Jakarta -
Sekitar 11 tahun yang lalu, Irvan Tan berpikir bagaimana caranya agar bisa hidup lebih sehat. Irvan saat itu pegawai kantoran. Yang terlintas di benaknya yakni cara makan sayur sehat tapi tetap bisa dinikmati. Rupanya, niat baik ini benar-benar mengubah hidup Irvan.
Eks bankir lulusan University of California, LA, Amerika Serikat ini menceritakan bagaimana dirinya resign dari pekerjaan dan terjun ke dunia usaha makanan. Irvan, kala itu pegawai bank, mengulik teknologi yang bisa membuat sayur lebih enak dan praktis dikonsumsi.
"Awalnya kita mulai dari pengin hidup sehat secara pribadi. Dulu saya pekerja kantoran, jadi secara pribadi mau hidup sehat, jadi mulai nih research teknologi yang ada bagaimana bisa bikin makan sayur lebih enak, lebih praktis," kata Irvan ditemui di kawasan PIK, Rabu (17/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelahnya, dia mengikut bazar. Bermodalkan riset yang tak kenal lelah, Irvan berhasil memproduksi keripik sayur yang dikeringkan untuk dikonsumsi pribadi. Produk inilah yang dibawanya ke bazar.
"Saya itu dulu di bank, resign. Jadi begitu bazarnya jalan, habis kita riset, udah oke barangnya, masih pegawai bank tuh, habis gitu kita bazar. Demandnya oke udah saya resign, kelihatan pasarnya," ujar dia.
Keripik sayur sehat ini diberi nama Crispy Salad. Oleh Irvan, sayuran asli dikeringkan dengan tekonologi vaccum-dry dan freeze-dry dengan tidak menambahkan MSG, pewarna, pengawet ataupun zat kimia lainnya. Rupanya, camilan buatan Irvan digemari orang-orang terdekatnya. Mereka meminta Irvan menjual produk tersebut pada 2015.
Di tahun tersebut, produk Irvan hanya bisa bertahan 1 hari. Penjualannya pun sesuai permintaan saja alias pre order.
Didorong permintaan yang tinggi dan ketekunan dalam riset, Irvan berhasil memperpanjang masa simpan keripik sehat produksinya karena mencari ilmu ke pakar-pakar maupun pemilik usaha terkait. Kini, produk Irvan bisa tahan hingga 2 tahun, tergantung variasinya. Keripik sehat Irvan pun tak cuma sayuran saja saat ini, ada juga dari buah-buahan. Variasinya adalah brokoli, okra, ubi, kentang, edamame, jamur, apel hingga stroberi.
"Nah, jadi kita setelah bazar itu actually balik ke R&D (research and development) untuk perpanjang shelf life-nya. Awalnya produk ini cuma tahan 1 hari. Jadi kita itu kan tanpa pengawet, jadi benar-benar kita itu hanya bisa fokus di kemasan dan processingnya. Nah, setelah itu kita bisa 3 bulan, bisa 9 bulan, sekarang bisa setahun ya. Sekarang bisa tahan setahun sampai 2 tahun, tergantung variannya," tutur Irvan.
Produk Crispy Salad bisa dipesan via marketplace maupun di beberapa supermarket dan sejumlah toko perlengkapan bayi. Irvan juga bekerja sama dengan reseller di kota-kota Indonesia dengan sistem beli putus.
Irvan mengaku sejumlah supermarket tertarik dengan produknya karena media sosial. Reseller pun sama. Rumah produksi Crispy Salad berada di Sunter, Jakarta Utara.
Usaha Crispy Salad yang dikelola Irvan Tan. Foto: Gibran Maulana/detikcom.
Dari Belasan Jadi Ratusan Juta Sebulan
Karena produknya yang menyebar di beberapa supermarket di Indonesia dan juga ditopang penjualan online maupun reseller, Irvan kini bisa meraup omzet ratusan juta Rupiah per bulan. Dulu, katanya, omzetnya belasan juta saja tiap bulannya, itupun tidak konsisten karena masa simpan yang hanya sehari.
"Untuk di awalnya sih kita mulainya di 2015 akhir itu kan kita baru bazar ya, itu kecil lah, mungkin bazarnya kalau dibilang omzet awal sih mungkin belasan juta per bulan lah ya, jutaan, belasan juta per bulan, kecil, dan itu juga tidak konsisten karena kita itu shelf lifenya cuma 1 hari. Jadi kita itu setelah bazar itu kita itu hanya open by PO," sebut dia.
"Setelah itu kita riset lagi, di 2016 kita bisa berhasil panjangin ke 3 bulan, 3 bulan masuk ke supermarket di akhir 2016-2017 itu sudah bisa masuk supermarket. Itu omzet kita sudah berkisar di sekitar 70-an juta, kalau sekarang di sekitar 200-an juta lah," tuturnya.
Usaha Irvan terus berkembang hingga saat ini. Irvan melanjutkan, reseller Crispy Salad ada sekitar 60 di seluruh Indonesia.
"Yang aktif mungkin 50-60 lah ya, 50-60 seluruh Indonesia. Jadi kalau di luar kota kita itu sistemnya tuh reseller, jadi mereka beli putus ya, beli putus. Jadi kebanyakan di luar kota sih ada lah, kebanyakan toko baby. Reseller kita kebanyakan toko baby," ujar dia.
Gabung Rumah BUMN BRI untuk Perluas Pasar
Saat ini Irvan bertekat usahanya bisa menembus pasar ekspor. Irvan aktif bergabung menjadi binaan, termasuk di bawah naungan Rumah BUMN BRI di Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat, yang menaungi banyak UMKM dengan memberikan pelatihan dan kelas maupun membantu membuka akses pasar.
"Kalau rumah BUMN, kalau dengan BRI kita join mungkin 2024 kita mulai join. BRI kan yang menaungi Rumah BUMN daerah Jakarta. Nah, kita jadi salah satu binaannya," sebut dia.
Irvan mengaku mengenal Rumah BUMN BRI saat mengikuti pelatihan komunitas. Saat itu pelatih yang didatangkan berasal dari Rumah BUMN BRI. Merasa masih banyak yang harus dikembangkan dari usahanya, Irvan memutuskan bergabung ke Rumah BUMN BRI.
"Dari itu kita diundang untuk masuk ke rumah BUMN BRI ya. Kita sendiri merasa masih banyak yang perlu kita kembangkan, makanya kita itu terbuka untuk banyak menjadi binaan. Jadi, ada banyak instansi yang actually kita join soalnya kita sadar masih banyak yang perlu kita improve nih untuk bisa membesarkan skalanya kita," sebut dia.
Di Rumah BUMN BRI, dirinya mendapat pelatihan mulai dari pembenahan internal, pembukuan internal, manajemen internal dan yang sangat dicarinya yakni pemasaran. "Jadi dari sisi pameran itu yang dicari dan inilah ya yang paling diharapkan lah, akses ke pemasaran yang lebih besar," sebut Irvan.
Rabu pekan lalu, Irvan bercerita dirinya bakal mengikuti acara di Korea Selatan. Sebelum ini, Irvan telah membawa Crispy Salad mejeng di pameran Malaysia, Arab Saudi dan Turki.
"Kita itu sebelumnya sudah pernah pameran di Malaysia, kita pernah di Saudi Arabia sama Turki bareng kita. Yang Malaysia sama Saudi di 2024, yang 2025 di Turki," katanya.
"Kalau yang Turki itu kemarin waktu kita pameran di Jakarta ketemu sama Adag, Atase Perdagangan di Turki. Dia lihat produk kita lumayan tertarik, akhirnya kita itu dibawa ke Turki untuk diikutin pamerannya, produk kita diikutin oleh pameran oleh Adagnya Turki," imbuh Irvan.
Tentang Rumah BUMN BRI
Rumah BUMN BRI di Jakarta fokus mendorong digitalisasi agar lebih dikenal masyarakat. Digitalisasi dari Rumah BUMN Jakarta diharapkan bisa membawa UMKM memperluas pasar mereka, bahkan hingga ekspor.
Dari Rumah BUMN Jakarta, BRI menaikkan level UMKM melalui pendampingan, pelatihan, memberikan akses pendanaan, hingga mencari pasar. Rumah BUMN untuk UMKM naik kelas sudah eksis sedari 2017.
"Jadi kita mendorong ke digitalisasinya. Tapi memang enggak menutup kemungkinan UMKM-UMKM yang potensial untuk ekspor, kita dorong ke go global-nya," kata Koordinator Rumah BUMN Jakarta Jajang Rohmana dalam suatu wawancara bersama detikcom.
"Di Rumah BUMN, para pelaku usaha atau UMKM mendapatkan pelatihan untuk mempertajam skill kewirausahaan, pendampingan digital, hingga akses permodalan dan jejaring pasar," ujar Jajang.
(gbr/gbr)

















































