Trump-Xi Jinping Bertemu, Ini Adu Kuat Militer AS Vs China

6 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

14 May 2026 18:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Pertemuan ini menjadi sorotan karena digelar saat hubungan dua negara ekonomi terbesar dunia masih diwarnai banyak ketegangan.

Pertemuan keduanya rencananya berlangsung di Temple of Heaven, salah satu lokasi bersejarah di Beijing. Sejumlah isu besar diperkirakan masuk dalam pembahasan, mulai dari perdagangan, investasi, teknologi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga mineral tanah jarang.

Tidak hanya ekonomi, isu keamanan juga berpotensi menjadi bagian penting dalam pembicaraan. Beberapa di antaranya terkait Taiwan, penjualan senjata AS ke Taipei, perang Iran, ketegangan di Selat Hormuz, hingga senjata nuklir.

Besarnya agenda yang dibahas menunjukkan bahwa persaingan AS dan China tidak lagi hanya soal dagang dan teknologi. Rivalitas kedua negara juga semakin terasa di sektor pertahanan, terutama di kawasan Indo-Pasifik, Laut China Selatan, dan Taiwan.

Karena itu, menarik untuk melihat seberapa kuat sebenarnya kekuatan militer AS dan China.

Untuk membaca peta kekuatan tersebut, salah satu rujukan yang sering dipakai adalah Global Firepower (GFP).

Lembaga ini menyusun peringkat militer dunia berdasarkan lebih dari 60 indikator, mulai dari jumlah personel aktif, kekuatan udara, kekuatan darat, kekuatan laut, anggaran pertahanan, logistik, sumber daya alam, hingga faktor geografis.

Dalam indeks ini, semakin kecil angka Power Index maka semakin kuat posisi militer suatu negara.

Peta Kekuatan Militer AS Vs China

Data GFP 2026 menunjukkan Amerika Serikat masih menjadi kekuatan militer nomor satu dunia. AS menempati peringkat pertama dari 145 negara dengan Power Index 0,0741.

Sementara itu, China berada di peringkat ketiga dunia dengan Power Index 0,0919. Artinya, secara keseluruhan AS masih lebih unggul dibandingkan China dalam penilaian kekuatan militer global.

Meski begitu, China bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Dalam sejumlah indikator utama, China bahkan unggul atas AS, terutama dari sisi jumlah pasukan aktif, kekuatan darat, kekuatan laut, dan finansial.

Berdasarkan perbandingan GFP, AS unggul dalam kekuatan udara, sumber daya alam, logistik, dan faktor geografis. Sementara China unggul dalam sumber daya manusia (manpower), lahan (land power), Angkatan Laut (naval power), serta keuangan (financials).

Perbedaan paling mencolok terlihat dari jumlah personel aktif. China memiliki sekitar 2,03 juta tentara aktif, jauh lebih besar dibandingkan AS yang memiliki sekitar 1,33 juta personel aktif.

Namun dari sisi anggaran pertahanan, AS masih sangat dominan. Belanja pertahanan AS mencapai sekitar US$831,5 miliar, sedangkan China sebesar US$303 miliar. Artinya, anggaran militer AS hampir tiga kali lipat lebih besar dibandingkan China.

Keunggulan AS juga terlihat jelas di sektor udara. AS memiliki 1.791 pesawat tempur dan 1.024 helikopter serang. Jumlah ini lebih besar dibandingkan China yang memiliki 1.443 pesawat tempur dan 281 helikopter serang.

Dengan komposisi tersebut, AS masih memiliki superioritas udara yang lebih kuat dibandingkan China.

Sebaliknya, China unggul di kekuatan darat. China memiliki 5.870 tank, lebih banyak dibandingkan AS yang memiliki 4.666 unit.

China juga unggul dalam jumlah self-propelled artillery dengan 2.940 unit, sedangkan AS memiliki 1.521 unit. Untuk mobile rocket projectors, China juga lebih unggul dengan 2.770 unit, dibandingkan AS sebanyak 1.731 unit.

Namun, AS masih unggul jauh dalam kendaraan lapis baja. AS memiliki 409.660 kendaraan lapis baja, jauh di atas China yang memiliki 152.040 unit.

Dari sisi Angkatan Laut, China terlihat unggul dari sisi jumlah armada. Total armada laut China mencapai 841 unit, sedangkan AS memiliki 465 unit.

China juga memiliki 46 kapal fregat, 50 kapal corvette, dan 150 kapal patroli militer. Sementara AS tidak memiliki kapal fregat maupun kapal patroli militer dalam data tersebut, tetapi memiliki 27 kapal corvette.

Meski kalah dari sisi jumlah total armada laut, AS tetap unggul dalam kapal induk. AS memiliki 11 kapal induk, jauh lebih banyak dibandingkan China yang memiliki 3 kapal induk.

AS juga unggul dalam jumlah kapal selam dan kapal destroyer. AS memiliki 66 kapal selam dan 83 kapal destroyer, sedangkan China memiliki 61 kapal selam dan 53 kapal destroyer.

Dengan demikian, AS masih menjadi kekuatan militer paling dominan di dunia. Namun, China terus mempersempit jarak, terutama lewat keunggulan jumlah pasukan, kekuatan darat, dan ekspansi besar-besaran armada lautnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |