Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara makin ambles.
Harga batu bara pada perdagangan Kamis (18/6/2026) ditutup di posisi US$ 131,55 per ton atau jatuh 2,8%.
Pelemahan ini memperpanjang derita batu bara yang ambruk 11,4% dalam lima hari beruntun. Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah sejak 24 April 2026 atau hampir dua bulan.
Harga batu bara ambruk dipicu oleh melemahnya harga minyak serta sentiment negatif dari India yang merupakan konsumen terbesar kedua di dunia.
Reuters melaporkan impor batu bara termal India turun ke level terendah dalam empat tahun pada periode Januari-Mei 2026. Impor melemah seiring meningkatnya produksi domestik dan pertumbuhan pembangkit energi terbarukan.
Secara keseluruhan, impor batu bara termal India selama lima bulan pertama tahun ini mencapai 65 juta ton, turun 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
India, importir batu bara termal terbesar kedua di dunia, terus berupaya mengurangi ketergantungan pada pasokan impor dan menargetkan pengurangan penggunaan batu bara termal untuk pembangkit listrik setidaknya 30% tahun ini.
Produsen batu bara terbesar India, Coal India, sebelumnya meminta seluruh anak usahanya meningkatkan produksi guna mengantisipasi lonjakan konsumsi listrik akibat suhu panas ekstrem yang dipicu fenomena cuaca El Nino.
Tingginya harga batu bara impor serta kenaikan tarif pengiriman akibat krisis di Timur Tengah juga turut menekan impor.
Produksi Energi Terbarukan Meningkat
Pada Januari-Mei, total produksi listrik India meningkat 5% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pembangkit energi terbarukan tumbuh jauh lebih cepat, yakni melonjak 22%.
Permintaan listrik puncak India, yang mencerminkan kebutuhan listrik maksimum, melampaui proyeksi pemerintah sebesar 270 gigawatt pada 21 Mei akibat gelombang panas yang melanda negara tersebut.
Data regulator jaringan listrik nasional Grid-India menunjukkan permintaan listrik India melonjak 11,2% pada Mei dan mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik sepanjang waktu, produksi listrik berbasis batu bara meningkat 10% dibandingkan tahun lalu pada Mei, menjadi kenaikan tertinggi sejak Mei 2024.
Di saat yang sama, produksi listrik dari energi terbarukan melonjak 29,31% secara tahunan menjadi 27,58 miliar kilowatt-jam (kWh), sekaligus mencetak rekor dengan kontribusi sebesar 17,9% terhadap total pembangkitan listrik nasional.
Sementara itu, pasar batu bara kokas China melanjutkan reli kenaikan harga yang kuat. Kenaikan harga dipicu oleh gangguan pasokan akibat pengetatan pengawasan keselamatan tambang setelah kecelakaan tambang pada akhir Mei.
Tekanan regulasi dan penghentian sementara operasi sejumlah tambang membuat pasokan menyusut.
Kenaikan harga bahan baku mulai menekan margin keuntungan industri hilir, terutama produsen kokas dan baja yang kesulitan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
(mae/mae)
Addsource on Google


















































