Susi Setiawati, CNBC Indonesia
20 February 2026 08:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham related minyak dan gas (gas) sampai perkapalan manggung lagi, seiring risiko geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memanas.
Melansir laman Axios, Penasihat Presiden AS, Donald Trump mengatakan perang antara Iran-AS tingga menunggu pekan saja, kalau diplomasi kedua negara itu gagal.
Sejauh ini, AS telah meningkatkan tekanan militer dan politik terhadap Teheran, termasuk dengan memperkuat kehadiran armada militernya di kawasan Teluk serta memperketat sanksi ekonomi yang menargetkan sektor energi dan sistem keuangan Iran. Washington juga disebut mempercepat koordinasi dengan sekutu regionalnya untuk mengantisipasi potensi eskalasi.
Di sisi lain, Iran membuat keputusan yang mengejutkan pasar dengan menutup sebagian akses Selat Hormuz, meskipun hanya berlangsung beberapa jam. Langkah tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak dunia karena sekitar 20% distribusi minyak global melewati jalur strategis tersebut.
Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Rabu kemarin (18/2/2026), harga minyak mentah dunia sempat naik kisaran 4%-5% sehari, tren positif berlanjut pada perdagangan Kamis dengan penguatan cenderung moderat.
Kontrak berjangka minyak mentah brent ditutup di posisi US$ 71,91 per barel pada Kamis (19/2/2026), level tertinggi sejak Juli 2025 atau lebih dari enam bulan terakhir.
Harga minyak melonjak seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Penutupan sementara itu dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Iran siap menggunakan jalur energi global sebagai alat tekanan geopolitik.
Jika ketegangan terus meningkat dan gangguan distribusi berulang, risiko terhadap stabilitas pasokan energi global dan biaya logistik internasional bisa semakin besar.
Karena sentimen itu, dari dalam negeri sejumlah emiten migas, termasuk yang berhubungan dengan kapal ikut bergerak moncer, kalau ditarik dari awal tahun bahkan ada yang sudah naik double digit sampai ratusan persen.
Berikut rincian-nya:
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

















































