Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mendeklarasikan kemenangan atas Amerika Serikat (AS). Pejabat Teheran mengatakan nota kesepahaman yang baru ditandatangani antara AS dan Iran adalah kemenangan diplomatik bagi negerinya, yang dicapai melalui kekuatan dan merupakan bukti bahwa Washington gagal mencapai tujuan militernya.
Sebelumnya, Iran dan AS memang sudah menyetujui dokumen berisi 14 poin kesepakatan Rabu malam. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberi tanda tangan secara jarak jauh (digital).
Amerika sempat bungkam dalam memberikan tanggapan publik. Gedung Putih tidak mempublikasikan teks final memorandum tersebut, meskipun seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya, membacakan dokumen berisi 14 poin itu kepada wartawan setelah berhari-hari mendapat kritik atas kerahasiaan seputar kesepakatan tersebut.
"Perjanjian tersebut merupakan catatan kegagalan AS," kata ketua parlemen Iran dan kepala negosiator dalam pembicaraan tersebut, Mohammad Ghalibaf, menggambarkan memorandum tersebut sebagai bukti penyerahan AS, dalam sebuah wawancara television, dimuat RT, Jumat (19/6/2026).
"Orang-orang akan melihatnya dan menilainya," tambahnya.
Teheran berpendapat bahwa dokumen tersebut mencerminkan serangkaian konsesi oleh Washington, termasuk pencabutan blokade laut AS ke Iran di Selat Hormuz, keringanan sanksi terhadap ekspor minyak Iran, akses terhadap dana Iran yang dibekukan, dan rencana rekonstruksi ekonomi yang didukung AS senilai setidaknya US$300 miliar. Washington juga setuju untuk tidak menjatuhkan sanksi baru atau mengerahkan pasukan tambahan di wilayah tersebut sementara kedua pihak merundingkan perjanjian akhir.
Sebagai tanggapan, Iran akan membuat pengaturan untuk memulihkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz, sesuatu yang tidak menjadi masalah sebelum serangan AS-Israel. Namun, Teheran telah memberi isyarat bahwa jalur air utama tersebut tidak akan kembali seperti kondisi sebelum perang.
"Saya tekankan kembali bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti kondisi sebelumnya," kata Ghalibaf lagi.
"Iran mempunyai hak kedaulatan atas Selat Hormuz, dan tentu saja, kami akan menerima bayaran atas layanan tersebut," tambahnya.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menambahkan bahwa kerangka kerja sedang dikembangkan untuk mengelola Selat Hormuz. Konsultasi telah dilakukan dengan Oman, sebagaimana dituangkan dalam MOU.
Teheran juga menyoroti bahasa memorandum tersebut mengenai Lebanon. Di mana jika serangan rezim Israel terus berlanjut, hal itu akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap komitmen pihak lain berdasarkan nota kesepahaman.
Perlu diketahui, kesebatan 14 poin AS-Iran tersebut bukanlah perjanjian perdamaian final. Namun meluncurkan periode negosiasi 60 hari di mana Washington dan Teheran diperkirakan akan membahas program nuklir Iran, keringanan sanksi, aset yang dibekukan, pengelolaan Selat Hormuz di masa depan, dan penyelesaian akhir yang akan disahkan oleh Dewan Keamanan PBB.
(sef/sef)
Addsource on Google


















































