Pejabat AS Ungkap Trump 'Gagal' Kuasai Iran, Sekarang Targetkan Ini

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah militer ekstrem untuk menyita pusat ekspor minyak lepas pantai utama milik Iran, yakni Pulau Kharg. Kabar yang dilansir dari Axios berdasarkan sumber pejabat Amerika Serikat yang mengetahui diskusi tersebut menyebutkan bahwa operasi ini kemungkinan besar akan memerlukan pengerahan pasukan darat di wilayah tersebut pada Senin, (16/03/2026).

Rencana penyitaan ini muncul sebagai opsi strategis di meja kerja Gedung Putih seiring dengan kebuntuan konflik di Timur Tengah. Seorang sumber pejabat Amerika Serikat mengungkapkan kepada Axios bahwa posisi Trump saat ini sangat bergantung pada kelancaran arus komoditas di kawasan Teluk.

"Trump tidak akan bisa mengakhiri perang, bahkan jika dia menginginkannya, selama blokade tetap ada dan pengiriman dari wilayah tersebut dibatasi," ujar sumber tersebut, yang juga dikutip Russia Today.

Hingga saat ini, Donald Trump dikabarkan belum mengetuk palu terkait keputusan final penyitaan Pulau Kharg tersebut. Seorang pejabat senior Gedung Putih mengonfirmasi kepada Axios bahwa sang presiden masih menimbang secara mendalam segala konsekuensi dari operasi militer besar-besaran ini.

"Presiden sedang mempertimbangkan potensi risiko besar dan imbalan besar, namun dia tidak akan menunggu dan membiarkan orang-orang Iran mendikte kecepatan konflik," tegas pejabat senior Gedung Putih tersebut.

Fokus Amerika Serikat saat ini tertuju pada Pulau Kharg yang terletak di bagian utara Teluk Persia, lepas pantai Iran. Pulau seluas 20 kilometer persegi ini merupakan infrastruktur paling vital bagi Teheran karena memiliki fasilitas penyimpanan dengan kapasitas sekitar 30 juta barel dan bertanggung jawab memproses sekitar 90% dari seluruh ekspor minyak mentah Iran.

Ketegangan di pulau tersebut sebenarnya sudah mendidih sejak Sabtu malam lalu. Trump mengklaim bahwa pasukan militer Amerika Serikat telah bergerak dan berhasil menghancurkan seluruh sasaran yang ada di sana.

"Pasukan Amerika Serikat telah melenyapkan setiap target militer di pulau tersebut dan seluruhnya telah hancur," kata Trump.

Namun, klaim sepihak dari Washington tersebut langsung mendapatkan bantahan keras dari pihak Teheran. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa tidak ada satu pun fasilitas infrastruktur minyak di pulau tersebut yang mengalami kerusakan akibat serangan Amerika Serikat.

Di balik rencana penyitaan pulau, sumber-sumber Axios juga menyebutkan bahwa Trump tengah berupaya membentuk koalisi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur ini sangat krusial karena mengangkut seperlima dari pasokan minyak dan gas harian dunia, namun saat ini efektif tertutup akibat rentetan serangan Amerika Serikat-Israel yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 warga sipil Iran.

Kondisi keamanan yang memburuk ini telah mengirim guncangan hebat ke pasar energi global. Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak hampir 50% hingga menyentuh angka US$ 120 (Rp 2 juta) per barel setelah IRGC memperingatkan bahwa kapal-kapal dari negara musuh dilarang melintasi selat tersebut.

(tps/tps)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |