Jakarta -
Asap panggangan sate mengepul di udara, bercampur dengan suara klakson yang bersahutan di jalanan. Lampu gerobak memantul ke piring-piring yang menumpuk, sementara para peracik hidangan mondar-mandir melayani pesanan. Malam itu, Jalan Sabang menjadi titik temu para pengelana rasa dari lintas latar dan usia.
Di jalanan dengan deretan gerobak yang berhimpitan, arus manusia mengalir tanpa henti. Jam pulang kerja menjadi fase paling sibuk interaksi antara para penjaja makanan dan para penikmat kuliner di jalanan sepanjang kurang lebih 500 meter itu.
Pasangan muda dan tua yang merayakan momen bersama, pegawai kantoran yang mencari jeda pelepas lelah, hingga kelompok anak muda yang mencari ide untuk konten sosial media, tumpah ruah di Jalan Sabang. Keramaian suasana itu seolah tak pernah absen dari pemandangan kuliner legendaris di kawasan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik riuhnya Jalan Sabang, transaksi perputaran uang di antara pedagang dan pelanggan melalui aplikasi digital kini menjadi kebiasaan baru yang kian jamak. Pembayaran terasa menjadi lebih mudah. Pedagang tak perlu sibuk menyiapkan uang kembalian, sedangkan pembeli hanya perlu menggunakan HP untuk menyorot kode QR yang ditempel di gerobak.
Hal itulah yang dialami detikcom saat menjajal langsung digitalisasi yang kini merambah ke pedagang-pedagang kaki lima. Aplikasi BRImo menjadi pilihan utama selama menjelajah rasa di Jalan Sabang atau Jalan Haji Agus Salim, Menteng, Jakarta Pusat.
Pada Jumat 28 November 2025, jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB saat motor memasuki kawasan ikonik di Jakarta Pusat itu. Setelah memarkir motor, detikcom mulai berkeliling mencari makanan yang akan disantap.
Sate Pak Heri di Jalan Sabang Foto: Kanavino/detikcom
Mata langsung tertuju pada gerobak sate yang tidak jauh setelah belokan Jalan Imam Bonjol. Seorang penjual perempuan yang memakai kaus hitam dan kerudung biru dongker menawarkan dagangannya sambil beranjak dari depan gerobak menuju ke arah jalan.
"Bisa pakai QRIS juga, Mas," kata dia.
detikcom kemudian memesan makanan di lapak dagangan yang bernama Sate Pak Heri itu. Begitu selesai, detikcom menggunakan aplikasi BRImo untuk melakukan pembayaran yang berlangsung cepat dan lancar.
Setelah itu, detikcom meminta izin untuk melakukan wawancara. Namun si penjual tadi meminta waktu sebab pesanan pelanggan saat itu sedang cukup banyak.
Sekitar 20 menit berselang, seorang laki-laki datang dan tampak mengipas sate yang dibakar. Sesekali ia mengarahkan beberapa orang pegawainya yang mendistribusikan sate kepada pelanggan yang sudah duduk.
Pria itu bernama Budi Herianto. Dia merupakan generasi ketiga yang menjual Sate Pak Heri di Jalan Sabang. Budi langsung mengajak duduk agar berbincang lebih leluasa. Ia menjelaskan lapak dagangannya biasa buka dari pukul 09.00 sampai pukul 02.00 dini hari.
"Saya kalau motong ayam, dagingnya saja 50 Kg, bisa jadi ayam 5.000 (sate), belum kulitnya," kata Budi.
Jumlah itu hanya untuk satu gerobak. Ada juga gerobak lain di lokasi berbeda yang juga menjajakan Sate Pak Heri.
"Omzetnya banyak lah, Bang," kata dia tanpa menjelaskan rinci jumlahnya.
Kini Budi harus beradaptasi dengan perkembangan digital. Pria asal dari Madura itu belajar mengenai pembayaran non-tunai yang memudahkan pedagang maupun pembeli.
"Namanya digital, sekarang zamannya pakai QRIS," ujar Budi.
Budi juga merupakan salah satu penerima manfaat dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Kredit yang diterimanya digunakan untuk membeli bahan penjualan sate hingga disalurkan untuk usaha lain.
Sekitar dua tahun lalu, ia mengajukan KUR di kantor BRI Jalan KS Tubun, Jakarta Barat. Bagi Budi, pinjaman KUR itu sangat membantu usahanya.
"Membantu banget buat modal kita putar-putar, kalau kita nggak jalanin (uangnya), sayang banget," kata dia.
Penyaluran KUR yang diterima Budi itu sejalan dengan komitmen BRI dalam mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk membantu pembiayaan bagi pelaku UMKM dan meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas. Hingga akhir Oktober 2025, BRI berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp 147,2 triliun kepada 3,2 juta debitur atau setara dengan 83,2% dari total alokasi KUR BRI tahun 2025 sebesar Rp 177 triliun.
Tak jauh sana, detikcom menjajal penggunaan QRIS BRI di Bakmi Roxy. Suasana malam itu cukup ramai. Para pelanggan bergantian masuk ruko untuk menyantap bakmi favorit mereka, mulai dari pasangan muda hingga pekerja kantoran yang masih tersampir ID card di leher mereka.
Setelah makan, detikcom melakukan pembayaran melalui BRImo dengan kode QR yang ditempel di dinding dekat gerobak.
Turiman (50), juru masak mi asal Cilacap, mengatakan awalnya cukup sulit belajar pembayaran digital, namun kini dirinya sudah terbiasa. Ia merasakan kemudahan dari pembayaran lewat QRIS karena tak perlu menyiapkan uang kembalian.
"Lebih mudah nggak perlu banyak uang receh," ujar Turiman.
Bakmi di Jalan Sabang (Foto: Kanavino/detikcom)
Dari Jalan Sabang, detikcom melanjutkan jelajah kuliner ke kawasan sekitar Stasiun Cikini. Tiba sekitar pukul 21.30 WIB, alunan lagu dangdut dari speaker pedagang menyambut kedatangan. Meski suasana sudah terpantau landai, masih ada beberapa orang yang berkeliling dan menikmati jajanan di spot kulineran itu.
detikcom kemudian menjajal pembayaran QRIS BRI di pedagang es campur. Prosesnya pun kembali berjalan lancar seperti sebelumnya. Sang penjual, Aminah, juga mengatakan pembayaran digital itu telah memberikan kemudahan.
Spot Kulineran di Sekitar Stasiun Cikini Foto: Kanavino/detikcom
Pembelian tersebut menjadi penutup dalam jelajah kuliner malam itu. Sepanjang perjalanan, mayoritas pedagang di dua kawasan tersebut sudah menyediakan pembayaran digital QRIS.
Aplikasi BRImo menjadi pilihan utama detikcom pada malam itu. Sesuai data dari BRI, pengguna aplikasi BRImo mencapai 44,4 juta user hingga akhir September 2025, atau meningkat 19,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai transaksi harian BRImo juga menembus Rp25 triliun.
Dari perjalanan jelajah rasa itu, satu pesan penting muncul, yaitu perkembangan digital terus tumbuh. Setiap orang, termasuk para pelaku UMKM harus beradaptasi menyesuaikan kemajuan teknologi, seperti ucapan dari Pak Budi, penjual sate di Sabang.
"Kalau nggak begitu, repot, Bang," ujar Budi.
(knv/fjp)


















































