Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
11 March 2026 15:35
Jakarta, CNBC Indonesia- Sistem irigasi kuno bernama qanat menjadi fondasi kehidupan di banyak wilayah kering Iran selama ribuan tahun.
Teknologi ini memungkinkan air tanah dialirkan dari pegunungan menuju kawasan pertanian di dataran kering melalui jaringan terowongan bawah tanah. Melansir dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) serta dokumen warisan dunia UNESCO, teknologi ini telah digunakan sejak sekitar 800 sebelum masehi.
Qanat dibangun dengan menggali terowongan horizontal yang mengikuti lapisan akuifer di kaki pegunungan.
Foto: Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)
Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)
Air mengalir secara alami menuju dataran rendah melalui kemiringan terowongan, sehingga tidak membutuhkan pompa. Di sepanjang jalur terowongan terdapat sumur-sumur vertikal yang berfungsi untuk ventilasi serta jalur pembuangan tanah hasil galian. Dari permukaan, sumur-sumur tersebut terlihat seperti rangkaian kawah kecil yang mengikuti garis jalur air.
Teknologi ini menjadi sumber air utama bagi kawasan kering di Iran. Melansir FAO, sekitar 75% kebutuhan air di wilayah Kashan dipasok dari jaringan qanat. Air tersebut menghidupi lahan pertanian sekitar 7.350 hektare yang menghasilkan sekitar 100.000 ton tanaman pangan setiap tahun.
Di sektor hortikultura, kawasan ini juga memproduksi sekitar 32.000 ton buah dari lahan sekitar 7.000 hektare.
Foto: Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)
Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)
Ketergantungan masyarakat terhadap qanat juga terlihat dari jumlah petani yang bergantung pada sistem ini. Sekitar 20.000 petani di wilayah Kashan terhubung langsung dengan jaringan irigasi bawah tanah tersebut, baik sebagai pengguna air maupun pengelola lahan yang menerima aliran irigasi.
Air dari qanat memungkinkan berbagai tanaman tumbuh di wilayah yang secara alami kering. Melansir FAO, kawasan Kashan mencatat sekitar 240 spesies tanaman. Komoditas yang berkembang antara lain delima, mawar, almond, plum, walnut, aprikot, anggur, pistachio, quince, zaitun, apel, ceri, hingga saffron. Delima bahkan memiliki posisi khusus dalam tradisi setempat dan sering disebut sebagai "buah surga".
Keberadaan air permanen di wilayah kering juga membentuk ekosistem baru. Lingkungan yang tercipta dari aliran air qanat mendukung habitat bagi berbagai organisme air. Melansir FAO, sistem ini memungkinkan kehidupan bagi setidaknya 25 spesies ikan, kepiting air tawar, tanaman air, serta berbagai invertebrata.
Struktur qanat dirancang berdasarkan perhitungan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Para pekerja qanat menentukan kedalaman sumur induk, panjang terowongan, dan kemiringan jalur air dengan mempertimbangkan curah hujan, kondisi tanah, serta posisi akuifer. Pengetahuan ini berkembang melalui praktik lapangan selama berabad-abad.
Foto: Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)
Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)
Air dalam qanat diambil dari bagian atas akuifer, sehingga cadangan air tanah tetap terjaga. Terowongan bawah tanah juga menekan kehilangan air akibat penguapan. Sistem ini menjadi salah satu bentuk pengelolaan air paling efisien di kawasan gurun.
Melansir UNESCO, jaringan qanat turut membentuk pola permukiman di dataran tinggi Iran. Banyak desa dan kota berkembang mengikuti jalur distribusi air dari sistem ini. Bahkan wilayah gurun di Iran sering disebut sebagai "peradaban qanat" karena kehidupan masyarakatnya tumbuh bersama teknologi tersebut.
Saat ini, beberapa qanat kuno masih berfungsi dan tetap dikelola melalui sistem komunitas tradisional. Dewan lokal mengatur pembagian air bagi petani serta pemeliharaan terowongan. UNESCO menilai sistem pengelolaan ini sebagai warisan budaya hidup yang menjaga keberlanjutan penggunaan air di wilayah kering hingga hari ini.
Foto: Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)
Irigasi Iran. (Dok. UNESCO)
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

















































