Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Singapura mencatatkan performa gemilang sepanjang 2025. Berdasarkan estimasi awal dari Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) yang dirilis Kamis (2/1/2026), produk domestik bruto (PDB) Singapura tumbuh 4,8%.
Angka ini melampaui pertumbuhan 2024 yang sebesar 4,4% sekaligus menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak tahun 2021, saat ekonomi tumbuh 9,8% pascapandemi.
Adapun ekonomi pada kuartal IV-2025 tumbuh 5,7% secara tahunan setelah pada periode sebelumnya naik 4,3%.
Lonjakan ekonomi ini didorong oleh sektor manufaktur yang melampaui ekspektasi pada kuartal IV-2025.
Sektor ini tumbuh fantastis sebesar 15% (yoy), meningkat tajam dibandingkan pertumbuhan 4,9% pada kuartal sebelumnya. Pendorong utama sektor manufaktur adalah ekspansi output yang kuat di klaster biomedis dan elektronika. Secara kuartalan, sektor manufaktur tumbuh 9,2%.
"Kondisi ekonomi global ternyata lebih tangguh dari yang diperkirakan. Sebagian besar tarif perdagangan akhirnya disepakati pada level yang jauh lebih rendah daripada tarif yang diumumkan pada April lalu," tulis laporan MTI, dikutip dari The Straits Times, Jumat (2/1/2026).
Selain manufaktur, sektor-sektor lain juga menunjukkan tren positif pada kuartal IV-2025.
Sektor konstruksi tercatat tumbuh 4,2% yang didukung oleh peningkatan proyek konstruksi baik di sektor publik maupun swasta. Sementara itu, sektor perdagangan grosir dan eceran serta transportasi dan penyimpanan tumbuh kolektif sebesar 3,9%.
MTI menyebutkan bahwa pertumbuhan di sektor perdagangan grosir secara khusus dipicu oleh tingginya volume penjualan mesin, peralatan, dan perlengkapan, terutama pada segmen peralatan telekomunikasi dan komputer serta komponen elektronik di tengah ledakan teknologi AI.
Di sisi lain, sektor informasi dan komunikasi, keuangan dan asuransi, serta jasa profesional juga mencatatkan ekspansi sebesar 4,2%.
Sejak awal 2025, MTI sempat mengantisipasi adanya hambatan pertumbuhan global akibat kebijakan tarif timbal balik dari Presiden AS Donald Trump. Namun, dampak negatif tersebut teredam oleh booming kecerdasan buatan (AI) yang mendongkrak ekspor semikonduktor dan peralatan terkait AI.
Kabar baik lainnya datang dari deeskalasi ketegangan perdagangan baru-baru ini. Gencatan senjata dagang antara AS dan China telah diperpanjang hingga November 2026, yang juga mencakup pengurangan tingkat tarif AS terhadap produk-produk asal China.
Meski menutup tahun 2025 dengan kuat, pemerintah Singapura memberikan catatan waspada untuk tahun baru.
Perdana Menteri Lawrence Wong sebelumnya telah menaikkan estimasi pertumbuhan 2025 menjadi 4,8% pada pidato akhir tahunnya (31/12/2025), naik dari perkiraan November yang sekitar 4%.
Namun, untuk 2026, MTI memprediksi pertumbuhan ekonomi akan melambat ke kisaran 1% hingga 3%. Angka ini masih bersifat dinamis dan kemungkinan besar akan direvisi seiring berjalannya tahun, tergantung pada perkembangan kondisi geopolitik dan ekonomi global.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]


















































