Jakarta -
Banjir bandang dan longsor besar menghantam wilayah perbatasan Nepal dan China hingga menelan ratusan korban jiwa. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia berduka atas bencana yang menimpa wilayah kedua negara.
"Indonesia menyampaikan duka cita dan simpati yang mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di wilayah Gyirong, Wilayah Otonomi Xizang, RRT, dan Distrik Rasuwa, Provinsi Bagmati, Nepal, pada 26 Agustus 2026," demikian keterangan Kemlu RI melalui akun X resmi dilihat, Kamis (27/8/2026).
Kemlu menyampaikan solidaritas kepada Pemerintah dan masyarakat RRT dan Nepal, khususnya kepada keluarga korban dan masyarakat yang terdampak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia juga berharap agar seluruh upaya pencarian dan penyelamatan, penanganan korban, serta pemulihan pascabencana yang tengah dilakukan dapat berlangsung dengan lancar dan efektif," katanya.
Diketahui, rekaman CCTV beredar menunjukkan banjir bandang itu menyapu bangunan gedung bertingkat di perbatasan Nepal dengan China. Dilansir Channel News Asia dan Reuters, rekaman CCTV di Gyirong menunjukkan orang berbondong-bondong berlarian berusaha menyelamatkan diri sebelum hantaman banjir besar yang membawa material lumpur menghancurkan gedung lintas batas antara China dan Nepal pada Rabu (26/8).
Laporan awal menyebut ada gempa di salah satu area yang memicu longsor gletser. Sejauh ini, kepolisian Nepal sudah menemukan 157 orang korban tewas akibat banjir bandang itu. Sementara, 1.300 orang dilaporkan hilang setelah banjir bandang.
Dalam laporan ABC Australia, Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, awalnya mengatakan bahwa gempa bumi yang menyebabkan longsoran salju dan es yang memicu banjir di sepanjang sungai Bhote Koshi di Rasuwa.
Namun, para pakar iklim dari Kathmandu-based International Centre for Integrated Mountain Development yakin kalau longsoran gletser kemungkinan besar menyebabkan banjir tersebut. Mereka mengatakan permukaan air sungai naik hingga 9 meter dalam setengah jam pada puncak banjir.
"Pengamatan hidrologi menunjukkan kecepatan dan besarnya gelombang banjir yang luar biasa," kata mereka dalam sebuah pernyataan.
(zap/fca)


















































