Sukabumi -
Pria bernama Ruslandi (35), guru sekolah dasar negeri (SDN) di Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, angkat bicara setelah kontennya yang diduga child grooming ke siswi viral. Dia mengaku konten itu dibuat untuk pembinaan karakter dan peningkatan kepercayaan diri anak.
Dilansir detikJabar, Ruslandi mengakui ketidaktahuannya soal batasan etika bermedia sosial, terutama saat melibatkan anak di bawah umur. Ruslandi menyebut pembuatan konten bermula dari video seorang siswa yang viral dan mendapat sorotan dan masuk tayangan televisi, hingga mendorongnya untuk terus memproduksi konten serupa.
"Karena ramai, makanya dilanjut ke konten-konten berikutnya," kata Ruslandi, Jumat (6/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengaku tidak memiliki niat melakukan tindakan menyimpang. Guru PPPK tersebut menyebut tudingan child grooming muncul akibat tafsir publik terhadap konten yang dibuatnya.
"Padahal tidak ada maksud ke arah sana," ujarnya.
Ruslandi menyebut siswa yang sering muncul dalam konten awalnya pemalu. Namun, kata Ruslandi, siswa itu menjadi lebih percaya diri setelah kerap tampil di media sosial.
"Itu salah satu terapi saya sebagai pendidik," imbuhnya.
Ruslandi juga menyebut keluarga siswa mengetahui keberadaan konten tersebut. Namun ia mengaku tidak memahami istilah maupun konsep child grooming saat memproduksi video. Ruslandi membantah mencari keuntungan finansial dari aktivitas tersebut.
Setelah kontennya viral dan menuai hujatan, dia akhirnya menutup akun media sosialnya. Penutupan itu disebut dilakukan secara sengaja untuk meredam situasi dan menjaga kondisi mentalnya.
"Banyak hujatan, sampai dibilang pedofil. Sekolah juga menyarankan untuk menutup akun," jelasnya.
Baca berita selengkapnya di sini.
(wnv/idh)


















































