- Pasar keuangan RI ditutup beragam, IHSG melemah sementara Rupiah dan SBN menguat
- Wall Street menguat ditopang melemahnya inflasi produsen AS
- Sidang tahunan MPR, pidato Presiden, nota keuangan, respon rilis PPI AS, dan kelanjutan rebalancing MSCI menjadi penggerak utama pasar pada hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. Bursa saham melemah akibat pengumuman rebalancing MSCI, sementara rupiah dan SBN menguat di tengah sentimen sidang tahunan MPR dan nota keuangan RI.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan sangat bergantung pada arah kebijakan yang akan disampaikan pada sidang tahunan MPR dan nota keuangan di Gedung DPR RI hari ini.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (13/8/2026). IHSG tertekan hingga nyaris parkir di level 6.200-an.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup di level 6.301,77, turun 72,08 poin atau 1,13% dari penutupan sebelumnya di level 6.373,85.
IHSG sempat dibuka di level 6.388,23 dan menyentuh level tertinggi 6.390,33. Namun, tekanan jual membawa indeks ke level terendah 6.281,57 sebelum berakhir di 6.301,77.
Kondisi IHSG yang putar balik kemarin juga dirasakan oleh mayoritas saham. Pagi tadi jumlah saham yang di zona hijau masih lebih banyak dibandingkan dengan yang terkoreksi.
Pada akhir perdagangan sebanyak 186 saham menguat, 474 saham melemah, dan 303 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.050 triliun.
Perdagangan kemarin mencatat nilai transaksi sebesar Rp13,61 triliun dengan volume 26,78 miliar saham. Frekuensi transaksi mencapai 1,91 juta kali.
Pada perdagangan kemarin, terpantau asing membukukan net foreign outflow sebesar Rp 1.41 triliun di all market dan mencatatkan net foreign sell di pasar reguler sebesar Rp 1,39 triliun.
Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 71,84 triliun di all market dan Rp 96,56 triliun di reguler market.
Dari jajaran saham yang menjadi pemberat IHSG, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi negatif 7,48 poin, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 7,14 poin.
Selanjutnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menekan IHSG sebesar 5,25 poin, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 3,93 poin, dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar 3,40 poin.
Sementara itu, sejumlah saham tercatat memberikan kontribusi positif dengan bobot terbatas. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) menjadi penopang terbesar sebesar 1,91 poin. Berikutnya ada PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 1,56 poin, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 1,04 poin, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 0,75 poin.
Dari sisi sektoral, seluruh sektor utama yang tercatat di BEI tidak seluruhnya bergerak di zona merah. Sektor properti naik 0,24% dan teknologi 0,08%.
Di sisi lain, bahan baku menjadi sektor dengan pelemahan terdalam, yakni 3,18%. Berikutnya utilitas turun 2,62%, energi melemah 1,28%, konsumer non-primer turun 1,12%, dan industri terkoreksi 1,01%. Sektor keuangan juga melemah 0,74%, sementara sektor kesehatan turun 0,33%.
Tekanan IHSG terjadi setelah MSCI mengumumkan hasil review Agustus. Dalam keputusan tersebut, tidak ada saham Indonesia yang ditambahkan ke MSCI Global Standard Indexes.
Sebaliknya, GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index, sementara PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) turun kelas dari Global Standard ke Global Small Cap. Sembilan saham lainnya juga dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes.
Lanjut ke mata uang garuda, Nilai tukar rupiah berhasil membalikkan tekanan dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (13/8/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan dengan penguatan tipis 0,03% ke posisi Rp17.860/US$. Penguatan tersebut sekaligus memutus tren pelemahan yang berlangsung selama dua hari perdagangan sebelumnya.
Rupiah sebenarnya mengawali perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,06% ke level Rp17.875/US$. Mata uang Garuda kemudian berbalik arah dan menguat 15 poin dari posisi pembukaan hingga penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 99,984.
Pemulihan rupiah berlangsung seiring pelemahan dolar AS setelah inflasi Negeri Paman Sam menunjukkan perlambatan. Inflasi AS secara tahunan turun menjadi 3,4% pada Juli dari 3,5% pada Juni, sedangkan inflasi inti melandai menjadi 2,5% dari sebelumnya 2,6%.
Data tersebut mengurangi peluang bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September sebesar 40%, turun dari 44% sebelum data inflasi diumumkan dan 55% sepekan sebelumnya.
Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami penurunan. Hal ini mengindikasikan transaksi lebih didominasi oleh investor yang melakukan pembelian ketimbang penjualan di pasar.
SBN bergerak ke level 7.151% pada perdagangan kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terpantau juga ditutup pada level 7.226%.


















































