Jakarta, CNBC Indonesia - Sekitar 90 persen manusia di dunia menggunakan tangan kanan untuk beraktivitas sehari-hari. Kebiasaan yang terlihat sederhana ini ternyata hasil dari evolusi jutaan tahun dan berkaitan erat dengan perkembangan otak manusia.
Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology mengungkap dominasi tangan kanan bukan sekadar kebiasaan modern, melainkan hasil perjalanan evolusi panjang sejak nenek moyang manusia mulai berjalan dengan dua kaki.
Tim ilmuwan dari Universitas Oxford dan Universitas Reading di Inggris melakukan meta-analisis terhadap lebih dari 2.000 individu dari 41 spesies primata, termasuk manusia, monyet, dan kera besar. Hasilnya, manusia menjadi spesies dengan kecenderungan penggunaan tangan kanan paling kuat.
Antropolog evolusi Universitas Oxford Thomas Püschel mengatakan penelitian ini menjadi studi pertama yang menguji berbagai teori dominasi tangan dalam satu kerangka evolusi.
"Ini adalah studi pertama yang menguji berbagai hipotesis utama soal dominasi tangan manusia dalam satu kerangka," kata antropolog evolusi Oxford, Thomas Püschel, dikutip dari Science Alert, Jumat (29/5/2026).
"Dengan melihat banyak spesies primata, kami mulai memahami aspek dominasi tangan mana yang sudah ada sejak lama dan diwariskan bersama, dan mana yang benar-benar unik pada manusia," imbuhnya.
Peneliti menemukan dua faktor paling berpengaruh terhadap dominasi tangan, yakni ukuran otak dan perubahan anatomi tubuh, khususnya panjang lengan dan kaki akibat berjalan tegak.
Ketika nenek moyang manusia mulai berjalan menggunakan dua kaki, tangan menjadi lebih bebas untuk melakukan aktivitas lain seperti menggunakan alat dan mengembangkan kemampuan motorik halus.
Para peneliti menilai perubahan tersebut menjadi tahap awal munculnya spesialisasi penggunaan tangan. Selanjutnya, perkembangan ukuran otak memperkuat dominasi tangan kanan pada populasi manusia.
Tren itu juga terlihat pada spesies manusia purba. Australopithecus afarensis disebut hanya memiliki kecenderungan kecil menggunakan tangan kanan. Namun bias tersebut semakin kuat pada Homo erectus, Homo ergaster, hingga Neanderthal.
Menariknya, Homo floresiensis atau manusia "hobbit" dari Indonesia justru menunjukkan preferensi tangan yang lemah, mirip simpanse modern. Peneliti menduga hal itu karena spesies tersebut masih memiliki otak kecil dan belum sepenuhnya meninggalkan kemampuan memanjat pohon.
Namun mengapa 90 persen manusia akhirnya "memilih" tangan kanan?
Hal itu kemungkinan berkaitan dengan cara kerja otak manusia. Belahan otak manusia memiliki spesialisasi tugas berbeda. Ketika efisiensi saraf berkembang dan ukuran otak membesar, preferensi tangan kanan mungkin menjadi makin tertanam dalam evolusi manusia.
"Perubahan cara bergerak akibat berjalan dengan dua kaki memberikan peluang ekologis dan anatomi bagi spesialisasi penggunaan tangan, sedangkan pembesaran otak kemudian memperkuat pola dominasi tersebut dalam populasi," tulis para peneliti.
"Meskipun demikian, budaya kemungkinan juga berperan memperkuat tren dominasi tangan kanan pada hominin," imbuh mereka.
Para ilmuwan menyebut masih ada sejumlah pertanyaan terbuka, termasuk mengapa manusia kidal masih tetap ada, serta apakah pola evolusi serupa juga terjadi pada hewan lain yang memiliki anggota tubuh dominan seperti burung beo dan kanguru.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































