Jakarta -
Sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak mengalami kekeringan, yang berdampak berkurangnya ketersediaan pasokan air bersih. Akibat hal itu, Pemkab Lebak menetapkan status siaga darurat kekeringan.
"Pemerintah kabupaten Lebak sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan selama dua minggu. Kita akan perpanjang selama dua minggu ke depan karena situasinya semakin meningkat," kata Sekretaris BPBD Lebak, Feby Rizki Pratama, Jumat (31/7/2027).
Feby menyebut kekeringan di wilayah Lebak semakin meluas. Tercatat sebanyak 18 desa dari 7 kecamatan mengalami kekeringan cukup parah dan sangat membutuhkan air bersih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah melakukan distribusi (air bersih) ke beberapa kecamatan, ada tujuh kecamatan yang kita intervensi, ada 18 desa dengan jumlah cakupan 4.000 KK yang terlayani," ucapnya.
Feby mengaku mengalami sedikit kesulitan dalam mendistribusikan pasokan air bersih kepada warga yang terdampak. Hal itu terjadi karena BPBD tidak memiliki banyak armada.
"Memang ada delay terutama persoalan armada dan juga jarak, jadi kita hanya punya dua tangki yang bisa melayani, sedangkan jaraknya di kabupaten Lebak cukup berjauhan. Tapi yang jelas, setiap usulan akan kita layani walaupun memang tidak langsung," katanya.
"Sampai sekarang kita sudah mendistribusikan 1.350 liter air bersih," imbuhnya.
Feby menyatakan musim kemarau diprediksi akan terjadi hingga Bulan September. Ia mengajak masyarakat mewaspadai potensi hal-hal yang tidak diinginkan ketika musim kemarau, seperti kebakaran dan dampak kesehatan.
"Sepanjang bulan Juli ada sekitar 35 kejadian kebakaran, di musim kering dari segi kesehatan cukup ekstrim debunya, misalkan (penyakit) ISPA kita menghindari itu, kemudian mereka yang menggunakan sungai untuk mandi, cuci kakus karena sungai tidak bersih. Itu yang diwaspadai ketika musim kering," pungkasnya.
Tonton juga video "BMKG Ungkap Dua Bahaya Intai Indonesia Akibat El Nino Kuat!"
(yld/yld)


















































