Dalam Hitungan Jam, Dunia Bisa Berubah Total: Ini 5 Sinyal The Fed

1 hour ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 September 2026 16:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dunia kembali menantikan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed), yang akan diumumkan pada Rabu (16/9/2026) waktu AS atau Kamis (17/9/2026) dini hari waktu Indonesia.

Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 15-16 September 2026 tersebut menjadi pertemuan ketiga yang dipimpin Kevin Warsh sejak resmi menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed pada Mei lalu.

FOMC kali ini sekaligus akan menjadi ujian terbesar bagi Kevin Warsh.

Dalam dua rapat sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, keputusan kali ini diperkirakan akan berbeda.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang lebih dari 90% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Jika perkiraan tersebut terbukti, suku bunga acuan akan naik menjadi 3,75%-4,00%.

Peluang tersebut meningkat tajam dari sekitar 60% pada lalu. Perubahan yang berlangsung dalam waktu singkat menunjukkan betapa cepatnya pandangan pasar terhadap kebijakan The Fed bergeser.

Meski hasilnya terlihat semakin mudah diperkirakan, FOMC September tetap menyimpan banyak hal yang perlu dicermati. Keputusan kali ini dapat menjadi titik penting bagi arah kebijakan moneter AS.

Lantas, apa saja yang paling dinantikan pasar dari FOMC September?

CNBC Indonesia telah merangkum setidaknya ada lima hal yang akan menjadi perhatian utama pelaku pasar:

1. Keputusan Suku Bunga

Perhatian pertama tentu tertuju pada keputusan suku bunga. The Fed akan memilih antara mempertahankan bunga di kisaran 3,50%-3,75% atau menaikkannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.

Jika sesuai dengan ekspektasi pasar yang cukup yakin suku bunga akan dinaikkan, langkah tersebut akan menjadi kenaikan bunga pertama The Fed sejak Juli 2023. Keputusan itu juga menjadi perubahan suku bunga pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Pilihan untuk mempertahankan bunga memang belum tertutup. Namun, keputusan tersebut dapat mengejutkan pasar karena sangat berbeda dari perkiraan yang sudah terbentuk.

Ekonom Scotiabank Derek Holt menilai besarnya ekspektasi pasar turut mempersempit pilihan The Fed.

"Jika suku bunga tidak dinaikkan ketika pasar sudah memperkirakannya, lalu kapan?" ujar Holt, dikutip dari Reuters.

2. Pandangan Warsh terhadap Lonjakan Harga Minyak

Selain keputusan suku bunga, perhatian selanjutnya ada pada pandangan Kevin Warsh mengenai lonjakan harga minyak.

Harga minyak Brent kembali mendekati US$110 per barel setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas yang bahkan eskalasinya semakin luas. Kenaikan tersebut terjadi hanya dalam hitungan hari menjelang rapat FOMC.

Lonjakan minyak dapat membuat upaya The Fed menurunkan inflasi menjadi semakin sulit. Hal ini penting untuk melihat seberapa khawatirnya The Fed terhadap meningkatnya harga minya, untuk membaca pola kebijakan The Fed ke depannya. 

Menaikkan suku bunga memang tidak akan langsung membuat harga minyak turun. Kebijakan tersebut hanya dapat menahan permintaan dan mencegah kenaikan biaya energi menyebar semakin luas.

Karena itu, pasar akan mencermati apakah Warsh melihat lonjakan minyak sebagai gangguan sementara atau sebagai awal dari tekanan harga yang lebih panjang.

Warsh sebelumnnya sempat memberikan sedikit petunjuk dalam pidatonya di Jackson Hole pada 28 Agustus 2026.

"Kenaikan harga komoditas secara keseluruhan belakangan ini juga perlu diperhatikan," ujar Warsh.

3. Cara The Fed Membawa Inflasi Kembali ke 2%

Pasar juga menunggu penjelasan Warsh mengenai cara The Fed membawa inflasi kembali menuju target 2%.

Seperti diketahui, data terkini menunjukkan tekanan harga di AS belum juga mereda. Inflasi konsumen masih naik 0,4% secara bulanan pada Agustus, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Juli.

Meskipun secara tahunan, inflasi konsumen masih bertahan di level 3,4%. Sementara inflasi inti yang tidak memasukkan harga makanan dan energi naik 0,3% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan.

Tekanan yang lebih besar terlihat dari indeks harga personal consumption expenditures (PCE), ukuran inflasi yang paling diperhatikan The Fed.

Inflasi PCE mencapai 3,7% secara tahunan pada Juli, sedangkan core PCE berada di level 3,3%. Keduanya masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%.

Masalahnya, kenaikan harga juga tidak hanya terjadi pada beberapa kelompok barang. Dalam pidatonya di Jackson Hole, Warsh mengatakan 54% barang dan jasa dalam perhitungan PCE mengalami kenaikan harga lebih dari 3% sepanjang setahun terakhir.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi telah menyebar cukup luas dan tidak hanya berasal dari makanan atau energi.

"Target stabilitas harga The Fed sebesar 2%, yang diukur menggunakan indeks harga PCE, bersifat tegas dan tetap," ujar Warsh dalam pidatonya pada 28 Agustus 2026.

Warsh juga menegaskan bahwa The Fed harus yakin inflasi bergerak menuju target secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Jika tidak, bank sentral masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan.

Pasar pun menunggu seperti apa pekerjaan tersebut akan dijalankan. Apakah satu kali kenaikan bunga dinilai cukup, berapa lama bunga perlu bertahan di level tinggi, serta perkembangan data apa yang dibutuhkan sebelum The Fed menghentikan pengetatan.

Jawaban Warsh akan menentukan apakah kenaikan bunga pada September menjadi langkah yang berdiri sendiri atau awal dari upaya yang lebih panjang untuk mengembalikan inflasi ke level 2%.

4. Dot Plot dan Sikap Berbeda Kevin Warsh

Keputusan September hanya menjawab langkah The Fed saat ini. Untuk mengetahui arah berikutnya, pasar akan melihat dot plot terbaru.

Dot plot merupakan kumpulan perkiraan pejabat The Fed mengenai posisi suku bunga pada akhir tahun. Dalam proyeksi Juni, posisi tengahnya berada di level 3,8%, yang menggambarkan satu kali kenaikan bunga sepanjang 2026.

Jika bunga dinaikkan menjadi 3,75%-4,00% pada September, perkiraan tersebut telah terpenuhi. Pasar pun akan melihat apakah dot plot terbaru masih membuka ruang bagi kenaikan berikutnya.

Dot plotDot plot Foto: The Fed

Namun, ada hal menarik di balik dot plot kali ini. Kevin Warsh justru dikenal tidak menyukai cara The Fed memberikan proyeksi suku bunga.

Pada FOMC Juni, Warsh mendorong pejabat lain tetap menyerahkan proyeksinya, tetapi memilih tidak memasukkan perkiraan pribadinya.

"Saya tidak memberikan proyeksi sendiri, sesuai dengan pandangan saya sejak lama terhadap bentuk SEP saat ini," ujar Warsh.

Menurut Warsh, proyeksi suku bunga dapat membuat pasar terlalu bergantung pada petunjuk The Fed. Padahal, arah kebijakan bisa berubah ketika kondisi ekonomi ikut berubah.

5. Seberapa Kompak Pejabat The Fed?

Keputusan suku bunga menunjukkan langkah yang diambil The Fed. Namun, hasil pemungutan suara memperlihatkan seberapa kuat dukungan di balik keputusan tersebut.

Pada FOMC Juli, The Fed mempertahankan suku bunga. Keputusan itu ditentang oleh tiga pejabat, yakni Beth Hammack, Lorie Logan, dan Neel Kashkari, yang menginginkan kenaikan sebesar 25 basis poin.

Perbedaan suara tersebut menunjukkan dorongan untuk menaikkan bunga sudah muncul sejak Juli. Setelah tekanan harga kembali meningkat, dukungan terhadap kenaikan diperkirakan semakin besar.

Pasar kini akan melihat apakah kenaikan September disetujui secara bulat atau masih ditentang oleh pejabat yang ingin menunggu lebih lama.

Jika keputusan diambil secara bulat, The Fed memberikan pesan kuat bahwa para pejabat memiliki kekhawatiran yang sama terhadap inflasi. Peluang kenaikan berikutnya pun dapat tetap terbuka.

Sebaliknya, munculnya suara yang menginginkan bunga tetap menunjukkan perdebatan belum berakhir. Kondisi tersebut dapat memperkuat pandangan bahwa kenaikan September hanya menjadi langkah satu kali, bukan awal dari rangkaian kenaikan baru.

Sebagai informasi, The Fed bukan satu-satunya bank sentral yang menghadapi tekanan untuk memperketat kebijakan. Sejumlah bank sentral dunia telah lebih dahulu menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan terakhir.

Selandia Baru dan Korea Selatan menjadi contoh dengan menaikkan bunga masing-masing secara kumulatif sebesar 50 basis poin sejak awal semester II-2026. Islandia dan Filipina menambah suku bunga sebesar 25 basis poin, sedangkan European Central Bank menaikkan bunga pada September dan segera diikuti oleh Denmark.

Jika The Fed ikut menaikkan bunga, AS akan menambah panjang daftar negara yang kembali memperketat kebijakan untuk menghadapi tekanan inflasi.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |