Salma Laiqa, CNBC Indonesia
06 September 2026 14:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Peringkat IMD World Competitiveness Ranking 2026 membandingkan 70 negara dan ekonomi berdasarkan seberapa efektif mereka menciptakan kondisi yang mendukung dunia usaha untuk bersaing dan menghasilkan nilai dalam jangka panjang.
Vietnam untuk pertama kalinya masuk dalam pemeringkatan tersebut pada 2026.
Singapura Pimpin Negara Paling Kompetitif Di Dunia
Singapura menempati peringkat pertama dengan skor normalisasi 100, unggul atas Hong Kong dengan skor 95,6 dan Swiss 95,3. Taiwan berada di posisi keempat, sementara Denmark, Irlandia, dan Uni Emirat Arab masing-masing mencatat skor 94,1 dan menempati peringkat kelima hingga ketujuh.
Singapura juga menjadi satu-satunya ekonomi yang masuk lima besar dunia pada seluruh empat faktor daya saing. Efisiensi bisnisnya naik ke peringkat pertama pada 2026, membantu negara tersebut merebut kembali posisi teratas secara keseluruhan dari Swiss.
Bagaimana Daya Saing Negara Diukur
Kerangka penilaian IMD mencakup 341 kriteria yang dibagi ke dalam 20 subfaktor dan empat pilar utama, yaitu kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur. Data kuantitatif menyumbang sekitar dua pertiga dari penilaian akhir, sementara sepertiganya berasal dari survei opini para eksekutif.
Besarnya ekonomi tidak selalu sejalan dengan tingkat daya saing. Amerika Serikat, misalnya, merupakan ekonomi terbesar di dunia, tetapi hanya menempati peringkat ke-10 dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026.
Karena itu, penilaian IMD tidak hanya melihat ukuran ekonomi, tetapi juga kondisi yang menentukan seberapa efektif perusahaan dapat beroperasi, berinvestasi, dan bersaing.
Mengapa Eropa dan Asia Mendominasi Peringkat
Eropa dan Asia mengisi sembilan dari 10 posisi teratas. Banyak negara dengan peringkat tinggi memiliki kombinasi bisnis yang produktif, infrastruktur maju, tenaga kerja terampil, serta institusi yang membuat aktivitas investasi dan perdagangan lebih dapat diprediksi.
Laporan IMD 2026 memberi perhatian khusus pada kredibilitas institusi dan supremasi hukum. Regulasi yang konsisten, kontrak yang dapat ditegakkan, serta pemerintahan yang efektif dinilai membantu dunia usaha mengambil keputusan investasi jangka panjang di tengah ketidakpastian geopolitik.
Inovasi juga menjadi faktor penting. Sejumlah negara teratas terhubung erat dengan klaster inovasi utama dunia, sehingga lebih mampu mengomersialkan teknologi, menarik talenta, dan meningkatkan produktivitas.
Meski demikian, tidak ada satu formula tunggal untuk menjadi kompetitif. Uni Emirat Arab berada di peringkat ketujuh, sementara Amerika Serikat di posisi ke-10, menunjukkan bahwa lingkungan bisnis yang sangat kompetitif dapat terbentuk dari model ekonomi yang berbeda-beda.
Indonesia Turun ke Peringkat 48
Indonesia menempati peringkat ke-48 dari 70 ekonomi dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026, turun delapan posisi dari tahun sebelumnya. Dalam profil Indonesia, IMD menyoroti lima tantangan utama, yakni ancaman konflik ekonomi global terhadap keamanan energi nasional, pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan, realokasi anggaran pemerintah, infrastruktur dan kompetensi sumber daya manusia yang belum memadai, serta keterbatasan sumber pembiayaan.
Kelemahan tersebut juga terlihat pada sejumlah indikator. Indonesia berada di peringkat ke-50 untuk institutional framework, ke-53 untuk produktivitas dan efisiensi, ke-55 untuk praktik manajemen, serta ke-63 untuk pendidikan. Pada aspek kesehatan dan lingkungan, posisinya bahkan berada di peringkat ke-65 dari 70 ekonomi.
Artinya, perbaikan daya saing Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi atau besarnya pasar domestik. Indonesia perlu memperkuat kualitas institusi, meningkatkan produktivitas dan kemampuan manajerial dunia usaha, memperbaiki kualitas pendidikan dan SDM, serta mempercepat pembangunan infrastruktur dan akses pembiayaan.
Hal ini sejalan dengan temuan utama IMD 2026 bahwa daya saing semakin ditentukan oleh kredibilitas institusi, aturan yang dapat diprediksi, dan kemampuan negara menciptakan lingkungan yang mendukung investasi jangka panjang.
(slm/slm)

















































