Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyambut positif keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan prospek (outlook) stabil.
Misbakhun menjelaskan, keputusan tersebut menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dipercaya di tengah ketidakpastian global yang tinggi. Ia menilai kebijakan ekonomi pemerintah masih dipandang kredibel oleh lembaga pemeringkat internasional.
"Keputusan S&P ini kabar baik. Indonesia tetap dipercaya, dan ini menunjukkan bahwa disiplin fiskal serta ketahanan ekonomi kita masih diapresiasi. Kepercayaan ini harus dijaga dan diperkuat," kata Misbakhun dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2026).
Sebagaimana diketahui, S&P Global Ratings pada 13 Juli 2026 menegaskan kembali peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil. S&P menilai pelemahan indikator fiskal dan eksternal Indonesia masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.
Misbakhun mengungkapkan, keputusan S&P mempertahankan rating Indonesia didukung oleh sejumlah faktor, mulai dari prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, posisi utang pemerintah dan utang eksternal yang relatif terkendali, ketahanan sektor perbankan, hingga komitmen pemerintah menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk terus menjaga kredibilitas APBN melalui penguatan penerimaan negara dan peningkatan kualitas belanja. Selain itu, pengelolaan utang juga perlu dilakukan secara hati-hati agar ruang fiskal tetap sehat dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
"Defisit bisa menjadi instrumen untuk mendukung pertumbuhan, sepanjang kualitas fiskalnya dijaga. Belanja negara harus selektif, tepat sasaran, dan benar-benar memberi dampak bagi sektor riil," ujarnya.
Misbakhun menilai sejumlah catatan yang diberikan S&P terkait tekanan fiskal dan eksternal perlu dijadikan masukan untuk memperkuat kebijakan ekonomi ke depan.
Menurutnya, tantangan seperti stabilitas nilai tukar rupiah, tingginya beban bunga utang, hingga tekanan harga energi global harus direspons melalui koordinasi yang erat antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan otoritas terkait lainnya.
Ia juga menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan S&P harus dijaga melalui keberlanjutan agenda reformasi ekonomi nasional.
Misbakhun menyebut program hilirisasi, perbaikan tata kelola sumber daya alam, serta penguatan basis penerimaan negara perlu terus didorong untuk memperkuat ketahanan fiskal dan eksternal Indonesia.
"Target kita bukan sekadar mempertahankan investment grade. Yang harus kita bangun adalah fondasi ekonomi yang makin kuat agar Indonesia bisa naik kelas. Kepercayaan S&P ini perlu dijawab dengan disiplin fiskal, rupiah yang stabil, dan belanja negara yang benar-benar menggerakkan sektor riil," kata Misbakhun.
Terakhir, menurut Misbakhun, afirmasi rating dari S&P menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga kepercayaan investor dan memperkuat daya tahan ekonomi di tengah berbagai tantangan global yang masih berlangsung.
(haa/haa)
Addsource on Google


















































