AS Respons China 'Kepung' Taiwan

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) merespons keras latihan militer besar-besaran China di sekitar Taiwan yang mensimulasikan pengepungan pulau tersebut. Washington menilai langkah Beijing hanya akan meningkatkan ketegangan kawasan secara tidak perlu.

Paman Sam mendesak China menghentikan tekanan militernya terhadap Taipei. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menegaskan aktivitas militer dan retorika China berpotensi merusak stabilitas regional.

"Aktivitas militer dan retorika China terhadap Taiwan dan negara-negara lain di kawasan itu meningkatkan ketegangan secara tidak perlu," ujar Pigott dalam pernyataannya pada Kamis (1/1/2026), seperti dikutip AFP.

"Kami mendesak Beijing untuk menahan diri, menghentikan tekanan militernya terhadap Taiwan, dan sebaliknya terlibat dalam dialog yang bermakna," tambahnya.

Pernyataan tersebut menyusul latihan militer China pada Senin dan Selasa pekan ini, yang melibatkan peluncuran rudal serta pengerahan puluhan jet tempur, kapal angkatan laut, dan kapal penjaga pantai. Beijing menyebut manuver itu sebagai simulasi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan.

Pemerintah Taiwan mengecam latihan tersebut sebagai tindakan "sangat provokatif". China sendiri mengklaim Taiwan yang demokratis sebagai bagian dari wilayahnya dan berulang kali menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mencaplok pulau itu.

Pigott menegaskan kembali posisi AS yang selama ini mendukung stabilitas kawasan. Ia mengatakan "Amerika Serikat mendukung perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan menentang perubahan sepihak terhadap status quo, termasuk dengan kekerasan atau paksaan".

Sikap Departemen Luar Negeri itu kontras dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump. Ia mengaku tidak terlalu khawatir dengan latihan tembak langsung China tersebut dan meragukan Beijing akan benar-benar melancarkan invasi.

"Saya memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Xi. Dan dia belum memberi tahu saya apa pun tentang itu," kata Trump kepada wartawan.

"Saya tidak percaya dia akan melakukannya," tambahnya lagi.

Trump juga menilai latihan angkatan laut China di kawasan tersebut bukan hal baru. Mereka, ujar Trump, telah melakukan latihan angkatan laut selama 20 tahun di daerah itu.

"Sekarang orang-orang menanggapinya sedikit berbeda," ujarnya.

Latihan terbaru China ini terjadi setelah pemerintahan Trump menyetujui paket penjualan senjata senilai US$11 miliar kepada Taiwan. Selama beberapa dekade, AS berkomitmen membantu kemampuan pertahanan diri Taiwan, meski tetap bersikap ambigu soal kemungkinan keterlibatan langsung militernya jika terjadi invasi.

Manuver kali ini menjadi putaran besar keenam latihan militer China di sekitar Taiwan sejak 2022. Operasi awal terjadi ketika kunjungan Ketua DPR AS saat itu, Nancy Pelosi, ke Taipei memicu kemarahan Beijing.

(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |