Kemeja 'Pro Mega' Prananda dkk Ramaikan Acara Kudatuli, PDIP Ungkap Artinya

4 days ago 8
Jakarta -

Sejumlah kader PDIP mengenakan kemeja hitam bertuliskan 'Pro Mega' saat menghadiri peringatan 30 tahun Kudatuli di DPP PDIP. Apa makna di balik kemeja 'Pro Mega' itu?

Adapun acara peringatan 30 tahun Kudatuli sekaligus peresmian Monumen Kudatuli digelar di DPP PDIP, Menteng, Jakarta, Senin (27/7/2026). Dalam acara itu, Ketua DPP PDIP Prananda Prabowo, kader PDIP sekaligus Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, terlihat mengenakan kemeja 'Pro Mega'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira memberi penjelasan mengenai tulisan 'Pro Mega' tersebut. Dia mengatakan tulisan itu berkaitan dengan peristiwa di masa lalu.

"Pro Mega atau PDI Pro Mega adalah kelompok atau lebih tepatnya gerombolan massa militan pendukung Megawati Soekarnoputri yang muncul dari akar rumput masyarakat pada periode pertengahan dekade 1990-an setelah Kongres Luar Biasa (KLB) PDI 1993 di Surabaya," kata Andreas saat dihubungi, Selasa (28/7/2026).

Andreas mengatakan gerombolan Pro Mega saat itu yang menentang rezim Orde Baru Soeharto. Ia juga menjelaskan gerombolan tersebut yang juga membawa perubahan pada Reformasi tahun 1998.

"Gerombolan Pro Mega merupakan basis akar rumput massa pendukung yang dengan gagah berani, pantang menyerah melawan rezim lalim Orde Baru Soeharto. Peristiwa Kudatuli 1996 adalah puncak kelaliman Orde Baru, sekaligus juga bukti daya tahan PDI Pro Mega melawan kelaliman Orde Baru yang kemudian membawa perubahan menuju pada reformasi pada tahun 1998 dengan diturunkannya Soeharto dan tumbangnya rezim Orde Baru," jelas dia.

Lebih lanjut, Andreas menyebut gerombolan Pro Mega ini yang juga akhirnya melahirkan PDI Perjuangan. Dia mengatakan kemeja 'Pro Mega dikenakan kader PDIP untuk mengenang peristiwa tersebut.

"Gerombolan Pro Mega ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya PDI Perjuangan yang memenangkan PDI Perjuangan pada Pemilu pertama setelah reformasi pada tahun 1999. Mengapa kader-kader partai hari ini 27 Juli 2026 mengenakan ikat kepala Pro Mega adalah untuk mengenang heroisme kader-kader akar rumput pendukung Megawati 30 tahun lalu yang berani, berjuang membela kebenaran. Kami tidak lupa!" tutur dia.

Senada denga Andreas, Ketua DPP PDIP Ganjar Pranowo juga menjelaskan hal yang sama. Ia menyebut tulisan itu berangkat dari dua kubu berbeda di masa 1996.

"Mengingatkan saja, pada peristiwa 27 Juli 1996 ada kelompok Pro Suryadi dan Pro Mega," tutur Ganjar

Kemudian, politikus PDIP Guntur Romli mengatakan tulisan 'Pro Mega' memiliki makna historis. Dia mengatakan tulisan itu berkaitan dengan perlawanan pendukung Megawati Soekarnoputri terhadap intervensi dan Order Baru.

"Ketika PDI di bawah pimpinan Ibu Megawati dipecah belah oleh Orde Baru Soeharto, muncul dualisme kepemimpinan, PDI Pro Soerjadi yang didukung Orde Baru Soeharto yang bikin KLB ilegal di Medan, 20 Juni 1996, maka muncul PDI ProMeg (Pro Mega) sebagai bentuk perlawanan massa akar rumput PDI," kata Guntur Romli.

Dia mengatakan saat itu PDI Pro Soerjadi diakui pemerintah Orde Baru dan mengikuti Pemilu 1997 dan PDI Pro Mega tak bisa menggunakan hak pilihnya. Namun, kemudian kelompok PDI Pro Mega bertransformasi menjadi PDI Perjuangan pada 1999.

"Meski PDI Pro Soerjadi yang disahkah Orde Baru Soeharto dan ikut Pemilu 1997, PDI ProMega tidak bisa ikut pemilu, dan Ibu Mega juga tidak menggunakan hak pilihnya. PDI ProMega ini yang kemudian bertransformasi menjadi PDI Perjuangan tahun 1999," jelasnya.

Guntur mengatakan tulisan 'Pro Mega' ini untuk mengenang perjuangan pada 30 tahun lalu. Selain itu juga untuk membangkitkan kembali energi pendukung Megawati.

"Untuk mengenang dan membangkitkan energi pendukung Ibu Megawati era itu, karena PDI ProMega itu pula kantor PDI diserang pada 27 Juli 1996," tuturnya.

(amw/gbr)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |