Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta seluruh jajaran Pemprov DKI Jakarta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi fenomena El Nino. Berdasarkan prediksi BMKG, El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga Januari 2027.
Hal itu disampaikan Pramono saat memimpin Apel Jaga Jakarta Kesiapsiagaan Musim Kemarau 2026 di Monas, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026). El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di atas kondisi normal.
"Pemerintah DKI Jakarta mengadakan Apel Jaga Jakarta berkaitan dengan antisipasi penanganan potensi kebakaran yang ada di Jakarta, menghadapi El Nino yang diperkirakan panjang sampai dengan akhir September, bahkan BMKG memprediksi sampai dengan Januari 2027," kata Pramono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pramono mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi karena musim kemarau dan El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan hingga kebakaran. Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau terjadi pada Agustus-September 2026.
"Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai risiko, mulai dari kekeringan, kebakaran, penurunan kualitas udara, hingga ancaman terhadap kesehatan masyarakat," ujarnya.
Ia mengungkap sebanyak 457 kejadian kebakaran terjadi di Jakarta sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Khusus pada Agustus, terdapat sekitar 240 kejadian kebakaran.
Apel Jaga Jakarta Kesiapsiagaan Musim Kemarau 2026 di Monas (Belia/detikcom)
Dia menyebut korsleting listrik menjadi dugaan penyebab kebakaran yang paling dominan. Selain itu, kebakaran juga dipicu pembakaran sampah dan keteledoran warga membuang puntung rokok.
"Dugaan yang paling dominan adalah penyebabnya korsleting listrik. Kemudian yang kedua adalah pembakaran sampah, dan juga ada beberapa yang terjadi karena keteledoran orang membuang puntung rokok dan sebagainya," jelasnya.
Jakarta Barat (Jakbar) menjadi wilayah dengan jumlah kebakaran paling banyak, disusul Jakarta Timur. Kecamatan Tambora di Jakarta Barat dan Cakung di Jakarta Timur disebut sebagai wilayah dengan potensi kebakaran tertinggi.
Tak hanya kebakaran, Pemprov DKI juga mengantisipasi dampak kekeringan. Sebanyak 29 tangki air dari 10 instansi dan lembaga disiapkan untuk membantu distribusi air bersih.
Pramono mengatakan saat ini sudah ada dua kelurahan yang mengalami kekeringan, yakni Kalibaru dan Semper di Jakarta Utara (Jakut).
"Telah disediakan 29 tangki dari sepuluh instansi lembaga yang berpartisipasi untuk mengatasi persoalan kekurangan air di Jakarta," katanya.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat menambahkan masyarakat yang mengalami kekeringan dapat melapor melalui layanan call center Jakarta Siaga 112.
"Kami sudah berkoordinasi juga dengan PAM Jaya untuk menyiapkan jalur komunikasi terutama kami siapkan melalui 112," kata Marulitua.
Dia mengatakan laporan tersebut akan ditindaklanjuti dengan fasilitasi distribusi air bersih bersama PAM Jaya.
"Bilamana masyarakat menemukan kejadian kekeringan segera melaporkan ke 112 dan kami akan memfasilitasi dengan PAM Jaya untuk distribusi air bersihnya," imbuhnya.
Simak juga Video 'Kenapa El Nino Bisa Bikin Dompet Boncos?':
(bel/jbr)


















































