Ayah-Ibu Jangan Ucap Ini Saat Tahu Anak Bohong, Pakai Kalimat Lain

5 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Mengetahui anak tidak berkata jujur bisa memicu berbagai reaksi dari orang tua. Rasa kecewa, marah, atau khawatir sering kali membuat orang tua spontan melontarkan pertanyaan dengan nada menuduh. Padahal, respons semacam itu justru berpotensi membuat anak semakin tertutup.

Dalam situasi tertentu, anak juga dapat memilih mempertahankan kebohongannya ketika merasa tertekan atau terpojok. Karena itu, cara orang tua merespons menjadi hal penting agar anak tetap merasa aman untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Mengutip Beautynesia, psikolog menyebut ada pendekatan yang dapat digunakan orang tua ketika memiliki alasan kuat untuk menduga anak sedang berbohong.

Alih-alih mengajukan pertanyaan yang seolah-olah menguji, orang tua disarankan memberi ruang kepada anak untuk menjelaskan kejadian dari sudut pandangnya.

Kalimat yang Disarankan Psikolog

Psikiater klinis bersertifikat, Dr. Tamir Aldad, menyarankan orang tua menggunakan kalimat:

"Ayah/Ibu sudah tahu apa yang terjadi. Ayah/Ibu hanya ingin mendengarnya langsung darimu."

Menurut Aldad, pendekatan tersebut dapat membantu menghilangkan kesan bahwa anak sedang dijebak untuk memberikan jawaban tertentu. Ia merupakan CEO klinik kesehatan mental Mindful Care.

Kalimat tersebut juga tidak secara langsung menuduh anak sebagai pembohong. Sebaliknya, orang tua menunjukkan bahwa mereka mengetahui situasinya sekaligus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan kejadian dengan jujur.

"Perubahan pendekatan ini jauh lebih penting daripada yang disadari banyak orang karena mengubah apa yang sebenarnya diminta dari anak. Mereka tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara mengakui atau menyangkal. Mereka justru diberi kesempatan untuk berkata jujur kepada seseorang yang sudah mengetahui fakta sebenarnya," kata Aldad.

Hindari Pertanyaan yang Terasa Menjebak

Saat melihat sesuatu yang tidak beres, orang tua mungkin spontan bertanya, "Apakah kamu yang melakukan ini?" Namun, menurut psikolog klinis bersertifikat Dr. Jenny Yip, pertanyaan tersebut justru dapat membuat anak merasa sedang menghadapi sebuah ujian.

Yip mengatakan anak dapat dengan cepat memahami bahwa pertanyaan tersebut bukan sekadar upaya mencari informasi. Ketika merasa sedang diuji, perhatian anak dapat beralih dari upaya berkata jujur menjadi mencari cara agar terbebas dari situasi yang dianggap mengancam.

Yip, yang juga penulis buku Hello Baby, Goodbye Intrusive Thoughts, menjelaskan bahwa perkembangan otak anak berlangsung secara bertahap. Mereka masih belajar mengendalikan impuls, mengelola emosi, sekaligus mempertimbangkan dampak dari tindakan yang dilakukan.

Ketika menghadapi ancaman berupa hukuman, rasa kecewa dari orang tua, atau kemungkinan kehilangan kedekatan dengan orang yang mereka sayangi, respons bertahan hidup anak dapat lebih dominan dibandingkan kemampuan mereka untuk berpikir secara rasional.

Karena itu, Yip menyarankan orang tua tidak mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui. Sebagai gantinya, orang tua dapat menyampaikan fakta yang terlihat dan meminta anak menjelaskan apa yang terjadi.

Misalnya, ketika menemukan lampu pecah, orang tua bisa mengatakan:

"Ibu/Ayah melihat lampunya pecah. Bantu Ibu/Ayah memahami apa yang terjadi."

Menurut Yip, pendekatan seperti ini membuat anak lebih terdorong memberikan penjelasan daripada secara otomatis menyangkal tuduhan.

Jangan Membuat Anak Merasa Selalu Dicurigai

Aldad menambahkan bahwa anak pada dasarnya cenderung menghindari ancaman yang dirasakan dalam waktu dekat dibandingkan memikirkan konsekuensi yang mungkin muncul di kemudian hari.

Karena itu, pertanyaan yang bernada menjebak dapat membuat anak memilih berbohong untuk menghindari konsekuensi langsung.

Jika pola komunikasi seperti ini terus berulang, hubungan orang tua dan anak juga dapat terdampak. Anak bisa merasa setiap percakapan mengenai kesalahan merupakan upaya untuk menjebaknya, bukan kesempatan untuk berbicara secara terbuka.

Padahal, membangun rasa aman dalam komunikasi menjadi bagian penting agar anak terbiasa mengakui kesalahan dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan mengubah cara bertanya dari menuduh menjadi mengajak anak menjelaskan, orang tua dapat menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk membangun kejujuran sekaligus menjaga kepercayaan dalam hubungan keluarga.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |