Jakarta, CNBC Indonesia - PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) berencana mengakuisisi aset tambang di Mongolia seiring masuknya Poh Group sebagai pemegang saham utama sekaligus pengendali perseroan.
Direktur NINE, Nuzwan Gufron menjelaskan, proses akuisisi aset akan dilakukan sepenuhnya melalui skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) alias rights issue. Dengan kata lain, akuisisi ini tidak melibatkan kas internal atau pembiayaan perbankan atau pihak ketiga.
"Perseroan berencana untuk melakukan Pernyataan Pendaftaran PMHMETD selambatnya pada kuartal II -2026," ujar Nuzwan, seperti dikutip dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/1/2026).
Nuzwan mengatakan, injeksi aset tambang di Mongolia ke dalam NINE menjadi fokus utama Poh Group. Sementara itu, untuk rencana akuisisi tambang batu bara di Indonesia masih dikaji.
"Poh akan menyampaikan kembali jika terdapat progress terkait akuisisi aset tambang di Indonesia yang akan disampaikan sesuai dengan peraturan yang berlaku," ujarnya.
Sebelumnya, NINE mengamankan hak ops i untuk mengakuisisi aset tambang di Mongolia untuk 12 bulan ke depan. Aset -aset tersebut saat ini dimiliki oleh Poh Golden Ger Resources Pte Ltd yang terafiliasi dengan pengendali.
Nilai indikatif aset tersebut sekitar US$100 juta atau Rp1,6 triliun meski penilaian independen masih diperlukan untuk menentukan harga final. PGGR saat ini mengoperasikan tambang terbuka (open pit mines) dan tambang bawah tanah (underground mines) dengan aset mencapai US$500 juta dan lebih dari 1.000 karyawan.
(ayh/ayh)
[Gambas:Video CNBC]


















































