Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak beberapa tahun lalu, AI diketahui mengancam pekerjaan manusia. Parahnya, teknologi ini disebut bisa membuat lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran dalam waktu lama.
CEO ServiceNow, Bill McDermott menjelaskan AI dapat mendorong angka pengangguran pada mereka yang baru lulus perguruan tinggi hingga pertengahan usia 30 tahunan. Di saat bersamaan, kemungkinan sebagian besar pekerjaan dilakukan agen.
"Sebagian besar pekerjaan akan dilakukan oleh agen. Akan menjadi tantangan anak muda membedakan diri mereka di lingkungan korporat," jelasnya dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (16/3/2026).
Menurutnya adopsi AI juga menyebabkan kesulitan kerja pada mereka yang berada di tingkat pemula. Karena tiap perusahaan berupaya meningkatkan produktivitas.
Sementara itu. bank Federal Reserve memperkirakan tingkat perguruan fresh graduate pada akhir 2025 mencapai 5,7%. Untuk tingkat pengangguran terselubung sebesar 42,5%, dan menjadi yang tertinggi sejak 2020.
AI memang dijadikan alasan beberapa perusahaan untuk melakukan PHK besar-besaran. Mereka berdalih pengurangan itu terkait bantuan alat AI.
Salah satunya Block yang memangkas hampir separuh tenaga kerjanya dengann alasan AI semakin banyak mengotomatisasi peekrjaan. Sementara Atlassian telah mengumumkan memecat 10% pehawai untuk mendukung invetsasi AI.
CEO Palantir Alex Karps pernah mengatakan sebelumnya ingin menambah pendapatan hingga 10 kali lipat. Ini dilakukan sambil perusahaana menerapkan kebijakan pengurangan jumlah karyawan.
CEO Amazon Andy Jassy juga telah mengumumkan rencana PHK pada korporatnya yang menggunakan alat AI.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































