Jakarta -
Aipda Iwan Haryanto bertahun-tahun membina para petani di Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel) sehingga sektor pertanian setempat berdampak pada perekonomian desa, dan ini selaras dengan cita-cita Ketahanan Pangan yang menjadi program prioritas pemerintah. Aipda Iwan mengajari petani desa cara menanam sejumlah jenis tanaman, cara pemupukan hingga penyemprotan.
Seorang petani di Indralaya, Ogan Ilir, bernama Wawan mengusulkan Aipda Iwan menjadi salah satu kandidat Hoegeng Awards 2026. Wawan mengaku banyak belajar cara bercocok tanam jagung dan melon dari Aipda Iwan, hingga harga jual meningkat.
"Beliau baik, dia pengertian, membimbing kami sebagai petani, baiklah kepribadiaannya," kata Wawan kepada detikcom, Selasa (3/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wawan sudah mengenal Aipda Iwan sejak 6 tahun yang lalu. "Contohnya banyaklah, satu sering ngajarin cara-cara penanaman jagung, cara pemupukan, cara penyemprotan," jelasnya.
Wawan pun terkesan dengan Aipda Iwan yang ternyata merakit mesin perontok jagung. Hadirnya mesin buatan Aipda Iwan mempermudah petani. Sebelumnya ada mesin tersebut, petani memipil atau merontokkan jagung secara manual karena membeli mesin pabrikan harganya mahal.
"Iya ada mesin pemipil jagung. Sangat membantu, kami petani. Membantu, sangat membimbing kami Pak Iwan-nya," cerita Wawan.
Petani yang memiliki 2 haktare lahan garapan ini menyebut Aipda Iwan juga membantu penyerapan hasil panen jagung. Jagungnya kini diserap langsung oleh Bulog.
"Di Bulog, (jual ke sana) sudah lama jugalah, (harga) lebih tinggi. Petani juga senang kalau harga di Bulog itu tinggi, sekitar Rp 6.400, kalau ke tengkulak sekitar Rp 5.000," jelas Wawan.
"Lumayanlah untuk petani ini kan, untuk ongkos-ongkos kami kan, makan-minum," sambung dia.
Aipda Iwan Haryanto membina petani untuk ketahanan pangan di Ogan Ilir, Sumsel (Foto: dok. Istimewa)
Asal Muasal Aipda Iwan Mahir Bertani
Bertani adalah hobi Aipda Iwan. Hobi ini digelutinya sudah belasan tahun.
"Setelah saya bertugas, saya memang hobi bertani, (ilmu bertani) dari orang tua," kata Aipda Iwan saat berbincang dengan detikcom, Selasa (3/2).
Iwan gencar menggarap berbagai macam tanaman sejak 15 tahun lalu. Mulanya mencoba tanam melon hingga mencoba tanam jagung.
Karena kerap menularkan ilmu pertanian ke petani lainnya, Aipda Iwan dipercaya sebagai pembina dan anggota dalam kelompok tani Serai Makmur Sejahtera saat ini. Oleh sebab itu dia menyambut gembira program Ketahanan Pangan.
"Kalau saya menggeluti pertanian ini sudah 15 tahun, jadi untuk tanam jagung sudah lama. Tapi untuk Ketahanan Pangan ya pada saat pemerintahan Pak Prabowo," terang Aipda Iwan.
Bersama kelompok taninya yang beranggotakan sekitar 20 orang, ia menggarap sekitar 30 hektare lahan yang ditanami dengan jagung dan melon.
Aipda Iwan Haryanto sedang memupuk tanaman jagung di Ogan Ilir, Sumsel (Foto: dok. Istimewa)
Upaya Tingkatkan Ekonomi Desa
Aipda Iwan bersyukur upaya di bidang pertanian ini bisa membantu perekonomian desa. Selama belasan tahun, Aipda Iwan mengaku telah membina lebih dari 100 petani hingga mereka mandiri.
"Alhamdulillah kalau 100 orang lebih sudah banyak ada yang mandiri, alhamdulillah sudah ada yang berhasil nanam melon, nanam jagung. Bahkan barusan Desa Senural, yang ada di Kabupaten Ogan Ilir ini pengen sharing, sama-sama belajar," imbuhnya.
Aipda Iwan menyebut dalam satu bulan, petani bisa menghasilkan Rp 3-4 juta per bulan. Dia menyebut banyak warga yang beralih ke bidang pertanian karena bisa memiliki penghasilan tetap.
"Alhamdulillah sudah bisa mencukupi untuk anak-anak sekolah. Jadi banyak profesi seperti tukang, itu ada yang berubah jadi petani. Mereka nggak mau lagi nukang, mereka milih bertani, karena hitungannya baginya 3,5 bulan, hasilnya sekian, dihitung-hitung enak dia bertani," kata dia.
"Kalau dibagi untuk jagung ini, dalam satu hektare itu mereka masih dapat duit sekitar Rp 14 juta, rata-rata lebih kurang lebih Rp 3 juta per bulan, itu pasti hari-hari mereka kerja, kalau nyari kerjaan lain, kadang-kadang dua hari nggak kerja, ini terhitungnya setiap hari dapat pekerjaan," sambung dia.
