Amerika Siaga, Waswas Iran Menyusup Picu Huru-Hara

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri keuangan Amerika Serikat meningkatkan kesiagaan atas potensi serangan siber setelah Amerika Serikat memulai perang dengan Iran.

Aksi serangan udara yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhir pekan lalu telah membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Iran kemudian merespons agresi AS dan Israel menggunakan rudal dan drone mengincar target aset milik AS di negara-negara Arab.

Pecahnya perang meningkatkan kekhawatiran di AS atas serangan siber oleh Iran terhadap infrastruktur di AS, termasuk operasi perbankan.

"Kami terus memantau situasi terkini dengan fokus terhadap resiliensi operasional, yang merupakan fondasi dari integritas dan stabilitas pasar modal AS," kata Todd Klessman dari SIFMA.

Menurut penilaian intelijen AS yang dikutip Reuters, hacker yang punya hubungan dengan Iran bisa melakukan serangan siber level rendah di jaringan internet AS. Contoh serangan siber level rendah adalah serangan DDoS, yaitu membanjiri server sehingga kewalahan dan berhenti beroperasi.

Menurut laporan dari Financial Services Information Sharing and Analysis Center (FS-ISAC), sektor finansial adalah target utama serangan DDoS sepanjang 2024. Serangan tersebut, antara lain, dilakukan oleh hacker aktivis di tengah perang Hamas-Israel dan Rusia-Ukraina.

Selain DDoS, serangan lain yang ditakutkan adalah ransomware yaitu "penyanderaan" data dengan sasaran permintaan tebusan. Pada 2023, serangan ransomware terhadap unit broker bak ICBC menyebabkan perdagangan di pasar obligasi AS terganggu,

(dem/dem)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |