Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan salah satu permasalahan utama di Jakarta, yaitu ketimpangan yang terjadi di antara lapisan masyarakat atau gini rasio yang tinggi.
Hal itu diungkapkan Pramono saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Provinsi DKI Jakarta tahun 2027, Kamis (16/4/2026).
Pramono menjelaskan indikator pertumbuhan ekonomi di Jakarta menunjukkan angka yang baik. Namun di satu sisi angka ketimpangan kekayaan di Jakarta menunjukkan angka yang tinggi.
"Saya gembira, tingkat pengangguran menurun, tingkat kemiskinan menurun. Tapi ada satu problem yang sampai hari ini belum terselesaikan, yaitu Gini Rasio, yang sekarang ini di angka sekitar 4,41%," kata Pramono.
Pramono menjelaskan bahwa angka ini selalu menjadi yang tertinggi dari seluruh provinsi, karena hampir orang kaya Indonesia berada di Jakarta.
"Karena hampir semua orang kaya ada di Jakarta, hampir semua uang besar itu dimiliki orang Jakarta, walaupun mungkin ada yang tinggal di Surabaya, Bali, dan sebagainya, tetapi rata-rata mereka menaruh uangnya atau didistribusikan ada di Jakarta," lanjutnya.
Sehingga untuk mengatasi ketimpangan ini, pemerintah provinsi DKI Jakarta tetap melanjutkan program untuk pemerataan di sektor pendidikan. Seperti Kartu Jakarta Pintar, Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), pemutihan ijazah. Selain itu juga program yang berkaitan dengan pemerataan sosial seperti insentif, bantuan sosial, dan kesehatan.
"Saya minta yang ini tidak diganggu, tidak diubah karena untuk memotong garis ketidakberuntungan atau kemiskinan. Maka sekolah atau pendidikan jadi kata kunci. Maka KJP tetap saya minta pertahankan 707.520 ribu siswa, KJMU 19.920 mahasiswa Jakarta," kata Pramono.
Pramono juga berharap tidak ada lagi pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH), sehingga Pemda DKI Jakarta bisa berkonsentrasi memberikan beasiswa LPDP DKI Jakarta. Untuk mengurangi tingkat gini rasio yang ada di Jakarta.
Dalam kesempatan itu juga dipaparkan indikator makro Jakarta, bahwa laju pertumbuhan ekonomi mencapai 5,21% di tahun 2025, atau diatas pertumbuhan nasional. Inflasi terjaga di sekitar 2%, begitu juga investasi di Jakarta yang tembus Rp 270 triliun di tahun lalu.
(haa/haa)
Addsource on Google


















































