Yuan Mengamuk! Terkuat 4 Tahun, China Buang Strategi Mata Uang Murah?

4 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

18 September 2026 19:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Yuan China menguat ke posisi tertinggi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam lebih dari empat tahun.

Melansir Refinitiv, pada Jumat (18/9/2026) pukul 18.42 WIB, yuan menguat 0,15% ke posisi CNY6,698/US$. Level tersebut menjadi yang terkuat sejak Juli 2022 atau lebih dari empat tahun.

Penguatan tersebut melanjutkan tren yang berlangsung sejak awal tahun. Sepanjang 2026, yuan telah menguat sekitar 4,2% terhadap dolar AS atau greenback.

Kenapa Yuan Sekarang Menguat?

Penguatan ini menarik karena selama bertahun-tahun China justru menjaga yuan tetap murah agar barang ekspornya lebih mudah bersaing di pasar dunia. Kini, yuan yang lebih kuat mulai dibutuhkan untuk menekan biaya impor, menjaga kepercayaan investor, dan memperluas penggunaannya secara global.

Setidaknya ada empat faktor yang mendorong yuan hingga mencapai posisi tertingginya dalam lebih dari empat tahun.

1. Bank Sentral China Berikan Jalan

Bank sentral China menjadi salah satu pendorong utama penguatan yuan. Berbeda dengan banyak mata uang lain, nilai yuan tidak sepenuhnya ditentukan oleh pasar.

Setiap pagi, People's Bank of China (PBOC) menetapkan kurs acuan yuan terhadap dolar AS. Dari angka tersebut, nilai yuan hanya boleh bergerak maksimal 2% lebih kuat atau lebih lemah selama perdagangan berlangsung.

Ketika kurs acuan ditetapkan lebih kuat, batas pergerakan yuan pada hari itu ikut bergeser. Pelaku pasar juga membacanya sebagai arahan bahwa PBOC menginginkan nilai yuan yang lebih tinggi.

PBOC telah menetapkan kurs acuan yang lebih kuat selama delapan hari perdagangan berturut-turut. Rentetan tersebut menjadi yang terpanjang sejak 2023.

Pada Jumat (18/9/2026), kurs acuan ditetapkan di posisi 6,7521 per dolar AS, lebih kuat dibandingkan 6,7580 sehari sebelumnya.

Kebijakan tersebut ikut mendorong yuan hingga menembus 6,70 per dolar AS.

Kurs acuan bukan satu-satunya alat yang dimiliki bank sentral China. Jika diperlukan, bank sentral dapat mengatur likuiditas valuta asing, mengubah ketentuan simpanan devisa perbankan, serta menggunakan bank-bank milik negara untuk membeli atau menjual dolar.

Namun, PBOC tidak menginginkan penguatan yang juga terlalu cepat. Yuan yang melonjak tajam dapat menekan pendapatan eksportir dan memicu pergerakan besar di pasar keuangan.

Karena itu, PBOC mengarahkan yuan menguat secara pelan tapi pasti. Nilainya didorong naik, tetapi kecepatannya tetap dikendalikan agar tidak mengganggu kegiatan perdagangan China.

2. Dolar Milik Eksportir Mulai Ditukar

Ekspor China tetap kuat meski ekonomi dalam negerinya masih menghadapi persoalan di sektor properti dan konsumsi.

Barang-barang buatan China terus mengalir ke berbagai negara, mulai dari elektronik, mesin, kendaraan listrik, baterai, hingga produk berbasis kecerdasan buatan.

Ketika perusahaan China menjual barang ke luar negeri, mereka menerima pembayaran dalam dolar. Selama beberapa tahun terakhir, banyak eksportir memilih menyimpan pendapatan tersebut dalam dolar karena bunga di AS lebih tinggi.

Keadaannya kini mulai berubah. Ketika yuan diperkirakan terus menguat, menyimpan dolar menjadi lebih berisiko. Nilai dolar yang mereka pegang dapat berkurang setelah ditukar menjadi yuan.

Sebagian eksportir kemudian mulai menukar dolar untuk membayar gaji, pajak, bahan baku, dan biaya produksi. Semakin banyak dolar yang dijual, semakin besar pula permintaan terhadap yuan.

Besarnya surplus perdagangan membuat perusahaan China memiliki simpanan valuta asing dalam jumlah besar. Dana tersebut dapat menjadi sumber tenaga tambahan bagi yuan ketika mulai ditukar.

Kepala Ekonom China Raya ING Lynn Song menilai arah yuan dalam setahun terakhir mulai lepas dari hubungannya dengan selisih bunga AS dan China.

"Ekspektasi pasar kini bergeser menuju penguatan yuan," kata Song, dikutip dari Reuters.

Bank of America memperkirakan yuan masih dapat menguat sekitar 1,6% hingga akhir 2026. Perkiraan tersebut ditopang penukaran pendapatan ekspor, nilai yuan yang dinilai masih murah, serta tekanan negara-negara G7 agar China membantu mengurangi ketimpangan perdagangan dunia.

Faktor berikutnya datang dari hubungan China dan AS. Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada akhir September.

Pasar berharap pertemuan tersebut dapat memperpanjang gencatan perang dagang dan membuka jalan bagi penurunan tarif. Jika ketegangan perdagangan berkurang, risiko terhadap perekonomian China juga ikut mengecil.

"Renminbi kemungkinan mendapatkan dukungan lebih lanjut dari pertemuan Trump dan Xi yang diperkirakan berlangsung pekan depan," kata ahli strategi Mizuho Securities Serena Zhou, dikutip dari Dow Jones.

Pertemuan tersebut juga dapat mengurangi kekhawatiran bahwa AS akan kembali menaikkan tarif terhadap barang China. Harapan itu membuat pelaku pasar lebih berani memegang yuan.

4. China Ingin Yuan Makin Mendunia

Penguatan yuan juga sejalan dengan keinginan Beijing mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. China ingin mata uangnya semakin banyak digunakan untuk perdagangan, investasi, dan pembayaran internasional.

"Internasionalisasi yuan merupakan proses yang terus berjalan dan stabil, serta menjadi tren yang tidak dapat dibalikkan," kata Deputi Gubernur PBOC Lu Lei, dikutip dari South China Morning Post.

Untuk mencapai tujuan tersebut, China akan memperbanyak kerja sama pertukaran mata uang dengan negara lain. Beijing juga mendorong pembayaran perdagangan menggunakan mata uang masing-masing tanpa harus lebih dahulu ditukar ke dolar AS.

China turut memperkuat Cross-Border Interbank Payment System atau CIPS. Sistem pembayaran buatan China tersebut menjadi pilihan lain di luar jaringan pembayaran internasional yang selama ini didominasi sistem Barat seperti SWIFT.

Penggunaan yuan digital dan pembayaran menggunakan kode QR lintas negara juga akan diperluas. Pada saat yang sama, akses investor asing ke pasar saham dan obligasi China akan terus dibuka.

Hong Kong akan tetap menjadi pusat perdagangan yuan terbesar di luar China daratan. Beijing juga ingin memperluas pasarnya di London, Singapura, dan Dubai.

Menurut Lu, yuan kini menjadi mata uang yang paling banyak digunakan China dalam penerimaan dan pembayaran lintas negara. Yuan juga menjadi mata uang pembiayaan perdagangan terbesar kedua serta mata uang pembayaran terbesar ketiga di dunia.

Ambisi tersebut membutuhkan yuan yang stabil. Negara lain tentu akan berpikir dua kali untuk menyimpan atau menggunakan yuan apabila nilainya terus melemah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |