Dituding Rasis, Converse Minta Maaf dan Tarik Iklan Sepatu

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan sepatu kets Converse menarik sebuah iklan media sosial yang menampilkan penyanyi K-pop Karina setelah materi promosi tersebut memicu kecaman terkait dugaan penggunaan simbol-simbol yang diasosiasikan dengan Ku Klux Klan (KKK) dan praktik hukuman mati tanpa pengadilan (lynching).

Melansir CNN, iklan yang menjadi sorotan itu menampilkan Karina, anggota grup K-pop aespa, mengenakan rok putih sambil memegang sepasang sepatu Converse Chuck 70 X. Sejumlah pengguna media sosial menilai pencahayaan dan komposisi visual dalam foto tersebut membentuk citra yang menyerupai tudung kepala anggota KKK.

Selain itu, posisi sepatu yang dipegang Karina dianggap oleh para kritikus menyerupai kaki korban hukuman mati tanpa pengadilan yang tergantung. Interpretasi tersebut memicu perdebatan luas mengenai sensitivitas rasial dalam industri periklanan dan proses persetujuan materi promosi perusahaan.

Converse Sampaikan Permintaan Maaf

Menanggapi kontroversi tersebut, Converse, merek yang dimiliki Nike dan berbasis di Boston, Amerika Serikat, menyampaikan permintaan maaf serta mengonfirmasi bahwa iklan tersebut telah dihapus dari berbagai saluran komunikasinya.

"Kami memohon maaf. Kami memahami mengapa gambar ini sangat meresahkan dan mengakui bahwa kami telah melakukan kesalahan," demikian pernyataan Converse yang pertama kali dirilis pada Jumat.

"Kami telah menghapusnya dari saluran-saluran kami dan sedang berupaya menghapusnya dari semua tempat di mana gambar tersebut sempat muncul. Hal ini seharusnya tidak terjadi, dan kami akan melakukan perbaikan ke depannya."

Bukan Kasus Pertama Industri Mode

[Gambas:Instagram]

Kontroversi yang menimpa Converse menambah daftar panjang merek fesyen dan peritel besar yang menghadapi kritik akibat produk atau materi promosi yang dianggap tidak sensitif terhadap persoalan rasial.

Pada Agustus 2026, peritel Target juga menarik kostum Halloween anak-anak dari peredaran setelah menuai kecaman di media sosial. Para kritikus menilai pakaian tersebut membangkitkan ingatan terhadap karikatur rasis minstrel. Target kemudian menyampaikan permintaan maaf.

Rangkaian insiden ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai pentingnya pemahaman sejarah, budaya, dan konteks sosial dalam proses pengembangan kampanye pemasaran global.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |