Iran Diancam AS, Fed Mengancam Dunia - RI Terancam Transaksi Berjalan?

3 hours ago 2
  • Pasar keuangan Indonesia kompak menguat, bursa saham dan rupiah berakhir di zona hijau
  • Wall Street ambruk di tengah kisruh utang Amerika
  • Ancaman baru AS terhadap Iran serta rilis data ekonomi dari dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup menguat pada perdagangan kemarin.  Bursa saham dan rupiah sama-sama menguat.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kembali menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (20/8/2026). Penguatan indeks terutama ditopang saham-saham berbasis komoditas dan tambang.

Berdasarkan data perdagangan akhir sesi kedua, IHSG berada di level 6.501,58, menguat 107,46 poin atau 1,68%. IHSG dibuka di level 6.447,25 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.514 dan terendah 6.4444.

Total transaksi mencapai Rp 15,01 triliun, yang melibatkan 43,68 miliar saham dalam 2,29 juta kali transaksi. Sebanyak 452 saham menguat, 190 saham melemah dan 150 saham lainnya stagnan.

Investor asing kembali mencatat net buy sebesar Rp 680,47 miliar.

Dari sektoral, bahan baku menjadi sektor dengan penguatan paling tinggi, yakni 4,03%. Disusul sektor konsumer primer yang naik 2,52% dan konsumer non-primer 1,81%.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah tampil perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari kemarin. Mata uang Garuda melanjutkan penguatannya seiring dengan pelemahan dolar di pasar global.

Melansir Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026), rupiah terapresiasi 0,48% ke posisi Rp17.740/US$.

Penguatan tersebut memperpanjang kinerja positif rupiah menjadi dua hari perdagangan beruntun. Pada Rabu (19/8/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,14% ke level Rp17.825/US$.

Rupiah memperoleh angin segar dari pelemahan dolar AS setelah pemerintah Negeri Paman Sam mengumumkan langkah untuk meredakan gejolak di pasar obligasi.

Departemen Keuangan AS berencana menggandakan operasi pembelian kembali obligasi berjangka panjang guna menjaga likuiditas pasar.

Kebijakan tersebut muncul setelah aksi jual mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menyentuh 5,337%, posisi tertingginya sejak 2007. Setelah pengumuman itu, imbal hasil berangsur turun ke sekitar 5,184%.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) melandai ke 6,9% pada perdagangan kemarin, dari 7,04% pada hari sebelumnya.

Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena diburu investor.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |