Defisit Transaksi Berjalan Tembus $12,5 M, Ekonomi RI Baik-Baik Saja?

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Defisit transaksi berjalan Indonesia membengkak pada kuartal II-2026, hingga menembus level US$12,5 miliar atau setara 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB), dari kuartal I-2026 defisitnya US$3,6 miliar atau setara 0,97% PDB.

Kalangan ekonom menganggap, kondisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) ini disebabkan aktivitas eksternal ekonomi Indonesia yang mulai mengalami tekanan, khususnya dari sisi neraca perdagangan.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, pemburukan ini didorong oleh pelebaran defisit perdagangan migas, penyempitan surplus perdagangan non-migas, serta pembengkakan defisit pendapatan primer.

"Neraca perdagangan melemah di tengah tingginya impor minyak dan kuatnya permintaan impor domestik," kata pria yang akrab disapa Asmo itu, Jumat (21/8/2026).

Defisit perdagangan migas ia katakan telah melebar seiring dengan meningkatnya impor minyak di tengah tingginya harga minyak dunia. Sementara itu, surplus perdagangan non-migas menyempit, mencerminkan peningkatan impor non-migas untuk memenuhi aktivitas ekonomi domestik yang masih kuat.

"Bank Indonesia menilai bahwa beberapa faktor penyebab pelebaran defisit transaksi berjalan ini bersifat sementara," ujar Asmo.

Ia juga menegaskan, pendapatan primer memberikan tekanan tambahan pada transaksi berjalan. Defisit pendapatan primer meningkat sejalan dengan meningkatnya pembayaran pendapatan primer, sementara surplus pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan dengan Kuartal I-2026.

Dua tekanan itu sebetulnya kata Asmo terkompensasi oleh arus modal dan transaksi finansial yang membaik secara signifikan. Transaksi modal dan finansial mencatatkan surplus sebesar US$12,0 miliar pada kuartal II-2026, membalikkan posisi dari defisit sebesar US$4,8 miliar pada kuartal I-2026.

Investasi langsung mencatatkan surplus yang lebih tinggi, didukung oleh persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik Indonesia. Investasi portofolio juga mencatatkan surplus yang lebih tinggi di tengah imbal hasil instrumen keuangan domestik yang lebih menarik, sementara defisit pada investasi lainnya menyempit.

Bagi Asmo, dengan perkembangan itu, defisit transaksi berjalan ke depannya cenderung akan menyempit, didukung oleh membaiknya prospek ekspor di tengah kenaikan harga komoditas global, termasuk komoditas ekspor utama Indonesia, serta dampak positif dari penurunan tarif timbal balik (reciprocal tariffs) AS.

Sementara itu, transaksi modal dan finansial diperkirakan tetap mencatatkan surplus, didukung oleh berlanjutnya arus masuk modal asing, imbal hasil domestik yang menarik, dan prospek ekonomi Indonesia yang positif," tegasnya.

Potensi Defisit Makin Lebar

Pandangan berbeda disampaikan oleh Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank, Faisal Rachman. Ia mengatakan, tim ekonomi Bank Permata justru memperkirakan defisit transaksi berjalan ke depannya masih akan berpotensi melebar.

"Kami memperkirakan CAD Indonesia akan membesar pada tahun 2026, didorong oleh impor yang lebih tinggi di bawah agenda pemerintah yang pro-pertumbuhan serta pelemahan ekspor di tengah lesunya permintaan global dan ketegangan geopolitik serta perdagangan yang berlanjut," ucap Faisal.

Pembengkakan CAD bahkan ia anggap akan berpotensi menekan neraca pembayaran Indonesia yang sebetulnya membaik pada kuartal II-2026, dari defisit US$ 9,15 miliar menjadi US$ 880 juta.

"Terutama karena arus modal masuk transaksi finansial masih berada dalam tekanan di tengah tingginya ketidakpastian global yang memicu sikap kecenderungan menghindari risiko (risk-off)," tuturnya.

Dari sisi transaksi berjalan, Faisal melihat adanya risiko penurunan pada neraca barang Indonesia, yang utamanya didorong oleh agenda kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan ini diperkirakan akan menjaga permintaan domestik dan mendorong pertumbuhan impor yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, melemahnya permintaan global, khususnya dari Tiongkok, serta ketegangan geopolitik yang berlanjut di Timur Tengah dan perang dagang global dapat menekan kinerja ekspor.

"Perkembangan ini juga berpotensi mengganggu rantai pasok global dan makin membatasi pertumbuhan ekspor. Kami akan terus memantau dinamika ini dan menilai dampaknya terhadap posisi eksternal Indonesia," tuturnya.

Oleh karena itu, Faisal mengatakan, tim ekonom Bank Permata memproyeksikan CAD akan membengkak menjadi 2,5-3,0% dari PDB pada tahun 2026, dari 0,11% dari PDB pada tahun 2025.*

Proyeksi itu turut memperhitungkan sisi transaksi finansial, mulai dari arus modal portofolio yang diperkirakan tetap rentan terhadap ketidakpastian global maupun domestik, meskipun terdapat sedikit perbaikan pada sentimen investor menyusul keputusan MSCI untuk mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai emerging market, serta keputusan S&P yang mempertahankan prospek stabil.

Tekanan dari sisi global, ia tegaskan juga masih menjadi risiko terhadap kondisi CAD, terutama karena ketidakpastian seputar perkembangan geopolitik di Timur Tengah terus membayangi arah kebijakan The Fed, mengingat tingginya harga energi dapat menahan inflasi AS di atas target 2% dalam jangka waktu yang lebih lama.

Hal ini dapat memperkuat sentimen risk-off dan membatasi arus modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap defisit ganda (twin deficits) Indonesia bahkan juga meningkat, mencerminkan risiko pelebaran CAD dan defisit fiskal yang lebih besar di bawah kerangka kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan serta ketergantungan yang makin tinggi pada kebijakan fiskal sebagai mesin utama pertumbuhan dan penahan gejolak ekonomi (shock absorber).

"Di tengah kondisi ini, sentimen investor diperkirakan tetap berhati-hati. Oleh karena itu, arus masuk investasi portofolio diproyeksikan tetap terbatas, sementara nilai tukar Rupiah berpotensi tetap fluktuatif dan Bank Indonesia diperkirakan akan terus memanfaatkan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas mata uang dalam jangka pendek hingga menengah," tuturnya.

Faisal menuturkan, dalam jangka menengah hingga panjang, keberlanjutan arus modal masuk akan bergantung pada efektivitas implementasi reformasi struktural yang bertujuan memperkuat fundamental makroekonomi Indonesia, meningkatkan keyakinan investor, dan membenahi iklim investasi.

Faktor eksternal, termasuk dinamika ketegangan perdagangan global dan risiko geopolitik, juga akan tetap menjadi pendorong utama dinamika arus modal.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |