Jakarta -
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dinobatkan sebagai Provinsi Terbaik I Kategori Pengolahan Sampah dan Lingkungan Asri. Penghargaan ini diberikan pada ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.
Penilaian penghargaan mencakup sejumlah aspek, antara lain kinerja pengelolaan sampah, kualitas lingkungan hidup, efektivitas program, serta inovasi daerah yang berdampak bagi masyarakat. Atas penghargaan ini, Pemprov Jatim mendapatkan bantuan pemerintah sebesar Rp2 Miliar.
Gubernur Khofifah mengapresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di Jawa Timur. Ia menyebut penghargaan ini bukan semata-mata capaian pemerintah provinsi, melainkan buah dari kerja bersama seluruh elemen masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah, kerja keras, komitmen dan kepedulian seluruh pihak dan masyarakat membuahkan apresiasi oleh Pemerintah Pusat. Terima kasih kepada seluruh masyarakat hingga para unit SMA, SMK dan SLB Negeri maupun swasta di berbagai daerah yang mendukung pelaksanaan kurve secara rutin. Mereka mengolah sampah menjadi pupuk organik untuk selanjutnya digunakan pupuk pada program ketahanan pangan di sekolah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2026).
Hal tersebut disampaikan usai menerima penghargaan yang diserahkan langsung Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, Bali, Jumat (28/8).
Khofifah menyampaikan persoalan sampah merupakan tantangan yang membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, sampah tidak cukup hanya dikumpulkan dan diangkut, tetapi membutuhkan perubahan perilaku, sistem pengelolaan yang baik, inovasi, serta solusi jangka panjang.
Ia menegaskan Pemprov Jatim terus mendorong berbagai gerakan kebersihan yang melibatkan pemerintah, Forkopimda, komunitas, aktivis lingkungan, dunia pendidikan, hingga masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan kurve atau aksi bersih-bersih lingkungan yang secara rutin dilakukan di berbagai wilayah, termasuk kawasan pantai dan sungai.
Khofifah menilai gerakan tersebut bermakna lebih luas daripada sekadar membersihkan lingkungan. Kegiatan kurve menjadi sarana membangun budaya gotong royong sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Aksi tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto melalui Gerakan Indonesia Asri.
"Aksi kurve atau bersih-bersih, baik di pantai maupun sungai, merupakan wujud nyata pentingnya budaya gotong royong lintas sektor dalam mengatasi persoalan sampah di Indonesia. Ini kita harapkan menjadi awal yang baik untuk membangun budaya kepedulian lingkungan, terutama dalam membangun kesadaran membuang dan mengelola sampah dari tingkat masyarakat paling bawah," jelasnya.
Namun, Khofifah menegaskan, gerakan kebersihan tidak boleh berhenti pada kegiatan bersih-bersih. Pengelolaan sampah membutuhkan sistem yang mampu menangani sampah dari hulu hingga hilir dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat.
Untuk itu, Pemprov Jatim juga mendorong pengembangan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai salah satu solusi strategis dalam menghadapi persoalan sampah perkotaan.
Saat ini, Pemprov Jatim telah melakukan Perjanjian Kerja Sama proyek PSEL bersama tujuh bupati dan wali kota di kawasan Surabaya Raya dan Malang Raya. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun sistem pengolahan sampah yang lebih modern sekaligus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis teknologi ramah lingkungan.
"Persoalan sampah saat ini merupakan salah satu urgensitas yang tidak bisa diselesaikan dengan solusi jangka pendek. Harus yang sifatnya jangka panjang. Dan kami di Jawa Timur telah berkomitmen untuk bersama-sama menemukan solusi yang tepat," ungkap Khofifah.
Khofifah menambahkan, pengembangan PSEL bukan hanya tentang mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir. Lebih dari itu, sampah diupayakan dapat ditransformasikan menjadi sumber energi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.
"Bagaimana kita mentransformasi sebuah masalah menjadi potensi untuk lingkungan yang lebih baik, lebih sehat dan lebih bersih sekaligus berkelanjutan," sebutnya.
Sebagai salah satu bagian dari strategi tersebut, kapasitas awal PSEL Surabaya Raya direncanakan mencapai 1.100 ton sampah per hari. Kapasitas tersebut sejalan dengan ketentuan Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2025 yang mensyaratkan minimal 1.000 ton sampah per hari sebagai bahan baku operasional.
Upaya penguatan pengelolaan sampah tersebut juga tercermin dalam capaian Jawa Timur secara nasional. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup RI per Maret 2026, capaian pengelolaan sampah di Jawa Timur mencapai 52,7 persen, tertinggi secara nasional dan berada jauh di atas rata-rata nasional yang masih sekitar 24,95 persen.
Khofifah menegaskan capaian tersebut harus menjadi pemacu bagi seluruh pihak untuk tidak berhenti berinovasi. Penghargaan yang diterima, menurutnya, bukan tujuan akhir, melainkan pengingat agar kualitas pengelolaan lingkungan di Jawa Timur terus ditingkatkan.
"Penghargaan ini tentu menjadi kebanggaan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana capaian ini menjadi energi untuk terus memperkuat pengelolaan sampah dan menjaga lingkungan Jawa Timur secara berkelanjutan," ucapnya.
Sementara itu, Tito menyampaikan selamat atas penghargaan yang diterima oleh masing-masing daerah. Ia menekankan apresiasi ini merupakan bukti nyata atas bentuk kepedulian, ketulusan dan keseriusan pemerintah daerah dalam memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya.
Terkait kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri, ia menitikberatkan pada transformasi kebijakan dan strategi daerah terkait pengelolaan sampah. Baik yang sifatnya Hilir-Hulu maupun Hulu-Hilir.
"Banyak daerah yang sudah dan tengah berusaha mengimplementasikan kedua hal itu, ada yang berhasil ada yang belum. Salah satu yang berhasil adalah di Kota Surabaya, Jawa Timur," puji Tito.
Sesuai arahan Presiden Prabowo, ia juga berharap agar setiap Pemda bisa terus menggalakkan kurve di berbagai kesempatan. Pemda diharapkan mampu menjadi pionir dan menjadi contoh bagi masyarakat dalam menggalakkan kurve.
"Misal di setiap kantor dinas atau kantor desa bisa dilakukan Kurve setiap dua hari dalam seminggu, maka lama-lama akan menjadi kebiasaan," ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Tito juga berterima kasih atas kepedulian para pemerintah daerah terhadap bencana Gempa Bumi di Nusa Tenggara Timur.
"Salah satunya Provinsi Jawa Timur. Saya tahu Ibu Khofifah bertruk-truk itu bantuannya kirim kesana. Inilah solidaritas kita, saling peduli terhadap daerah yang terjadi bencana diharapkan menjadi tradisi bagi kita semua karena sangat bermanfaat. Teruslah bekerja dan memberikan manfaat bagi masyarakat kita," pungkasnya.
Sebagai informasi, slain Pemprov Jatim, sejumlah pemerintah kabupaten/kota di Jawa Timur juga menorehkan prestasi dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 pada berbagai kategori.
Pada Kategori Kota dengan Implementasi Program 3 Juta Rumah, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Madiun, dan Kota Surabaya menjadi perwakilan Jawa Timur yang meraih penghargaan.
Sementara pada Kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan, Kota Mojokerto berhasil meraih Terbaik I dan Kota Surabaya Terbaik III.
Pada Kategori Akses Penduduk terhadap Layanan Pendidikan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan, Kota Blitar, dan Kota Madiun turut menjadi daerah berprestasi dari Jawa Timur.
Sedangkan pada Kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri, sejumlah daerah di Jawa Timur juga berhasil masuk jajaran pemenang, yakni Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kota Blitar, dan Kota Surabaya.
(akn/ega)

















































