Banyak Kebijakan dan Aturan Baru di Juni, Bisakah IHSG dan Rupiah Bangkit?

6 hours ago 3
  • Pasar keuangan Indonesia kompak melemah pada perdagangan terakhir pekan lalu
  • Wall Street pesta di tengah melonjaknya saham teknologi
  • Perkembangan perang dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini dan sepanjang pekan ke depan

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada perdagangan pekan lalu. Bursa saham dan rupiah sama-sama ambruk.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bangkit mulai Juni ini atau awal pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan Indonesia hari ini dan sepanjang pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026) setelah sempat melesat pada sesi pertama.

IHSG yang sempat naik 87,69 poin atau 1,43% ke level 6.217,88 akhirnya ditutup melemah tipis 2,8 poin atau 0,05% ke posisi 6.127,38.

Koreksi tersebut memperpanjang pelemahan yang sudah terjadi sejak perdagangan sebelum libur Idul Adha.

Aktivitas perdagangan pada Jumat berlangsung sangat ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp50,15 triliun, volume 47,21 miliar saham, dan frekuensi 2,38 juta kali transaksi, menjadikannya salah satu yang terbesar dalam sejarah Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data Refinitiv, sektor infrastruktur, barang baku, dan teknologi memimpin penguatan, sementara konsumer finansial dan properti menjadi sektor yang paling tertekan.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (29/5/2026), di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda terparkir di level terendah sepanjang masa terbaru di Rp17.865/US$ atau terdepresiasi 0,51%.

Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren koreksi rupiah dalam lima hari perdagangan beruntun.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.800/US$ hingga Rp17.885/US$. Posisi tersebut membuat rupiah semakin mendekati level psikologis berikutnya di Rp17.900/US$.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan yang masih besar terhadap mata uang Garuda. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai rupiah saat ini berada dalam fase overshooting, yakni ketika pelemahannya bergerak lebih dalam dibandingkan kondisi yang dijustifikasi oleh fundamental jangka panjang Indonesia.

Ia menjelaskan, dalam kondisi normal, ketika harga energi global naik, tekanan biasanya muncul di beberapa sisi sekaligus, mulai dari inflasi, fiskal, harga domestik, hingga nilai tukar.

Namun, ketika penyesuaian domestik dilakukan sangat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli, beban tekanan akhirnya lebih banyak berpindah ke rupiah. Dari eksternal, pergerakan dolar AS di pasar global juga masih menjadi perhatian pasar. Dolar AS bergerak cukup hati-hati pada perdagangan Jumat ini, seiring meredanya permintaan terhadap aset aman setelah muncul kembali optimisme terkait potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Meski demikian, rupiah belum mampu keluar dari tekanan dan tetap ditutup melemah ke level terendah sepanjang masa terbaru.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun menanjak ke 6,716% pada Jumat pekan lalu, dari 6, 709% pada hari sebelumnya. Kenaikan imbal hasil ini menandai adanya aksi jual SBN sehingga harga turun dan imbal hasil naik.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |