Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membahas persoalan Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan yang beberapa kali diprotes warga. Dia mengatakan perencanaan proyek itu tidak terimplementasi dengan baik.
"Jujur saja, RDF Rorotan sekarang akan menjadi salah satu isu bagi Jakarta karena mungkin masalahnya adalah perencanaannya tidak terimplementasi dengan baik hingga saat ini," kata Pramono dalam Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pramono mengatakan RDF Rorotan sedang dalam tahap uji operasional atau commissioning. Dia mengatakan kapasitas pengolahan sampah yang diuji masih berpotensi menimbulkan persoalan.
"Ketika kita melakukan commissioning lebih dari 750 ton per hari, ini akan menjadi masalah. Dan sekarang kami mencoba mempersiapkan hingga 1.000 ton per hari," ujarnya.
Pramono menegaskan Pemprov DKI Jakarta berkomitmen menyelesaikan persoalan RDF Rorotan. Dia mengatakan pengelolaan sampah merupakan hal penting bagi Jakarta.
"Ini tetap harus kita bereskan. Karena bagi Jakarta, pengelolaan sampah dan lingkungan adalah bagian penting dari daya saing kota global," ucapnya.
RDF Rorotan merupakan proyek Pemprov DKI Jakarta untuk pengelolaan sampah berbasis teknologi. Sampah akan diolah menjadi bahan bakar alternatif.
Namun keberadaan RDF sempat diprotes warga Rorotan, Jakut. Warga mengeluhkan bau sampah dari RDF itu.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengaku akan menambah teknologi pengendalian lingkungan di RDF Rorotan dengan memasang sejumlah alat. Sejumlah alat penetral bau ditambah setelah warga sekitar RDF Rorotan memprotes polusi bau.
"Peningkatan teknologi ini kami lakukan untuk meminimalkan potensi dampak lingkungan, khususnya terkait bau dan emisi udara," kata Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto, dilansir Antara, Minggu (1/2).
Lihat Video 'Pramono Bakal Batasi Operasional RDF Rorotan Usai Diprotes Warga':
(bel/haf)


















