Proses pengiriman jagung ke Bulog oleh kelompok tani Aipda Iwan Haryanto di Ogan Ilir, Sumsel (Foto: dok. Istimewa)
Nekat Bikin Dryer Jagung Hingga Utang Bank
Iwan mengatakan satu hektare lahan bisa menghasilkan sekitar 6 hingga 8 ton jagung setiap masa penen. Jagung itu kemudian dirontokkan, dikeringkan menggunakan mesin dryer atau oven yang dibuat manual oleh Aipda Iwan bersama kelompok tani.
"Di samping dari pertanian saya juga buat mesin dryer jagung buatan sendiri saya dan teman-teman. Jadi budgetnya lebih kecil dibanding kita beli pabrikan," kata Iwan.
Iwan mengungkap motivasi merakit mesin pengering jagung itu secara mandiri. Dia menyebut kualitas jagung bisa berkurang jika dijemur hanya mengandalkan sinar matahari, terlebih jika saat cuaca tidak menentu.
"Jadi saya berpikir, nekat buat oven, jadi mesin dryer ini sekitar 30 jutaan, jadi rumah-rumahan ini sama atapnya mungkin habis Rp 100 jutaan. Pada saat itu saya tidak punya modal, karena modal sudah diperbantukan ke petani," kata Iwan.
"Saya menghadap ke Pak Kapolres Ogan Ilir, saya minjam uang bank Rp 100 jutaan, alhamdulillah Pak Kapolres acc, kemudian saya cairkan uang saya dengan agunan SK. Saya buatkan oven, ya alhamdulillah bisa bermanfaat untuk kawan-kawan ini," ungkap Iwan.
Tempat pengering jagung yang dirakit oleh Aipda Iwan Haryanto di Ogal Ilir (Foto: dok. Istimewa)
Iwan mengatakan dryer tersebut bisa mengeringkan jagung hingga kadar air 14%, yang menjadi standar untuk penjualan ke Bulog. Dengan begitu, petani bisa mendapatkan harga jual yang lebih tinggi.
"Dalam penanaman jagung masih ada kendala, kendalanya jagung yang diterima Bulog kadarnya 14% untuk yang kering, dan kadar 20 untuk di lokasi petani, jadi kalau dijemur matahari kadang-kadang hujan," ucap dia.
Dryer Jagung Buatan Aipda Iwan Diborong Kapolda
Dryer berdaya tamping 10 ton ini berbentuk seperti rumah yang memiliki mesin pemanas. Sementara bahan bakar pemanas menggunakan kayu bakar.
"Banyak, bisa 10 ton. Makanya saya itu semangat, karena walaupun musim hujan seperti ini kami masih bisang meng-oven. Itu jagung yang sudah dipipil, itu kan kadar air masih tinggi, kita masukkan ke oven, setelah kadar sesuai dengan permintaan Bulog 14%, kemudian kita packing dan kita kirim ke Bulog," sebut Iwan.
Iwan mengatakan biasanya, sebanyak 10 ton jagung akan dijual ke Bulog setiap minggunya. Namun, penjualan akan tergantung dengan hasil panen.
"Pengiriman tergantung usia panen jagungnya, biasanya setiap minggu dan yang dikirim 10 ton per mobil," ucap dia.
Mesin pengering jagung rakitan Aipda Iwan ini juga sudah digunakan oleh petani di Ogan Komering Ulu Timur dan Ogan Komering Ulu Selatan. Aipda Iwan mengaku senang karena produk rakitannya ini bisa bermanfaat oleh petani di luar daerah.
"Mesin saya kemarin sudah dibeli juga oleh Kapolda Sumsel sebanyak 4 unit, sempat mesen sama saya dan saya buatkan alhamdulillah sudah beroperasi di Oku Timur dan Oku Selatan," ujar dia.
Dryer jagung yang dirakit oleh Aipda Iwan Haryanto di Ogan Komering Ulu Timur (Foto: dok. Istimewa)
Giliran Kapolri Borong Mesin Pipil Jagung Rakitan Iwan
Selain itu, Aipda Iwan bersama kelompok tani juga membuat mesin perontok jagung. Dia menyebut rakitan ini lebih murah jika dibandingkan dengan mesin yang diproduksi pabrik.
"Kami lagi menyisihkan gimana kita buat pertanian ini mudah, alat-alat kita rakit sendiri, alat penggilingan," ujar dia.
Aipda Iwan mengatakan alat perontok jagung ini sangat memudahkan pekerjaan. Karena alat ini bisa memisahkan jagung yang masih ada kulitnya hingga bersih menjadi biji jagung siap jual.
"Lengkap Rp 20 juta mesin pemipil multifungsi bisa memipil beserta kulit jagungnya," ucap dia.
Mesin perontok jagung dirakit oleh Aipda Iwan Haryanto di Ogal Ilir (Foto: dok. Istimewa)
Mesin perontok jagung ini, kata Aipda Iwan, sudah dipesan oleh Kapolri melalui Kapolda Sumsel. Mesin ini kemudian dibagikan untuk petani di Sumsel.
"Kalau Kapolri itu mesin pemipil jagung itu ada sekitar 15 yang dibeli Pak Kapolri melalui Pak Kapolda Sumsel. Kami yang rakit sama tim. Jadi mereka saya ajarin cara motong besi itu gimana, terus kita ajarin cara ngelas, ngajarin nyetel mesin," jelasnya.
Aipda Iwan membuat mesin tersebut secara otodidak. Iwan mengaku sudah menguasai ilmu dasar tentang mesin sejak lama dan dikombinasikan dari tutorial di YouTube.
"Jadi saya ini sembari lihat-lihat youtube, tapi saya basic sudah bisa mesin sama pengelasan. Saya gabungkan, ilmu yang petunjuk-petunjuk yang ada di YouTube sama dari kreatifitas kita," jelasnya.
Mesin perontok dan pengering jagung bikinan Aipda Iwan juga bisa digunakan secara gratis oleh petani di Ogan Ilir. Para petani hanya perlu mengisi bahan bakar.
"Kalau buat petani, nanti petani yang ngerjakan dia beli solar, bayar tenaga yang lain. Atau sistemnya kadang-kadang gantian, misalnya Ibu nanti saya bantu, begitu saya panen Ibu yang bantu. Tinggal beli solar paling solar habis 5-7 liter," ucap dia.
Bentuk Kelompok Wanita Tani
Selain membina petani, Aipda Iwan juga meberdayakan istri petani. Mereka diajarkan mengolah jagung menjadi pakan ternak.
"Saya juga membentuk KWT, kelompok wanita tani. Jadi memberdayakan istri-istri petani untuk usaha jagung pecah. Jadi jagung yang kami hasilkan selain disetor ke Bulog, kita giling lagi, kita buat mesin sendiri kita pecah untuk jadi pakan ternak ayam itu," kata dia.
Kelompok Wanita Tani (KWT) saat ini beranggotakan 12 orang termasuk istri Aipda Iwan. Para wanita tersebut ada yang mengolah jagung menjadi pakan ternak hingga melakukan pemasaran.
"Mereka beli (jagung) dengan petani kita, kemudian digiling, harga pembelian kalau kadar air lebih tinggi kan lebih murah. Dalam satu karung itu isinya 15 kg. Jadi kalau dihitung satu kilo mereka bisa jual harga Rp 8 ribu, dari keuntungan itu mereka digaji," ucap dia.
Aipda Iwan mengatakan satu karung isi 15 kg jagung halus untuk pakan ternak memiliki kisaran harga Rp 120 ribu. Produk akan dijual ke peternak hingga ke toko-toko pakan ternak.
"Mesinnya pun kita buatkan, karena untuk meminimalisir harga kalau mesin dibeli di luar mahal. Kalau bikin sendiri misalnya untuk pecah jagung, kalau di pasaran bisa Rp 15 juta, kalau bikin sendiri 5 juta, kita beli alat. Tenaga kan tenaga kita, jadi nggak minta upah," ucap dia.
Penggerak Ketahanan Pangan di Ogan Ilir
Kepedulian Aipda Iwan dalam bidang pertanian ini juga didukung oleh Polres Ogan Ilir. Kabag SDM Polres Ogan Ilir AKP Burnani mengatakan Aipda Iwan ditugaskan oleh Polres sebagai penggerak ketahanan pangan di Ogan Ilir.
"Dia ini penggerak daripada petani-petani untuk bercocok tanam jagung. Tadinya wilayah Ogan Ilir, padi, karet tidak ada yang nanam jagung, dialah memotor penggerak segalam macam," kata AKP Burnani kepada detikcom.
Burnani mengatakan Aipda Iwan ditugaskan menjadi penggerak ketahanan pangan sejak 2 tahun yang lalu. Kelompok tani yang dibina oleh Aipda Iwan juga menjadi percontohan di Ogan Ilir.
"Memang ada apa-apa dalam kategori baik kunjungan dari Mabes, termasuk Kapolda, bersama-sama dengan presiden untuk panen raya atau apa, nah itu di tempat pertanian kelompok mereka jadi percontohan masalah keberhasilan petani, keberhasilan tanam jagung," jelas dia.
AKP Burnani juga membenarkan bahwa mesin perontok jagung yang dibuat oleh kelompok tani Aipda Iwan di-support oleh Polri. Sebanyak 15 unit mesin perontok jagung kelompok tani tersebut dibeli oleh Polri untuk kemudian dibagikan ke petani setempat.
"Benar ada mesin pipil karya kelompok tani Serai Makmur Sejahtera. Ada 15 unit yang dibeli Kapolri melalui Kapolda, kemudian mesin pipil tersebut oleh Kapolri melalui Kapolda diberikan kepada para petani jagung sekitar," udap AKP Burnani.
Mesin perontok jagung rakitan Aipda Iwan Haryanto yang diborong oleh Kapolri (Foto: dok. Istimewa)
(lir/aud)
















































