Ibnu Rusydi Membongkar Mitos: Agama dan Akal Tak Pernah Bermusuhan

4 hours ago 1

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

25 February 2026 02:30

Jakarta, CNBC Indonesia  - Di tengah perdebatan panas antara teolog dan filsuf pada abad ke-12, muncul satu nama yang hingga kini terus dibicarakan yakni Ibnu Rusydi.

Di Barat ia dikenal sebagai Averroes, "The Commentator", karena komentar-komentarnya atas karya Aristoteles. Namun di dunia Islam, ia adalah pembela rasionalitas yang berani menyatakan bahwa agama dan filsafat tidak bertentangan.

Nama Ibnu Rusyd dikenal luas sebagai salah satu filsuf terbesar dalam sejarah Islam. Namun, latar belakang keluarga, pendidikan, dan lingkungan intelektual yang membentuk pemikirannya tak kalah menarik untuk disimak.

Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd lahir pada 1126 M atau 520 H di Kordoba, wilayah yang saat itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Murabithun. Ia berasal dari keluarga elite intelektual yang berpengaruh di bidang hukum dan agama.

Kakeknya, Abu al-Walid Muhammad, merupakan qadhi al-qudhat atau hakim agung di Kordoba sekaligus imam Masjid Agung kota tersebut. Sementara ayahnya, Abu al-Qasim Ahmad, juga menjabat sebagai hakim hingga Kordoba beralih kekuasaan ke Kekhalifahan Muwahidun. Lingkungan keluarga ini menjadikan Ibnu Rusyd tumbuh dalam tradisi keilmuan yang sangat kuat sejak kecil.

Pendidikan Multidisipliner Sejak Dini

Menurut catatan biografi klasik, Ibnu Rusyd memperoleh pendidikan yang sangat luas. Ia mempelajari hadis, fikih, teologi Islam, hingga kedokteran.

Guru fikihnya adalah Al-Hafiz Abu Muhammad ibn Rizq dari mazhab Maliki, sementara ilmu hadis ia pelajari dari Ibnu Basykuwal. Ia juga belajar langsung dari ayahnya, termasuk menghafal Al-Muwatta karya Imam Malik-salah satu kitab fikih paling berpengaruh dalam tradisi Maliki.

Di bidang kedokteran, ia belajar kepada Abu Ja'far Jarim at-Tajail, yang kemungkinan juga mengenalkannya pada filsafat. Selain itu, Ibnu Rusyd mempelajari pemikiran Ibnu Bajjah (Avempace) dan aktif dalam forum intelektual di Sevilla-tempat para filsuf, dokter, dan sastrawan berkumpul. Di lingkungan inilah ia berinteraksi dengan tokoh besar seperti Ibnu Thufail dan Ibnu Zuhri, bahkan dengan Abu Yusuf Yaqub yang kelak menjadi khalifah.

Decisive Treatise: Manifesto Akal dalam Islam

Karya paling penting Ibnu Rusydi dalam membela filsafat adalah Decisive Treatise (Fasl al-Maqal). Buku ini ditulis sebagai jawaban atas tuduhan bahwa filsafat bertentangan dengan Islam.

Argumen utamanya mengatakan bahwa syariat justru memerintahkan manusia untuk berpikir. Ayat-ayat Al-Qur'an yang mengajak manusia merenungi penciptaan langit dan bumi, menurutnya, adalah dasar legitimasi penggunaan akal.

Menurut Ibnu Rusydi, mempelajari filsafat bukan hanya boleh, tetapi menjadi kewajiban bagi mereka yang memiliki kapasitas intelektual.

Ibnu Rusydi juga menegaskan bahwa kebenaran harus diterima dari siapa pun, meski sumbernya bukan dari seorang muslim. Ia memberi analogi sederhana: jika alat penyembelihan sah, tidak penting siapa pemiliknya. Artinya, asal suatu gagasan tidak menentukan benar atau salahnya; kebenaran berdiri di atas argumen, bukan identitas.

Tiga Jalan Menuju Kebenaran

Dalam Decisive Treatise, Ibnu Rusydi membagi cara manusia memahami kebenaran menjadi tiga:

Menurutnya, Islam mengakomodasi ketiganya karena manusia memiliki kapasitas berbeda-beda. Masalah muncul ketika metode tingkat tinggi diajarkan kepada publik yang belum siap, sehingga justru menimbulkan kebingungan iman.

Agama dan Akal Tak Mungkin Bertentangan

Bagi Ibnu Rusydi, kebenaran berasal dari Tuhan yang sama. Maka jika tampak ada pertentangan antara Al-Qur'an dan filsafat, itu hanyalah pertentangan lahiriah. Solusinya adalah penafsiran alegoris (mencari makna di balik kata-kata yang tertulis di dalam teks) terhadap ayat tersebut, bukan penolakan terhadap akal.

Ia juga menolak praktik saling mengkafirkan dalam perdebatan teologis. Selama tidak ada konsensus mutlak, perbedaan tafsir tidak bisa dijadikan dasar untuk menuduh seseorang keluar dari agama.

Warisan yang Menyeberangi Peradaban

Meski sempat diasingkan dan dibungkam, gagasan Ibnu Rusdi justru menemukan "rumah baru" di Eropa. Karyanya mempengaruhi filsafat skolastik Kristen dan membangkitkan kembali minat intelektual barat terhadap karya-karya Aristoteles.

Lebih dari delapan abad kemudian, pesan Decisive Treatise masih relevan: agama dan akal tidak harus dipertentangkan. Dalam lanskap dunia yang kerap memosisikan iman dan rasionalitas sebagai dua kutub, Ibnu Rusdi menawarkan jalan tengah, bahwa berpikir adalah bagian dari keberagamaan itu sendiri.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |