Thailand Bukan Lagi Macan Asia: Menua Sebelum Kaya - Terjebak Utang

3 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

01 September 2026 10:52

Jakarta, CNBC Indonesia - Thailand pernah dipandang sebagai salah satu "macan Asia" karena pertumbuhan ekonominya yang pesat. Kini, Negeri Gajah Putih itu harus menghadapi ancaman pertumbuhan ekonomi yang rendah dan suku bunga murah.

Suku bunga acuan Thailand saat ini hanya sebesar 1%. Angka tersebut menjadi salah satu yang terendah di dunia, hanya berada di atas sejumlah negara seperti Swiss.

seperti diketahui, Bank of Thailand (BoT) kembali mempertahankan suku bunga pada pertemuan Rabu (26/8/2026), untuk ketiga kalinya secara beruntun. Keputusan itu berbeda dengan langkah sejumlah bank sentral lain yang mulai menaikkan bunga untuk meredam inflasi akibat perang di Timur Tengah.

Bahkan, bunga Thailand berpeluang segera lebih rendah dibandingkan Jepang. Bank of Japan (BoJ) telah menaikkan suku bunga menjadi 1% pada Juni 2026 dan diperkirakan kembali menaikkannya paling cepat pada September mendatang karena tekanan harga yang meningkat.

Lalu, kenapa Thailand mempertahankan suku bunga begitu rendah?

Dilansir dari Financial Times, rendahnya bunga Thailand bukan hanya disebabkan oleh kondisi ekonomi jangka pendek. Masalahnya jauh lebih dalam, mulai dari utang rumah tangga yang tinggi, jumlah penduduk lanjut usia yang terus bertambah, hingga melemahnya mesin utama perekonomian.

Kondisi tersebut membuat Thailand menghadapi risiko "Japanifikasi", yaitu keadaan ketika ekonomi tumbuh lambat dan inflasi bertahan rendah dalam waktu yang sangat panjang.

Terancam Mengikuti Jejak Jepang

Jepang selama bertahun-tahun bergelut dengan pertumbuhan rendah, deflasi, dan suku bunga sangat murah. Kini, gejala serupa mulai terlihat di Thailand.

Kepala Ekonomi Asia Oxford Economics Louise Loo mengatakan risiko Japanifikasi memang lebih besar di Asia karena penduduknya menua lebih cepat dibandingkan kawasan lain.

Namun, Thailand menghadapi tekanan yang lebih berat karena penuaan penduduk terjadi bersamaan dengan tingginya utang.

"Asia secara keseluruhan menghadapi risiko Japanifikasi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lain karena penduduknya menua. Thailand menghadapi tekanan terbesarnya karena tingkat utangnya sudah sangat tinggi," ujar Loo.

China juga menghadapi persoalan serupa. Bedanya, Beijing dinilai masih memiliki lebih banyak pilihan kebijakan ekonomi dan fiskal untuk mendorong pertumbuhan.

Ekonom Senior Economic Intelligence Center Siam Commercial Bank Nond Prueksiri menilai rendahnya bunga Thailand merupakan masalah struktural, bukan sekadar akibat naik-turunnya siklus ekonomi.

Thailand tidak memiliki permintaan yang cukup kuat untuk mendorong harga dan pertumbuhan. Penduduk yang semakin tua serta beban utang yang besar membuat ruang masyarakat untuk meningkatkan belanja semakin terbatas.

"Kami tidak memiliki dorongan permintaan yang besar. Kami adalah masyarakat yang menua dan memiliki utang tinggi, sehingga peluang konsumen untuk meningkatkan belanja tidak terlalu besar," kata Nond.

Sempat Deflasi 12 Bulan Beruntun

Lemahnya permintaan terlihat dari pergerakan harga barang dan jasa.

Sebelum perang di Timur Tengah pecah, Thailand mengalami deflasi selama 12 bulan berturut-turut. Deflasi merupakan kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum turun.

Sekilas, harga yang turun terdengar menguntungkan. Namun, jika berlangsung terlalu lama, deflasi dapat menjadi tanda bahwa daya beli dan permintaan masyarakat sedang lemah.

Perang di Timur Tengah sempat mendorong kenaikan harga. Meski demikian, tekanan tersebut mulai mereda. Inflasi utama Thailand turun selama tiga bulan beruntun hingga mencapai 1,95% pada Juli.

Tekanan deflasi menjadi kabar kurang baik bagi Thailand yang ingin naik menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2037.

Pertumbuhan ekonomi negara terbesar kedua di Asia Tenggara itu telah tertahan di kisaran 2% selama beberapa tahun. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan pertumbuhannya akan kembali melambat pada tahun ini.

Mesin Ekonomi Thailand Mulai Tersendat

Pariwisata selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi Thailand. Namun, sektor tersebut terpukul sangat dalam ketikapandemiCovid-19 menghentikan perjalanan internasional.

Walaupun wisatawan telah kembali berdatangan, pemulihannya belum cukup untuk membawa pertumbuhan ekonomi Thailand kembali melaju kencang.

Tekanan juga datang dari sektor ekspor. Barang-barang produksi Thailand harus bersaing dengan produk China yang lebih murah. Pada saat yang sama, negara seperti Vietnam berkembang menjadi pusat manufaktur baru di kawasan.

Ancaman kenaikan tarif impor dari Amerika Serikat (AS) turut menambah tekanan. Di dalam negeri, jumlah tenaga kerja yang menyusut membuat kemampuan produksi Thailand semakin terbatas.

Asisten Gubernur BoT Bidang Kebijakan Moneter Don Nakornthab menggambarkan pertumbuhan ekonomi Thailand sebagai "rendah dan tidak merata".

Menurutnya, bank sentral masih dapat menurunkan bunga apabila terjadi krisis. Namun, kebijakan moneter hampir mencapai batas kemampuannya untuk membantu perekonomian.

Suku bunga yang lebih rendah memang dapat mengurangi biaya pinjaman. Akan tetapi, penurunan bunga belum tentu membuat masyarakat berani berbelanja apabila pendapatan tidak bertambah dan utang sudah menumpuk.

Karena itu, Thailand membutuhkan langkah yang lebih terarah dari bank sentral serta stimulus fiskal dari pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan.

Persoalan terbesar Thailand berada pada struktur penduduknya.

Tingkat kelahiran negara tersebut telah menyentuh posisi terendah dalam 75 tahun. Berdasarkan data Bank Dunia, tingkat kesuburan Thailand hanya sebesar 1,2 anak per perempuan.

Angka itu jauh di bawah 2,1 anak per perempuan yang dibutuhkan untuk menjaga jumlah penduduk tetap stabil.

Sejumlah ahli memperkirakan populasi Thailand dapat menyusut dari sekitar 67 juta jiwa menjadi hanya 30 juta jiwa dalam 50 tahun mendatang.

Berkurangnya jumlah penduduk usia produktif dapat menahan pertumbuhan ekonomi. Jumlah pekerja yang lebih sedikit membuat produksi dan penerimaan pajak ikut tertekan, sementara kebutuhan belanja untuk merawat penduduk lanjut usia semakin besar.

"Sejak sebelum Covid, jumlah penduduk usia kerja Thailand telah menyusut. Kondisi ini menunjukkan rendahnya pertumbuhan struktural ke depan. Hal tersebut cenderung menghasilkan inflasi rendah dan pada akhirnya suku bunga rendah," ujar Kepala Ekonom Asia Berkembang Pantheon Macroeconomics Miguel Chanco.

Persoalan ekonomi dan kependudukan Thailand memiliki kemiripan dengan Jepang dan Korea Selatan. Namun, terdapat satu perbedaan besar. Thailand menua sebelum berhasil menjadi negara maju.

Jumlah penduduk Thailand yang berusia lebih dari 65 tahun telah meningkat dua kali lipat sepanjang 2000 hingga 2020. Bank Dunia memperkirakan porsinya kembali berlipat ganda menjadi sekitar 26% dari seluruh populasi pada 2040.

Ekonom independen Burin Adulwattana menggambarkan keadaan tersebut sebagai kondisi "menjadi tua sebelum kaya".

"Kita akan menjadi tua, tetapi belum kaya. Kita mengikuti jalur negara maju tanpa terlebih dahulu mencapai tingkat pendapatan yang biasanya menyertai kondisi tersebut," ujarnya.

Utang Membuat Masyarakat Sulit Berbelanja

Masalah demografi Thailand diperberat oleh tingginya utang rumah tangga.

Menurut HSBC, utang rumah tangga Thailand telah mencapai 86% terhadap produk domestik bruto (PDB). Rasio tersebut menjadi yang tertinggi di antara negara-negara berpendapatan menengah atas.

Sebagian masyarakat bahkan menggunakan pinjaman untuk membiayai kebutuhan sehari-hari ketika pertumbuhan ekonomi dan upah melambat.

Beban cicilan yang besar membuat pendapatan masyarakat lebih banyak digunakan untuk membayar utang. Ruang untuk membeli barang, berwisata, atau melakukan pengeluaran lain pun semakin sempit.

Lemahnya konsumsi kemudian menahan pertumbuhan bisnis dan harga. Dalam kondisi seperti ini, bank sentral sulit menaikkan bunga karena biaya pinjaman yang lebih mahal berisiko semakin membebani masyarakat.

Thailand akhirnya terjebak dalam lingkaran yang sulit diputus. Pertumbuhan rendah membuat pendapatan tidak banyak meningkat, sementara penduduk yang menua dan utang yang tinggi menekan konsumsi. Lemahnya permintaan menjaga inflasi tetap rendah dan membuat suku bunga harus terus dipertahankan pada level murah.

Karena itu, bunga Thailand yang hanya 1% bukan sekadar kabar baik bagi peminjam. Angka tersebut sekaligus mencerminkan persoalan ekonomi yang semakin dalam, dimana Thailand sedang menua sebelum berhasil menjadi negara kaya.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |