengalaman puluhan tahun dalam mengelola komoditas timah.

"Hanya yang dibutuhkan adalah rasa pede untuk siap dan berani mengelola karena itu memang nilainya luar biasa," katanya.

Adapun, nilai ekonomi mineral ikutan timah berpotensi meningkat hingga puluhan kali lipat apabila berhasil diolah menjadi produk bernilai tinggi. Misalnya seperti untuk kebutuhan pembangkit listrik, energi surya, hingga bahan baku kendaraan listrik.

"Dan ini tantangan bagi kami di PT Timah. Untung kami beruntung sekarang ada partner kami yang sebelumnya kami puluhan tahun sendirian sekarang sudah ada Perminas yang dibentuk oleh pemerintah dalam beberapa bulan ini dan sudah mulai bersama dengan kami untuk mengeksekusi program-program pemerintah," katanya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |