AI Bawa Bahaya Besar, Banyak yang Masih Belum Sadar

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren perkembangan kecerdasan buatan (AI) diperkirakan masih berlanjut hingga akhir 2027.

Country Managing Director Hitachi Vantara Indonesia Ming Sunadi mengatakan teknologi AI saat ini belum mencapai titik puncak sehingga pengembangannya masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

"Kalau kita lihat dari beberapa analisis di luar ya, teknologi AI ini masih belum sampai peak-nya. Jadi masih akan terus berkembang ke depan, bahkan sampai akhir 2027. Mungkin akan mulai slowdown itu di 2028," kata Ming saat Media Briefing di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, tren tersebut akan terus berlanjut apabila perusahaan masih melakukan pembelian teknologi AI dalam skala besar. Bahkan, AI berpotensi menjadi fondasi utama bagi perkembangan teknologi perusahaan ke depan

Namun, pesatnya adopsi AI juga membawa tantangan baru bagi keamanan siber. Teknologi yang sama kini dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan kemampuan serangan, termasuk membobol sistem perusahaan.

"Dengan kembangnya teknologi AI ini, security juga ikut berkembang. Karena sekarang makin banyak hacker-hacker itu menggunakan teknologi AI juga untuk meng-hack sistem perbankan itu sendiri," kata Ming.

Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya memperkuat sistem keamanan. Mereka juga perlu menyiapkan infrastruktur yang mampu memulihkan data dengan cepat ketika serangan berhasil menembus sistem.

Ming mengatakan ransomware menjadi salah satu ancaman yang banyak dihadapi perusahaan saat ini. Serangan tersebut bahkan dapat menyasar data maupun salinan cadangan (backup) perusahaan.

"Jadi boleh dibilang dengan adanya AI, ya cyber security itu harus bekerja lebih ekstra," ujarnya.

Kondisi tersebut mendorong kebutuhan terhadap teknologi penyimpanan data yang tidak hanya mengutamakan performa, tetapi juga memiliki kemampuan pemulihan ketika terjadi serangan ransomware.

Hitachi Vantara pun menghadirkan Virtual Storage Platform One (VSP One) Block High End di Indonesia. Solusi storage all-flash NVMe ini dirancang untuk mendukung aplikasi mission-critical, kebutuhan AI, serta meningkatkan ketahanan data perusahaan terhadap ancaman siber.

VSP One Block High End disebut mampu mencapai hingga 50 juta operasi input dan output per detik (IOPS) melalui arsitektur all-flash NVMe. Platform ini juga menggunakan akselerasi kompresi berbasis hardware dan adaptive data reduction untuk mempertahankan performa ketika menangani beban kerja komputasi tinggi.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |