Jakarta, CNBC Indonesia - India kini menjadi pasar saham yang paling tidak disukai investor di Asia. Hal ini merujuk ke survei yang dilakukan Bank of America (BofA) terhadap para pengelola dana.
Mengutip NDTV yang merujuk Bloomberg, Jumat (21/8/2026), hasil survei menunjukkan 32% responden secara neto berada dalam posisi underweight terhadap saham India. Sikap pesimistis tersebut terutama dipicu oleh minimnya eksposur yang jelas terhadap sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Selain persoalan AI, pertumbuhan ekonomi yang melemah menjadi risiko terbesar berikutnya yang dikhawatirkan investor. Kurangnya reformasi serta valuasi saham India yang dinilai masih tinggi juga menjadi alasan investor bersikap hati-hati terhadap pasar saham terbesar keempat di Asia tersebut.
Perlu diketahui, survei BofA melibatkan 98 responden dengan total aset yang dikelola mencapai US$272 miliar (sekitar Rp4.624 triliun). Pengumpulan data dilakukan pada 7-13 Agustus 2026.
Hasil survei BofA sejalan dengan pelemahan saham India dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini terjadi meskipun prospek laba perusahaan mulai membaik.
Investor masih berhati-hati terhadap pasar India karena sejumlah risiko makroekonomi dan valuasi yang tinggi. Meski demikian, pada kuartal berjalan, dana global sebenarnya telah membeli lebih dari US$4 miliar (sekitar Rp68 triliun) saham domestik India, menjadi yang terbesar di antara pasar negara berkembang regional, setelah terjadi arus keluar dana dalam jumlah besar pada paruh pertama tahun ini.
Kinerja fundamental perusahaan juga menunjukkan perbaikan. Laba perusahaan yang tergabung dalam indeks acuan NSE Nifty 50 melonjak 18% dibandingkan tahun sebelumnya pada periode tiga bulan terakhir. Pertumbuhan tersebut jauh di atas perkiraan Motilal Oswal Financial Services yang sebesar 10%. Namun, perbaikan kinerja laba belum cukup untuk menghapus kekhawatiran investor.
India sebelumnya juga pernah menjadi pasar saham yang paling tidak disukai dalam survei BofA pada Mei. Saat itu, pertumbuhan ekonomi India mendapat tekanan akibat kenaikan biaya energi setelah perang AS-Iran mendorong harga minyak mentah global melonjak. Kini, belum adanya tanda-tanda penyelesaian konflik membuat harga energi kembali naik dan menekan sentimen investor terhadap saham India.
Indonesia Justru Mulai Dilirik Investor
Berbeda dengan India, sentimen investor terhadap Indonesia justru membaik. Sebanyak 27% pengelola dana secara neto masih berada dalam posisi underweight terhadap pasar saham Indonesia, turun dari 32% pada Juli.
Perubahan tersebut sejalan dengan kinerja positif pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melonjak lebih dari 20% dari level terendah pada Juni.
Penguatan tersebut terjadi setelah berbagai langkah Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah serta meredanya kekhawatiran bahwa Indonesia akan diturunkan statusnya menjadi pasar frontier oleh MSCI. Jika ditarik ke Asia, Taiwan dan Jepang masih menjadi kawasan yang paling disukai investor dalam survei tersebut.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]


















































