Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan inflasi pada Mei 2026 mencapai 0,28% secara bulanan atau month to month dan 1,35% secara tahunan, dipicu oleh kenaikan sejumlah bahan makanan dan minuman.
Angka inflasi lebih tinggi dibanding catatan pada April 2026 yang sebesar 0,13% secara bulanan.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan, tekanan inflasi itu terutama ditopang oleh inflasi kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,39% dengan andil 0,12%.
"Kelompok pengeluran inflasi adalah makanan, minuman, dan tembakau yang inflasi 0,39% dan andil 0,12%," kata Pudji saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok pengeluaran itu kata Pudji di antaranya ialah cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras.
"Komoditas dominan dorong inflasi pada kelompok tersebut adalah cabai merah dengan andil 0,08%, minyak goreng dan bawang merah dengan andil masing-masing 0,04%, tomat andil 0,03%, dan beras andil 0,02%," tegas Pudji.
Selain kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, tekanan inflasi kata dia juga dipicu oleh kenaikan harga di sektor transportasi, dengan inflasi sebesar 0,61% dan andilnya 0,07%.
"Komoditas lainnya ini yang memberi andil inflasi adalah bahan bakar rumah tangga andil 0,03%, serta bensin, angkutan udara masing-masing 0,02%," tegas Pudji.
(arj/arj)
Addsource on Google


















































