Jepang Dibuat Pusing! Bunga Naik Tertinggi 31 Tahun, Yen Tetap Keok

9 hours ago 5

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

21 July 2026 11:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank of Japan (BOJ) sudah meninggalkan era bunga negatif dan menaikkan suku bunga hingga mencapai level tertinggi sejak 1995. Namun, langkah tersebut belum mampu mengangkat performa yen terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mata uang Jepang sempat melemah hingga JPY162,83/US$ pada perdagangan intraday 1 Juli 2026, menjadi level terendah sejak 1986. Kini, Yen pun masih berada di posisi yang cukup lemah di JPY162,49/US$ pada penutupan perdagangan Senin (20/7/2026).

Situasi ini sekilas terlihat janggal. Umumnya, kenaikan suku bunga seharusnya membuat aset berdenominasi yen menjadi lebih menarik dan bisa membantu memperkuat yen. Tapi kenyatannya tidak demikian.

Dua ekonom Steve H. Hanke dan John Greenwood dalam kolomnya di Fortune menilai pasar terlalu terpaku pada suku bunga.

"kebijakan moneter pada dasarnya adalah soal perubahan jumlah uang beredar, bukan suku bunga," menurut mereka dikutip dari Fortune.

Pandangan tersebut menawarkan penjelasan berbeda mengenai kondisi Jepang. Suku bunga mungkin sudah naik, tetapi jumlah uang yang beredar dan berputar di dalam perekonomian belum tumbuh cukup kuat untuk mendorong belanja, ekonomi, dan inflasi secara berkelanjutan.

BOJ Sudah Naikkan Bunga Lima Kali

Kazuo Ueda mulai memimpin BOJ pada April 2023. Pada Maret 2024, bank sentral mengakhiri kebijakan yield curve control atau pengendalian imbal hasil obligasi yang sudah lama menjadi bagian dari kebijakan moneter Jepang.

Sejak saat itu, BOJ menaikkan suku bunga sebanyak lima kali, dari minus 0,1% menjadi 1%. Kenaikan terbaru diputuskan pada Juni 2026 melalui pemungutan suara 7-1.

Ueda menilai kenaikan upah, harga energi, dan biaya barang impor dapat menjaga inflasi bertahan di sekitar target BOJ sebesar 2%. Atas dasar itu, normalisasi suku bunga dianggap perlu setelah Jepang menjalani kebijakan bunga sangat rendah selama puluhan tahun.

Namun, level 1% sebenarnya masih rendah bila dibandingkan dengan negara maju lain, terutama AS.

Bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) masih menahan suku bunga pada kisaran 3,50%-3,75%. Selisih bunga dengan Jepang masih mencapai sekitar 2,5-2,75 poin persentase.

Selisih yang lebar membuat investor tetap tertarik meminjam yen dengan biaya murah, lalu menempatkan dananya pada aset dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Transaksi seperti ini dikenal sebagai carry trade.

Selama keuntungan memegang dolar masih jauh lebih besar, kenaikan bunga BOJ ke 1% belum cukup untuk membalikkan arus dana tersebut.

Suku Bunga Rendah Belum Tentu Berarti Uang Longgar

Ada kekeliruan dalam anggapan bahwa suku bunga rendah selalu menandakan kebijakan moneter yang longgar.

Dalam kasus Jepang, bunga rendah selama bertahun-tahun justru berjalan bersamaan dengan pertumbuhan uang beredar yang lambat, aktivitas ekonomi yang lemah, serta inflasi yang sangat rendah.

Pada periode 2000 hingga menjelang pandemi Covid-19 pada 2020, pertumbuhan uang beredar luas atau M2 Jepang hanya mencapai rata-rata 2,6% per tahun.

Pada periode yang sama, produk domestik bruto (PDB) nominal Jepang tumbuh rata-rata hanya 0,3% per tahun. Pertumbuhan ekonomi riil berada di sekitar 0,8%, sementara deflator PDB turun rata-rata 0,5% per tahun.

Kondisi itu tetap terjadi meskipun BOJ menjalankan pembelian aset besar-besaran melalui quantitative and qualitative easing (QQE).

Program tersebut memang memperbesar neraca bank sentral Jepang. Namun, uang yang diciptakan bank sentral tidak seluruhnya mengalir menjadi kredit, belanja, dan investasi di sektor riil.

Bank bisa memiliki banyak cadangan di BOJ, tetapi jika kredit kepada rumah tangga dan perusahaan tidak tumbuh, dampaknya terhadap kegiatan ekonomi tetap terbatas.

Saat M2 Melonjak, Inflasi Ikut Terbang

Kondisi berbeda terjadi selama pandemi Covid-19.

BOJ ketika itu memberikan pinjaman berbunga 0% kepada perbankan, dengan syarat dana tersebut kembali disalurkan kepada perusahaan. Program ini membuat uang lebih cepat masuk ke perekonomian riil.

Pertumbuhan M2 Jepang kemudian melonjak hingga mencapai 9,6% pada puncaknya. Pasar saham menguat, ekonomi mulai pulih, dan inflasi akhirnya naik hingga 4%.

Menurut Hanke dan Greenwood, periode tersebut menjadi bukti bahwa perubahan jumlah uang beredar memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan sekadar melihat tinggi atau rendahnya suku bunga.

Masalahnya, laju pertumbuhan uang beredar sekarang kembali melambat. Pertumbuhan M2 Jepang sudah kembali ke sekitar 2,5%.

Data terbaru BOJ bahkan menunjukkan M2 hanya tumbuh 2,2% secara tahunan pada Juni 2026, melambat dari 2,4% pada Mei.

Pertumbuhan sebesar itu masih jauh di bawah laju 9,6% yang tercatat pada masa pandemi. Aliran uang ke perekonomian pun belum cukup kuat untuk menghasilkan kenaikan permintaan dan inflasi yang tinggi dalam waktu lama.

Inflasi Jepang Malah Mulai Melambat

Data inflasi terbaru ikut memperkuat keraguan tersebut. Inflasi utama Jepang tercatat sebesar 1,5% secara tahunan pada Mei 2026.

Inflasi inti yang tidak memasukkan harga makanan segar bahkan hanya mencapai 1,4%, sedangkan inflasi tanpa makanan segar dan energi berada di 1,8%.

Ketiga angka tersebut sudah berada di bawah target inflasi BOJ sebesar 2%.

Kondisi ini membuat ruang BOJ untuk terus menaikkan suku bunga menjadi semakin kompleks. Kenaikan bunga yang terlalu cepat bisa menekan konsumsi, investasi, dan dunia usaha ketika inflasi justru sedang melambat.

Survei Reuters pada Juli juga menunjukkan hampir separuh perusahaan Jepang mulai merasakan dampak negatif kenaikan bunga, terutama melalui kenaikan biaya pinjaman dan tertahannya rencana investasi.

Namun, bila BOJ berhenti menaikkan bunga, selisih suku bunga dengan AS akan tetap lebar dan tekanan terhadap yen bisa berlanjut.

Inilah dilema utama yang sedang dihadapi Ueda.

Pertumbuhan M2 yang rendah memang membantu menjelaskan lemahnya ekonomi domestik dan turunnya inflasi. Namun, pergerakan yen tidak ditentukan oleh satu faktor saja.

Nilai tukar yen juga bergantung pada kondisi ekonomi dan kebijakan di negara lain, khususnya AS.

Meski bunga Jepang berada di posisi tertinggi dalam 31 tahun, bunga AS masih jauh lebih tinggi. Perekonomian AS juga dinilai lebih kuat, sementara konflik Timur Tengah dan kenaikan harga energi mendorong investor mencari dolar.

Jepang menjadi semakin tertekan karena sangat bergantung pada impor energi.

Ketika harga minyak naik, perusahaan Jepang membutuhkan lebih banyak dolar untuk membayar impor. Permintaan dolar bertambah dan yen kembali tertekan.

Kenaikan harga energi juga menciptakan masalah lain. Yen yang lemah membuat biaya impor semakin mahal, sementara mahalnya impor kembali memperlemah neraca perdagangan dan menambah kebutuhan dolar.

Pemerintah Jepang sebenarnya sudah mencoba menahan pelemahan yen melalui intervensi.

Jepang menghabiskan sekitar 11,73 triliun yen pada periode 28 April hingga 27 Mei 2026 untuk masuk ke pasar valuta asing. Namun, dampaknya tidak bertahan lama dan yen kembali menyentuh level terendah dalam 40 tahun.

Intervensi dapat memperlambat pelemahan dalam jangka pendek, tetapi sulit mengubah arah mata uang selama perbedaan bunga, arus modal, dan kebutuhan impor masih menekan yen.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |