Orang Kaya Harta Rp138 Triliun Tak Sudi Kasih Duit Buat Lembaga Amal

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang miliarder CEO bursa kripto raksasa menyatakan penolakan keras terhadap kegiatan amal dan sumbangan sosial. Brian Armstrong, pendiri sekaligus direktur utama Coinbase yang memiliki kekayaan bersih mencapai US$ 8,7 miliar atau sekitar Rp 138 triliun, menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak akan pernah menyumbangkan hartanya untuk kegiatan sosial.

Menurutnya, banyak lembaga amal justru membawa dampak buruk bagi dunia, dikutip dari laporan Futurism, Selasa (1/9/2026).

Pernyataan itu disampaikan Armstrong dalam sebuah wawancara podcast. Ia menyatakan pandangan yang berlawanan dengan kebiasaan para miliarder. Jika dulu para miliarder seperti Andrew Carnegie dan John D. Rockefeller dikenal membangun perpustakaan, mendanai penelitian kesehatan, serta menyumbangkan karya seni demi kemaslahatan umum, kini justru muncul pandangan baru dari kalangan orang kaya teknologi yang enggan berbagi harta.

"Sebenarnya saya memiliki pandangan yang berbeda. Saya melihat banyak lembaga amal dan yayasan sosial ternyata justru membawa dampak buruk secara keseluruhan bagi dunia," ujar Armstrong.

Ia menambahkan bahwa banyak yayasan yang awalnya didirikan demi kebaikan akhirnya dikuasai oleh kepentingan dan pandangan tertentu sehingga tidak lagi berjalan sesuai tujuan semula.

"Sangat sulit menemukan yayasan yang tidak akhirnya dikuasai oleh kepentingan kelompok tertentu. Itulah sebabnya hingga saat ini saya memilih untuk tidak melakukannya," tegasnya.

Pernyataan itu makin mengundang perdebatan karena kekayaan yang dimiliki Armstrong menempatkannya di jajaran orang terkaya di dunia. Namun, ia tetap konsisten dengan pendiriannya dan menolak mengikuti jejak orang kaya lain yang menyumbangkan sebagian hartanya demi terlihat baik di mata masyarakat.

Pernyataan Armstrong ini memunculkan perbedaan pandangan yang tajam di kalangan orang kaya dunia. Di satu sisi, tokoh seperti Bill Gates dan Mackenzie Scott yang menyumbangkan sebagian besar hartanya melalui lembaga amal untuk membantu kesehatan dan pendidikan di negara berkembang.

Namun di sisi lain, muncul suara-suara seperti Armstrong yang menolak menyumbang dengan alasan lembaga amal tidak efektif dan mudah disalahgunakan.

Armstrong menyebutkan bahwa banyak orang kaya yang menyumbang sebenarnya hanya demi memperbaiki citra diri setelah mendapat tekanan atau tuduhan dari pihak berwenang. Artinya, sumbangan itu bukan murni keikhlasan, melainkan cara untuk menutupi masalah yang ada.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |