Tradisi Ngarot di Desa Lelea, Ritual Syukur Petani Jelang Musim Tanam

9 hours ago 3

Jakarta -

Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, akan riuh ramai oleh upacara adat. Setiap minggu ketiga di bulan Desember, masyarakat setempat menggelar Upacara Adat Ngarot, sebuah ritual sakral yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Tradisi yang dilakukan sejak awal abad 17 itu menjadi simbol regenerasi pertanian di Kabupaten Indramayu. Tradisi ini digelar khusus pada hari Rabu yang dianggap keramat. Ngarot menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat terhadap hasil panen sebelumnya, sekaligus doa untuk keselamatan dan kelancaran musim tanam yang akan datang.

Suasana Desa Lelea dipenuhi arak-arakan puluhan Gadis Ngarot dan para jejaka berbaju pangsi menuju Balai Desa. Diiringi gamelan, sinden, serta wangi bunga kenanga yang memenuhi udara, prosesi tersebut tak hanya memikat warga lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan yang ingin menyaksikan langsung kekayaan budaya Indramayu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ornamen bunga segar di kepala para gadis dan pakaian tradisional yang dikenakan peserta ritual menambah kesan meriah namun tetap sakral.

Asal Usul dan Makna 'Ngarot'

Tradisi Ngarot memiliki dua akar makna. Dalam bahasa Sunda, "nga-rot" berarti minum atau ngaleueut, sedangkan dalam bahasa Sansekerta, 'ngaruat' berarti terbebas dari kutukan. Dua pengertian ini kemudian menyatu menjadi simbol pembebasan dari marabahaya serta harapan masyarakat untuk dijauhkan dari bencana selama musim tanam berlangsung.

Berdasarkan sejarah lisan dan catatan Desa Lelea, tradisi ini awalnya ditujukan untuk mengumpulkan para pemuda-pemudi, khususnya yang masih perawan dan perjaka, sebelum mereka diberi tanggung jawab mengolah sawah. Melalui Ngarot, masyarakat membina pergaulan yang sehat, mempererat kerja sama, dan menanamkan nilai gotong royong sebagai bekal dalam menghadapi musim tanam.

Simbol Syukur dan Permohonan Harapan

Bagi masyarakat agraris Lelea, Ngarot bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum untuk menyampaikan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa atas limpahan panen sebelumnya. Melalui doa bersama dan rangkaian prosesi adat, warga berharap musim tanam berikutnya berjalan lancar, membawa hasil melimpah, serta terhindar dari hama dan bencana alam.

Nilai-nilai spiritual ini menjadikan Ngarot tetap bertahan hingga kini. Masyarakat percaya bahwa kekompakan, kemurnian niat, dan kebersamaan menjadi bagian penting yang menentukan keberhasilan panen.

Pesona Gadis Ngarot dan Jejaka Berbaju Pangsi

Disparbud Jabar Foto: Istimewa

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian dalam tradisi ini adalah kehadiran Gadis Ngarot, para gadis desa yang tampil anggun dengan busana tradisional dan mahkota bunga segar di kepala. Warna-warni bunga termasuk kenanga dan melati, menjadi simbol kesucian sekaligus identitas mereka sebagai generasi muda yang siap terlibat dalam musim tanam.

Sebuah mitos yang masih dipercaya hingga kini menyebutkan bahwa bunga yang dikenakan Gadis Ngarot akan tetap segar selama prosesi berlangsung. Namun jika seorang gadis tidak lagi suci, bunga-bunga tersebut dipercaya akan layu dengan sendirinya.

Kepercayaan ini menjadi salah satu daya tarik yang membuat ritual Ngarot penuh makna bagi masyarakat maupun wisatawan. Para jejaka berbaju pangsi hitam turut mendampingi dalam arak-arakan. Kehadiran mereka menandai kesiapan pemuda desa untuk bekerja bersama di sawah setelah upacara selesai.

Doa, Ritual, dan Suasana Sakral di Balai Desa

Disparbud Jabar Foto: Istimewa

Prosesi mencapai puncaknya saat seluruh peserta memasuki Balai Desa Lelea untuk melaksanakan ritual dan doa bersama. Alunan gamelan dan lantunan sinden menciptakan suasana khidmat yang menjadi ciri khas tradisi ini. Para tetua adat kemudian memimpin doa, menyampaikan harapan agar masyarakat diberikan keselamatan dan hasil panen yang melimpah.

Suasana yang sakral ini seakan mengikat hubungan masyarakat dengan leluhur mereka. Tradisi yang dipertahankan turun-temurun ini menjadi bukti kuat bahwa nilai-nilai budaya masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat agraris Indramayu.

Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan

Hingga kini, Ngarot terus menjadi simbol identitas masyarakat Lelea. Tradisi ini tidak hanya dirayakan sebagai bentuk rasa syukur, tetapi juga sebagai sarana melestarikan nilai-nilai adat yang membentuk karakter masyarakat setempat. Di tengah perkembangan zaman, Ngarot justru semakin menonjol sebagai daya tarik wisata budaya yang memperkaya pengalaman para pengunjung.

Sebagai tradisi yang bertahan lintas generasi, Ngarot menjadi pengingat akan pentingnya hubungan manusia dengan alam dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur. Di setiap prosesi, mulai dari arak-arakan Gadis Ngarot hingga doa bersama, tersimpan pesan tentang kebersamaan, kesucian niat, dan syukur atas rezeki yang diberikan.

Dengan pelestarian yang terus dijaga, Ngarot bukan hanya menjadi agenda adat tahunan di Desa Lelea, tetapi juga wujud kebanggaan budaya Jawa Barat. Melalui tradisi ini, masyarakat Lelea mengajarkan bahwa merawat warisan budaya berarti menjaga jati diri sekaligus merayakan kehidupan dengan penuh harapan.

(akn/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |