Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai Air India mulai memangkas sejumlah penerbangan internasional di tengah dampak perang Timur Tengah, yang dipicu lonjakan harga bahan bakar jet dan gangguan rute penerbangan global.
Menurut pakar penerbangan, maskapai itu memangkas hampir 140 penerbangan per minggu, yang setara dengan sekitar 27% dari total penerbangan internasionalnya.
Manajemen perusahaan juga sudah menjelaskan bahwa perubahan yang dilakukan untuk mengurangi gangguan bagi penumpang.
"Perubahan ini bertujuan meningkatkan stabilitas jaringan penerbangan dan mengurangi gangguan mendadak bagi penumpang," kata Air India dalam pernyataannya pada Rabu, mengutip CNBC International, Kamis (14/5/2026).
Air India, dimiliki bersama oleh Tata Group dan Singapore Airlines, akan mengurangi frekuensi penerbangan ke Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Asia.
Perusahaan ini merupakan maskapai terbesar kedua di India, dengan kapasitas 3,6 juta kursi dan pangsa pasar sebesar 14%, menurut data penyedia informasi industri penerbangan OAG.
Para ahli mengatakan maskapai-maskapai India menjadi salah satu yang paling terdampak oleh konflik di Timur Tengah karena harus menghadapi penutupan wilayah udara di atas Iran, Irak, Israel, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Pakar penerbangan sekaligus CEO Avialaz Consultants, Sanjay Lazar mengatakan, India sebelumnya juga telah menghadapi pembatasan penggunaan wilayah udara Pakistan serta China.
"Jam terbang yang meningkat, tambahan biaya kru, serta konsumsi bahan bakar ekstra untuk perjalanan membuat sektor ini kini benar-benar tidak layak secara ekonomi," kata Lazar. Ia menambahkan harga bahan bakar jet di India hingga 40% lebih mahal dibanding pusat penerbangan global akibat pajak lokal.
Bulan lalu, Federasi Maskapai India memperingatkan bahwa maskapai-maskapai di negara itu berada dalam "tekanan ekstrem dan di ambang penutupan atau penghentian operasi," menurut laporan media lokal.
Untuk mengimbangi dampak pelemahan mata uang dan kenaikan biaya bahan bakar jet, maskapai-maskapai India perlu menaikkan harga tiket "di kisaran 15%," kata analis riset ICICI Securities, Ansuman Deb, kepada program CNBC "Inside India."
Pada Kamis, Rupee India yang menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini, turun ke rekor terendah sepanjang masa di level 95,95 per dolar AS, menurut data LSEG.
Perdana Menteri India Narendra Modi pada Minggu lalu juga mengimbau warga negaranya untuk menghindari perjalanan internasional, karena membengkaknya tagihan impor negara tersebut terus menekan nilai tukar Rupee.
(wia)
Addsource on Google

















































