Jakarta, CNBC Indonesia — Memasuki tahun baru 2026, momen refleksi keuangan menjadi krusial bagi masyarakat. Setiap individu memiliki cara pandang dan kebiasaan berbeda dalam mengelola uang, yang kerap dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing.
Mengutip CNBC.com, Sabtu (3/1/2026), seorang perencana keuangan mengungkapkan, setidaknya terdapat enam tipe kepribadian keuangan yang umum ditemui, dan masing-masing membutuhkan strategi pengelolaan uang yang berbeda.
Pertama, tipe dermawan (the giver) dikenal berhati besar dan gemar membantu orang lain. Namun, kebiasaan ini kerap membuat kebutuhan finansial pribadi terabaikan. Untuk tipe ini, perencanaan yang lebih seimbang dan kemampuan berkata "tidak" menjadi kunci agar tetap bisa berbagi tanpa mengorbankan stabilitas keuangan sendiri.
Kedua, tipe pelopor atau pengambil risiko (the trailblazer) cenderung percaya diri dan agresif dalam mengejar kesuksesan finansial. Meski piawai menciptakan kekayaan, mereka kerap kesulitan dalam mengelolanya. Delegasi dan memanfaatkan keahlian pihak lain dinilai penting agar hasil jerih payah dapat dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
Ketiga, tipe skeptis (the skeptic) sering memandang uang dengan curiga dan merasa tidak pantas memiliki kekayaan. Pola pikir ini justru berpotensi menahan kemajuan finansial. Mengubah sudut pandang terhadap uang dan melihat bagaimana kekayaan dapat digunakan untuk hal positif menjadi langkah awal untuk keluar dari rasa tidak aman secara finansial.
Sementara itu, tipe pencari kesenangan (the high roller) cenderung impulsif dalam berbelanja dan mengutamakan kepuasan jangka pendek. Kondisi ini berisiko menumpuk utang. Disarankan, tipe ini mulai memahami pemicu emosional di balik belanja berlebihan serta memanfaatkan anggaran dan pencatatan keuangan yang lebih disiplin.
Kelima, tipe super hemat (the penny pincher) dikenal sangat disiplin menabung, namun sering kali terlalu takut mengambil risiko. Akibatnya, peluang untuk mengembangkan kekayaan justru terlewat. Edukasi investasi dasar dan penetapan tujuan belanja yang terukur dapat membantu menciptakan keseimbangan antara menabung dan menikmati hasil kerja keras.
Terakhir, tipe penghindar (the avoider) cenderung enggan memikirkan kondisi keuangan dan tidak mengetahui posisi finansialnya. Padahal, langkah kecil seperti meluangkan waktu beberapa menit setiap minggu untuk mengecek keuangan dinilai cukup efektif untuk mengurangi kecemasan dan membangun kontrol finansial.
Secara keseluruhan, memasuki 2026, pakar menilai bahwa keberhasilan mengelola keuangan tidak hanya bergantung pada besaran penghasilan, tetapi juga pada pemahaman karakter dan kebiasaan pribadi. Dengan mengenali tipe kepribadian keuangan masing-masing, masyarakat diharapkan dapat menerapkan strategi yang lebih tepat dan berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi ke depan.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]


















































