Kabar Buruk AS untuk Eropa, Kawasan Bisa Kena Masalah Besar

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) secara resmi menginformasikan kepada sejumlah sekutu Eropanya bahwa pengiriman senjata yang telah dikontrak sebelumnya kemungkinan besar akan mengalami penundaan. Langkah mengejutkan ini diambil Washington lantaran perang Iran yang terus berkecamuk telah menguras stok persenjataan mereka secara signifikan.

Lima sumber yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa penundaan ini berdampak pada beberapa negara Eropa, termasuk yang berada di wilayah Baltik dan Skandinavia. Komunikasi ini dilakukan secara tertutup karena sifatnya yang sensitif bagi pertahanan nasional negara-negara terkait.

Beberapa senjata yang dimaksud dibeli oleh negara-negara Eropa melalui program Penjualan Militer Asing atau Foreign Military Sales (FMS), namun hingga kini barang-barang tersebut belum juga dikirimkan. Sumber tersebut menambahkan bahwa pejabat AS telah menyampaikan pesan bilateral kepada pejabat Eropa dalam beberapa hari terakhir mengenai potensi keterlambatan pengiriman tersebut.

"Pejabat AS telah menginformasikan kepada beberapa rekan di Eropa bahwa beberapa pengiriman senjata yang telah dikontrak sebelumnya kemungkinan besar akan tertunda karena perang Iran terus menguras stok senjata," ujar para sumber tersebut dalam laporan eksklusif Reuters.

Pihak Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS telah mengalihkan pertanyaan terkait masalah ini kepada Pentagon. Namun, hingga berita ini diturunkan, Departemen Pertahanan AS tersebut belum memberikan tanggapan resmi mengenai keluhan dari para sekutunya di Eropa.

Penundaan ini menggarisbawahi sejauh mana perang melawan Iran, yang dimulai dengan serangan udara AS-Israel pada 28 Februari lalu, telah mulai meregangkan pasokan beberapa persenjataan dan amunisi kritis AS. Kondisi ini membuat para pejabat Eropa mulai melontarkan protes karena merasa posisi pertahanan mereka kini berada di titik yang sulit.

"Pejabat Eropa mengeluh bahwa penundaan ini menempatkan mereka dalam posisi yang sulit," ungkap sumber tersebut.

Di bawah program FMS, negara-negara asing membeli senjata buatan AS dengan bantuan logistik dan persetujuan dari pemerintah AS. Washington di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya terus mendesak mitra NATO di Eropa untuk membeli lebih banyak material buatan AS sebagai bagian dari upaya mengalihkan tanggung jawab pertahanan konvensional Eropa dari AS ke mitra-mitra Eropa itu sendiri.

Namun, pengiriman senjata tersebut sering kali tertunda dan memicu frustrasi di ibu kota negara-negara Eropa. Akibat ketidakpastian ini, beberapa pejabat Eropa dilaporkan mulai mempertimbangkan untuk beralih ke sistem senjata yang diproduksi di dalam benua Eropa sendiri.

Pejabat AS berdalih bahwa senjata-senjata tersebut sangat dibutuhkan untuk kepentingan perang di Timur Tengah. Selain itu, pihak AS juga menyalahkan negara-negara Eropa karena dianggap tidak membantu AS dan Israel dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

"Pejabat AS mengatakan senjata-senjata tersebut dibutuhkan untuk perang di Timur Tengah, dan mereka menyalahkan negara-negara Eropa karena tidak membantu AS dan Israel membuka Selat Hormuz," lanjut sumber tersebut.

Bahkan sebelum perang Iran pecah, AS sebenarnya telah menguras stok senjata senilai miliaran dolar, termasuk sistem artileri, amunisi, dan rudal anti-tank sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 serta dimulainya operasi militer Israel di Gaza pada akhir 2023. Beban pasokan ini kini semakin berat dengan munculnya front pertempuran baru di Iran.

Sejak dimulainya kampanye militer di Iran, Teheran telah menembakkan ratusan rudal balistik dan drone ke negara-negara Teluk. Sebagian besar serangan tersebut berhasil dicegat, termasuk menggunakan pencegat rudal Patriot PAC-3, jenis yang sama dengan yang diandalkan Ukraina untuk mempertahankan infrastruktur energi dan militernya.

Sumber-sumber tersebut meminta agar nama beberapa negara yang terdampak tidak disebutkan demi alasan keamanan. Mengingat beberapa negara tersebut berbatasan langsung dengan Rusia, jadwal pengiriman senjata dianggap sebagai informasi pertahanan yang sangat sensitif.

"Persenjataan yang tertunda mencakup berbagai jenis amunisi, termasuk munisi yang dapat digunakan untuk tujuan ofensif maupun defensif," pungkas sumber tersebut.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |