Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
01 September 2026 11:47
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) melibatkan berbagai perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Peluang bisnisnya tersebar dari pertambangan nikel, pengolahan material baterai, penjualan kendaraan, hingga penyediaan fasilitas pengisian daya.
Puluhan emiten di ekosistem kendaraan listrik ini akan menopang ambisi besar Indonesia sebagai pemain utama kendaraan listrik dunia.
Namun, keterlibatan setiap emiten berbeda. Sebagian sudah menjual material untuk rantai pasok baterai, sementara perusahaan lainnya masuk melalui anak usaha atau proyek yang masih dikembangkan.
Karena itu, pemetaan emiten perlu melihat produk yang benar-benar dijual. Kepemilikan tambang nikel tidak otomatis menjadikan perusahaan sebagai produsen baterai. Begitu pula penjualan kendaraan listrik belum tentu menjadi sumber pendapatan utama suatu grup usaha.
Pengolahan Nikel hingga Material Baterai
Sejumlah emiten memiliki kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel dengan produk akhir yang berbeda-beda. Produk tersebut antara lain feronikel, nickel pig iron (NPI), nickel matte, dan mixed hydroxide precipitate (MHP).
MHP merupakan produk antara yang mengandung nikel dan kobalt. Material ini masih memerlukan pengolahan lanjutan sebelum digunakan dalam pembuatan baterai kendaraan listrik.
Di luar produk yang sudah dijual, INCO mengembangkan fasilitas pengolahan HPAL, termasuk proyek Pomalaa bersama Huayou dan Ford, yang ditujukan untuk menghasilkan MHP. Pengembangan tersebut perlu dipisahkan dari kegiatan penjualan perusahaan yang sudah berjalan.
ANTM juga terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai bersama Indonesia Battery Corporation dan mitra CBL/CATL. Namun, keterlibatan dalam proyek tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan penjualan baterai EV jadi.
Sementara itu, Merdeka Copper Gold (MDKA) memiliki keterlibatan pada rantai nikel melalui MBMA. Dalam pemetaan ekosistem, hubungan induk dan anak usaha ini perlu ditandai agar kegiatan operasional yang sama tidak dihitung sebagai dua bisnis terpisah.
Pemain Hulu, Jualannya Masih Bijih Nikel
Kelompok berikutnya merupakan emiten dengan kegiatan penjualan bijih nikel. Mereka menjadi bagian dari industri bahan baku, tetapi tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai produsen material baterai.
Sebagian juga memiliki penjualan komoditas atau layanan lain. Karena itu, deskripsi usaha perlu mengikuti rincian penjualan perusahaan, bukan hanya kepemilikan aset tambang atau smelter.
Untuk mengukur keterkaitan kelompok ini dengan EV, investor masih perlu menelusuri pelanggan, jalur pengolahan, serta penggunaan akhir produknya. Penjualan bijih nikel sendiri belum membuktikan bahwa seluruh material tersebut masuk ke rantai baterai.
Kendaraan Listrik, Penyewaan, dan Pengisian Daya
Pada sisi kendaraan dan layanan pendukung, keterlibatan emiten lebih beragam. Ada perusahaan yang menjual bus listrik, memasarkan motor listrik, menyediakan penyewaan armada, hingga mengelola jaringan pengisian daya.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan di EV tidak selalu berarti seluruh pendapatan emiten berasal dari kendaraan listrik. VKTR masih memiliki bisnis komponen otomotif, sedangkan SLIS juga mencatat penjualan komponen elektronik.
AUTO Jadi Wakil Bisnis Charging Astra
Untuk kategori pengisian daya, AUTO lebih tepat ditempatkan sebagai emiten utama karena Astra Otopower merupakan portofolio Astra Otoparts. Sementara itu, Astra International dengan kode saham ASII dapat dicatat sebagai induk perusahaan.
Jaringan Astra Otopower sudah beroperasi. Berdasarkan pengumuman perusahaan pada Februari 2026, terdapat 65 unit di 57 lokasi pada akhir 2025. Angka tersebut menunjukkan jumlah fasilitas, bukan jumlah pengguna maupun transaksi pengisian.
Meski demikian, sumber yang ditelaah belum memberikan rincian jumlah sesi charging, energi yang disalurkan, tingkat penggunaan fasilitas, maupun laba khusus Astra Otopower. Dengan demikian, keberadaan jaringan charging belum cukup untuk menyimpulkan bahwa bisnis tersebut menjadi penyumbang utama keuntungan AUTO.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)


















































