Ramai-Ramai Perusahaan RI Saling Caplok, Siapa Saja?

2 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

17 April 2026 15:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki paruh pertama tahun 2026, pasar modal Indonesia diramaikan oleh serangkaian pengumuman aksi korporasi strategis dari berbagai emiten.

Mulai dari divestasi aset luar negeri, pengambilalihan kendali perusahaan, hingga manuver diversifikasi bisnis ke sektor baru, seluruhnya menandai upaya perusahaan dalam mengoptimalkan struktur fundamental mereka.

Setiap transaksi memiliki rancangan linimasa dan rasionalisasi tersendiri yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah dan efisiensi operasional.

PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dan PT Petrosea Tbk (PTRO)

Pada sektor pertambangan domestik, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mematangkan rencana akuisisi 99,995% atau 507,38 juta saham PT Kemilau Mulia Sakti dari PT Petrosea Tbk (PTRO).

Nilai pengambilalihan ini mencapai Rp1,73 triliun dan dikategorikan sebagai transaksi material karena setara 110,27% dari total aset perseroan per akhir 2025. Untuk mendanai manuver ini, SINI bersiap menggelar rights issue dengan menerbitkan maksimal 721,5 juta saham baru.

Dengan estimasi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, SINI berpotensi meraup dana segar Rp3,61 triliun. Selain menebus aset tambang PTRO, sisa dana dialokasikan untuk melunasi utang lebih awal dan memperkuat modal kerja.

Aksi korporasi yang persetujuannya dimintakan pada Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 26 Mei 2026 ini diproyeksikan menyehatkan neraca keuangan secara masif. Ekuitas perseroan diestimasi berbalik dari negatif Rp687 miliar menjadi positif Rp1,54 triliun.

Total aset melonjak dari Rp1,57 triliun menjadi Rp4 triliun, diiringi perbaikan rasio liabilitas terhadap aset dari 1,44 kali menjadi 0,62 kali. Langkah ini merupakan strategi SINI merambah sektor batu bara yang dinilai sangat prospektif.

PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE)

Perubahan struktur pengendalian secara fundamental terjadi pada PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE). Pada 15 April 2026, PT Penajam Makmur Jaya resmi menuntaskan pengambilalihan 71,22% atau 921,5 juta lembar saham BIKE yang sebelumnya dikuasai oleh keluarga Mulyadi.

Dengan tuntasnya transaksi tanpa hubungan afiliasi ini, PT Penajam Makmur Jaya diwajibkan melaksanakan penawaran tender wajib kepada para pemegang saham publik.

Alasan mendasar di balik pergantian kepemilikan ini erat kaitannya dengan kebutuhan pemulihan kinerja keuangan. Sepanjang tahun 2025, BIKE mencatatkan tekanan berat dengan membukukan rugi bersih sebesar Rp24,4 miliar, berbalik drastis dari capaian laba bersih Rp12,6 miliar pada periode sebelumnya yang berujung pada rugi per saham Rp18,89.

Kehadiran pengendali baru diharapkan merestrukturisasi operasional dan mengembalikan arah profitabilitas perseroan.

PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN)

Sektor agribisnis turut mencatatkan rencana ekspansi jumbo melalui PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) yang menyiapkan belanja modal lebih dari Rp600 miliar untuk 2026.

Mayoritas dana difokuskan untuk membangun pabrik pengolahan inti sawit senilai Rp50 miliar hingga Rp60 miliar, serta Pembangkit Listrik Tenaga Biogas senilai Rp40 miliar hingga Rp50 miliar yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.

Selain ekspansi organik, akuisisi perusahaan kelapa sawit akan terus menjadi pilar utama pertumbuhan perusahaan. Kepercayaan diri TLDN didorong oleh kesuksesan pengambilalihan PT Cipta Davia Mandiri senilai Rp136,32 miliar pada 2025.

Kondisi finansial perseroan juga sangat solid dengan lonjakan pendapatan 28,42% menjadi Rp5,42 triliun pada 2025, ditopang kenaikan harga jual minyak kelapa sawit sebesar 14,5%.

Berbekal fundamental ini, manajemen mematok target peningkatan laba dua digit di tahun 2026.

PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)

Manuver ekspansif dilakukan oleh emiten jasa maritim PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI). Melalui PT ELPI Trans Cargo, perseroan memenangkan lelang pengadaan kapal multi-purpose support vessel di Singapura dengan nilai transaksi USD 46,5 juta atau sekitar Rp790,5 miliar.

Untuk membiayai penyelesaian transaksi yang jatuh tempo pada 7 April 2026 ini, perseroan menggunakan solusi pendanaan jangka pendek berupa fasilitas pinjaman pihak ketiga senilai Rp633,4 miliar.

Fasilitas ini dikenakan bunga 9% per tahun dengan tenor maksimal sembilan bulan hingga perseroan melakukan refinancing. Rasionalisasi di balik keputusan ini adalah kebutuhan mendesak memperkuat kapasitas armada lepas pantai secepat mungkin di tengah lamanya proses perbankan formal.

Walau mengerek tingkat liabilitas, operasional kapal baru ini diyakini memberikan nilai tambah tinggi bagi kelangsungan usaha perseroan.

PT Sumber Mas Konstruksi Tbk (SMKM)

Dari sektor infrastruktur, PT Sumber Mas Konstruksi Tbk (SMKM) mengevaluasi pivot bisnis melalui dua akuisisi di sektor budidaya akuakultur. Perseroan akan mengakuisisi Panasia Aquaculture Pte. Ltd. dengan nilai estimasi USD 100 juta yang ditargetkan rampung pada 30 Juni 2026.

Perseroan juga berencana mengambil alih LSO Organization Holdings Pte. Ltd. senilai SG$ 13 juta dengan penyelesaian maksimal 30 Juni 2027. Langkah ini didasari oleh terbatasnya pertumbuhan bisnis konstruksi perusahaan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga diversifikasi dinilai lebih prospektif.

Untuk merampungkan injeksi aset dari pengendali baru, SMKM berencana melaksanakan rights issue yang persetujuannya dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa selambatnya pada kuartal ketiga 2026.

PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU)

Pada sektor energi, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) sedang mengevaluasi aset hulu minyak dan gas baru di dalam maupun luar negeri. Perseroan menargetkan penandatanganan perjanjian pembelian bersyarat dalam waktu dekat.

Agresivitas ini menyusul keberhasilan RATU memenangkan tender untuk 100% saham SMS Development Limited, entitas pemegang 20% hak partisipasi di operator Blok Madura Strait.

Rasionalisasi ekspansi RATU adalah performa keuangan yang positif, dengan membukukan pertumbuhan laba 10% menjadi USD 15,26 juta pada 2025.

Dari sisi likuiditas, manajemen mengamankan pendanaan melalui penerbitan obligasi dan sukuk senilai Rp800 miliar di awal tahun 2026 yang mencatatkan kelebihan permintaan hingga 6,8 kali dengan total minat mencapai Rp5,46 triliun.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |