SBY Peringatkan Dunia Tidak Baik-Baik Saja, RI Harus Lakukan Ini

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia — Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperingatkan bahwa dunia tidak dalam kondisi normal. SBY mengatakan kita hidup di tengah krisis demi krisis yang saling tumpang tindih.

Dimulai dari perubahan iklim yang di luar diprediksi dan berubah-ubah dan bencana alam yang paling berdampak pada masyarakat miskin dan rentan.

Pada saat yang sama, SBY menyebut ekonomi global menghadapi fragmentasi. Menurutnya, perdagangan dipengaruhi oleh geopolitik, persaingan teknologi, dan tekanan dalam sektor keuangan.

"Perdagangan tidak lagi hanya didorong oleh efisiensi, tetapi juga oleh geopolitik. Teknologi menjadi sumber produktivitas, tetapi juga medan persaingan. Kita juga melihat tekanan yang meningkat dalam keuangan publik," kata SBY dalam pidatonya di The 4th Perbanas International Conference on Economics, Business, Management, Accounting and IT (PROFICIENT 2026), di Perbanas Institute Jakarta, Selasa (2/6/2026).

SBY mengatakan banyak negara berkembang menghabiskan lebih banyak untuk layanan tersebut. Sementara kebutuhan pembiayaan untuk kesehatan, pendidikan, infrastruktur, transisi energi, dan adaptasi iklim terus meningkat.

Dalam situasi ini, SBY menuturkan negara-negara berkembang seperti Indonesia harus bijaksana menyikapinya.

"Kita tidak bisa begitu saja meniru jalan yang ditempuh oleh negara-negara maju. Kita harus merancang strategi pembangunan kita sendiri," ujar SBY.

"Terbuka bagi dunia, tetapi berakar pada kepentingan nasional kita. Berorientasi pasar, tentu saja, tetapi bertanggung jawab secara sosial. Didorong oleh pertumbuhan, tetapi berkelanjutan secara lingkungan. Dan maju secara digital, tetapi berpusat pada manusia."

Ia menyebut itu adalah esensi pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia.

SBY kemudian melanjutkan bahwa dalam masa pemerintahannya tahun (2004-2014), Indonesia menghadapi beberapa "ujian besar." Namun, Indonesia dapat melaluinya dengan sejumlah strategi yang mencakup kehati-hatian fiskal dan tata kelola yang baik.

"Ketika krisis keuangan global melanda pada tahun 2008, Indonesia tidak kebal. Tetapi kita selamat karena kita mempertahankan kepercayaan, kehati-hatian fiskal, permintaan domestik, dan koordinasi kebijakan yang baik. Kita belajar bahwa kredibilitas itu penting. Di masa ketidakpastian, pasar tidak hanya mendengarkan angka, tetapi juga kualitas tata kelola," terang SBY.

(mkh/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |