Adu Kuat Cadangan Devisa Penguasa Dunia AS, China-Rusia: Siapa Menang?

2 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

21 September 2026 15:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Sembilan bulan sudah berjalan dari periode 2026 yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum juga berakhir, sedangkan perang Rusia dan Ukraina di Eropa semakin memanas.

Pertempuran yang berjalan memakan waktu tidak hanya menelan biaya mahal bagi militer. Gangguan pasokan yang terjadi di Timur tengah telah mengerek harga minyak dunia, membuat ongkos pengiriman menjadi mahal, serta membuat biaya impor berbagai negara semakin mahal.

Tekanan tersebut dirasakan dengan cara berbeda oleh AS, China, dan Rusia.

Washington harus membiayai operasi militernya di Timur Tengah, Moskow masih menanggung ongkos perang di Ukraina, sedangkan Beijing menghadapi kenaikan biaya energi sebagai salah satu negara pengimpor minyak terbesar dunia.

Ketiganya membutuhkan dana dalam jumlah besar untuk menghadapi gejolak tersebut. Dalam kondisi seperti ini, cadangan devisa menjadi salah satu bantalan penting untuk menjaga perekonomian.

Cadangan devisa dapat digunakan untuk membayar impor, memenuhi kewajiban luar negeri, dan menjaga stabilitas mata uang ketika pasar keuangan terguncang. Namun, besarnya cadangan belum tentu menunjukkan seluruh dana dapat langsung digunakan.

Komposisi aset, perubahan harga emas, pergerakan nilai tukar, hingga sanksi internasional ikut menentukan seberapa kuat cadangan tersebut. Hal itu terlihat dari pergerakan cadangan devisa AS, China, dan Rusia sepanjang 2026.

China Perlahan Mempertebal Cadangan

China memiliki cadangan devisa paling besar di antara ketiga negara tersebut. Pada Agustus 2026, cadangan devisanya mencapai US$3,438 triliun.

Jumlah tersebut bertambah US$19,55 miliar atau 0,57% dibandingkan Juli. Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025 sebesar US$3,358 triliun, cadangan devisa China sudah meningkat sekitar US$80,53 miliar atau 2,4%.

Perjalanannya tidak selalu mulus. Cadangan devisa China sempat naik menjadi US$3,428 triliun pada Februari, tetapi kemudian jatuh hingga US$3,342 triliun pada Maret. Itu menjadi posisi terendah sepanjang 2026.

Penurunan terjadi ketika konflik AS dan Iran mulai mengguncang pasar keuangan global. Dolar AS menguat, yuan tertekan, sedangkan harga berbagai aset keuangan mengalami perubahan tajam.

State Administration of Foreign Exchange (SAFE) menjelaskan bahwa perubahan cadangan devisa China tidak hanya berasal dari pembelian atau penjualan valuta asing. Pergerakan kurs dan perubahan harga aset turut memengaruhi nilainya ketika dihitung dalam dolar AS.

Setelah penurunan pada Maret, cadangan devisa China kembali meningkat menjadi US$3,411 triliun pada April dan mencapai US$3,442 triliun pada Mei. Nilainya sempat turun pada Juni sebelum kembali meningkat selama dua bulan berikutnya.

Di balik peningkatan tersebut, Beijing juga mengubah susunan asetnya. Kepemilikan China atas surat utang pemerintah AS turun menjadi US$618 miliar pada Juli 2026, terendah sejak 2008. Pada saat yang sama, People's Bank of China terus menambah emas selama 22 bulan berturut-turut. Jumlah emasnya meningkat dari 74,19 juta troy ons pada Januari menjadi 76,73 juta troy ons pada Agustus.

Penambahan sebesar 2,54 juta troy ons tersebut setara dengan sekitar 79 ton emas. Pergerakan ini menunjukkan bahwa China tetap menjaga cadangan devisanya dalam jumlah besar sembari memperbesar porsi aset di luar surat utang pemerintah AS.

Cadangan Rusia Naik-Turun Mengikuti Emas

Pergerakan cadangan internasional Rusia jauh lebih tajam.

Nilainya mencapai US$833,57 miliar pada Januari 2026, tertinggi sepanjang delapan bulan pertama tahun ini.

Namun, posisi tersebut terus menyusut ketika perang dengan Ukraina kembali memanas. Cadangan Rusia turun menjadi US$809,31 miliar pada Februari dan kembali anjlok menjadi US$748,98 miliar pada Maret.

Sempat meningkat pada April, cadangan Rusia kembali turun selama tiga bulan berikutnya. Nilainya menyentuh US$720,35 miliar pada Juli, turun lebih dari US$113 miliar dibandingkan Januari.

Arah tersebut berubah pada Agustus. Cadangan Rusia melonjak US$48,67 miliar atau 6,76% menjadi US$769,02 miliar hanya dalam satu bulan.

Kenaikan besar itu sekilas menunjukkan Rusia sedang menambah simpanannya. Namun, sebagian besar lonjakan berasal dari naiknya nilai emas yang berada dalam cadangan Bank Sentral Rusia.

Nilai komponen emas Rusia meningkat dari US$292,85 miliar pada Juli menjadi US$333,48 miliar pada Agustus. Kenaikannya mencapai US$40,63 miliar dan menyumbang sekitar 83,5% dari total pertumbuhan cadangan pada bulan tersebut.

Sementara cadangan selain emas hanya bertambah sekitar US$8,05 miliar. Kenaikan harga emas dunia membuat nilai cadangan Rusia melonjak meskipun jumlah valuta asingnya tidak bertambah sebesar angka keseluruhan.

Jika dibandingkan dengan akhir 2025, cadangan Rusia masih meningkat US$14,17 miliar atau 1,88%. Namun, posisinya masih lebih rendah 7,74% dibandingkan Januari 2026.

Namun, besarnya cadangan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan dana yang bisa langsung digunakan Rusia. Sebagian aset Bank Sentral Rusia masih dibekukan oleh negara-negara Barat sejak invasi ke Ukraina pada 2022.

Aset yang dibekukan tetap tercatat dalam cadangan internasional Rusia, tetapi tidak seluruhnya dapat digunakan Moskow. Perselisihan mengenai dana tersebut terus berlanjut ketika negara-negara Eropa mencari cara menggunakan pendapatannya untuk membantu Ukraina.

Cadangan AS Kecil, tetapi Dolar Menjadi Senjata Utama

Berbeda dari China dan Rusia, cadangan valuta asing AS relatif kecil dan tidak banyak berubah sepanjang 2026.

Mengutip data U.S. Department of the Treasury, Posisinya berada di kisaran US$37,72 miliar hingga US$39,17 miliar. Berdasarkan laporan sementara hingga 28 Agustus 2026, cadangan valuta asing AS tercatat US$38,24 miliar. Jumlah tersebut turun sekitar US$0,36 miliar atau 0,92% dibandingkan posisi akhir 2025.

Cadangan tersebut sempat menyentuh US$39,17 miliar pada Januari sebelum turun menjadi US$37,78 miliar pada Maret. Nilainya kemudian bergerak naik-turun dalam rentang yang relatif sempit hingga Agustus.

Jumlah itu jauh di bawah cadangan China maupun Rusia. Namun, kecilnya cadangan valuta asing AS tidak bisa langsung kita nilai sebagai tanda bahwa AS kekurangan bantalan keuangan.

AS merupakan penerbit dolar, mata uang yang masih mendominasi perdagangan, pembayaran, dan cadangan devisa global. Washington tidak perlu menyimpan dolar sebagai cadangan valuta asing karena mata uang tersebut diterbitkan oleh negaranya sendiri.

Pembiayaan operasi militer AS di Timur Tengah juga tidak langsung menguras cadangan devisa. Kebutuhan tersebut lebih banyak ditutup melalui anggaran pemerintah dan penerbitan surat utang.

AS juga mempunyai cadangan emas terbesar di dunia sebanyak 261,5 juta troy ons atau sekitar 8.133 ton. Namun, dalam laporan resmi pemerintah, emas tersebut masih dinilai menggunakan harga US$42,22 per troy ons.

Akibatnya, nilai emas AS hanya tercatat sekitar US$11,04 miliar dalam laporan cadangan resmi, jauh di bawah nilainya apabila dihitung menggunakan harga pasar saat ini yang berkisar di US$4.300 per troy ons. 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |